
Online Scam - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital dan pembayaran digital di Asia Tenggara masih berada pada level tinggi. Temuan ini menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital, meski perlindungan data pribadi dan keamanan siber tetap menjadi tantangan yang harus dijawab.
Hal itu terungkap dalam Southeast Asia Consumer Tech Trust Score yang diselenggarakan Vero Indonesia bersama Kadence International. Survei tersebut mencatat teknologi perbankan dan pembayaran digital memperoleh skor kepercayaan rata-rata 81,7, tertinggi dibandingkan berbagai kategori teknologi lainnya.
Strategist Vero Indonesia, Fuad Arrasyid, mengatakan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital perlu diimbangi dengan penguatan ekosistem ekonomi digital, peningkatan inklusi keuangan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab.
Menurutnya, bagi konsumen Indonesia, transparansi perusahaan, rekam jejak yang baik, serta penanganan insiden secara terbuka menjadi faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan.
"Khususnya untuk Indonesia, terlihat jelas bahwa transparansi, rekam jejak yang teruji, dan penanganan insiden yang akuntabel sangat menentukan tingkat kepercayaan konsumen. Komunikasi menjadi penting karena dapat menjembatani inovasi dan kepercayaan publik, sehingga harapan pada teknologi dapat menjadi kenyataan secara berkelanjutan," kata Fuad dalam keterangannya, Sabtu.
Survei tersebut melibatkan 3.000 responden dari enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Penelitian mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap 10 kategori teknologi, mulai dari penyimpanan komputasi awan (cloud storage), keamanan siber, e-commerce, pembayaran digital, kecerdasan buatan generatif, aplikasi pesan instan, perbankan digital, transportasi daring, media sosial, hingga layanan telekomunikasi.
Kebocoran Data Jadi Kekhawatiran Utama
Meski tingkat kepercayaan tinggi, konsumen Indonesia menunjukkan sikap tegas apabila terjadi insiden keamanan. Sebanyak 42% responden menyatakan akan berhenti menggunakan layanan perbankan digital jika terjadi kasus serius seperti kebocoran data atau penipuan daring. Sementara itu, 25% responden akan meninggalkan layanan pembayaran digital dalam kondisi serupa.
Di Malaysia, angkanya juga cukup tinggi, yakni 40% untuk layanan perbankan digital dan 20% untuk pembayaran digital.
Survei juga menemukan 49,5% responden Indonesia menganggap penyalahgunaan data pribadi sebagai kekhawatiran terbesar saat menggunakan layanan digital. Selain itu, 79% responden memasukkan penipuan daring sebagai salah satu ancaman utama yang mereka khawatirkan.
Meski demikian, mayoritas masyarakat masih memberikan kesempatan kepada penyedia layanan untuk memperbaiki keadaan. Sebanyak 54% responden menyatakan hanya akan menghentikan penggunaan layanan untuk sementara hingga masalah berhasil diselesaikan. Adapun 43% responden menilai rekam jejak perusahaan menjadi indikator utama dalam menentukan apakah sebuah layanan teknologi layak dipercaya.
Executive Account Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, mengatakan kebocoran data kini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi telah menjadi ujian terhadap kredibilitas perusahaan, khususnya di sektor keuangan yang mengelola informasi pribadi dan aset masyarakat.
"Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen semakin menilai perusahaan dari cara mereka merespons krisis, bukan semata dari kualitas produk atau layanan yang ditawarkan. Membangun kembali kepercayaan tidak cukup melalui pernyataan resmi, tetapi harus disertai transparansi, langkah perbaikan yang nyata, serta melibatkan pihak independen yang kredibel," ujarnya.
Kepercayaan Jadi Modal Ekonomi Digital
Director Kadence International, Ashutosh Awasthi, menilai keberhasilan perusahaan teknologi tidak lagi hanya diukur dari jumlah pengguna, tetapi juga tingkat kepercayaan yang mampu dipertahankan.
Menurutnya, perusahaan harus memastikan konsumen tetap yakin menggunakan layanan mereka meski risiko, ekspektasi, maupun persaingan terus berubah.
Hasil survei itu menunjukkan bahwa di tengah pesatnya transformasi digital di Asia Tenggara, kepercayaan publik menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan inovasi teknologi. Karena itu, perusahaan perlu memperkuat transparansi dan perlindungan data, sementara pemerintah didorong menghadirkan regulasi yang jelas agar pertumbuhan ekonomi digital berlangsung secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































