Kenaikan IKI Dinilai Belum Cukup Menandai Bangkitnya Manufaktur

4 hours ago 2

Kenaikan IKI Dinilai Belum Cukup Menandai Bangkitnya Manufaktur

Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2)./Bisnis.com-NH

Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menjadi 53,10 pada Juli 2026 dinilai belum dapat dijadikan indikator bahwa sektor manufaktur nasional telah pulih. Meski kembali menguat setelah melemah pada bulan sebelumnya, peningkatan tersebut disebut lebih mencerminkan pemulihan teknikal dibandingkan perubahan tren yang nyata.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan IKI Juli hanya naik 0,20 poin dari posisi Juni sebesar 52,90. Sebelumnya, indeks tersebut turun dari level 53,56 pada Mei menjadi 52,90 pada Juni, sehingga kenaikan pada Juli baru menutup sebagian pelemahan yang terjadi.

"Angka IKI Juli ini menarik karena bergerak berlawanan dengan beberapa indikator manufaktur lain pada periode yang sama. Karena itu, saya melihatnya secara hati-hati dan tidak menganggapnya sebagai sinyal bahwa sektor manufaktur sudah benar-benar pulih," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Menurut Yusuf, IKI merupakan survei kepercayaan pelaku usaha sehingga lebih menggambarkan persepsi dan ekspektasi dibandingkan realisasi aktivitas produksi.

"Jadi, kenaikan tipis ini menunjukkan sentimen yang mulai stabil, tetapi belum cukup menjadi bukti perubahan tren," katanya.

Ia menyoroti kondisi ketika 22 dari 23 subsektor industri berada pada fase ekspansi, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia masih bertahan di zona kontraksi.

Menurut Yusuf, perbedaan itu muncul karena kedua indikator mengukur aspek yang berbeda. IKI lebih mencerminkan optimisme pelaku usaha di berbagai subsektor, sedangkan PMI lebih sensitif terhadap perkembangan pesanan baru, output, hingga penyerapan tenaga kerja.

"Dengan kondisi tersebut, saya melihat ekspansi yang terjadi lebih mencerminkan meluasnya optimisme dibandingkan perbaikan kinerja riil secara merata," jelasnya.

Yusuf menambahkan optimisme pelaku industri hingga kini masih ditopang permintaan domestik serta berbagai insentif pemerintah, bukan oleh penguatan permintaan ekspor.

Dominasi subsektor industri minuman serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer sebagai penyumbang IKI tertinggi menunjukkan konsumsi dalam negeri masih menjadi motor utama aktivitas manufaktur.

Sebaliknya, permintaan dari pasar global dinilai masih lemah sehingga belum menjadi sumber pertumbuhan yang kuat bagi industri pengolahan. Di sisi lain, kontraksi pada subsektor industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki menunjukkan tekanan terhadap industri padat karya masih berlanjut.

Menurut Yusuf, industri tersebut memiliki margin usaha yang relatif tipis, bergantung pada bahan baku impor, serta menghadapi persaingan ketat dari produk impor berharga murah.

"Karena itu, meskipun sebagian besar subsektor berada di zona ekspansi, sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar masih menghadapi tantangan struktural," tegasnya.

Ia juga menilai arah berbagai indikator manufaktur belum sepenuhnya menunjukkan konsistensi. Meski realisasi investasi masih mencatat tren positif, investasi lebih mencerminkan komitmen modal untuk kegiatan di masa mendatang daripada kondisi produksi saat ini. Sementara itu, PMI masih mengindikasikan pelemahan aktivitas manufaktur.

"Artinya, membaca kondisi industri hanya dari IKI berisiko menghasilkan kesimpulan yang terlalu optimistis," sebutnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian mencatat IKI Juli 2026 berada di level 53,10 atau naik 0,20 poin dibandingkan Juni yang sebesar 52,90. Sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan berada pada fase ekspansi dengan kontribusi mencapai 98,6 persen terhadap PDB nonmigas.

Kementerian Perindustrian juga mencatat subsektor dengan kinerja terbaik berasal dari industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, serta industri minuman. Adapun satu-satunya subsektor yang masih mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki akibat melemahnya permintaan ekspor serta meningkatnya biaya logistik internasional.

Selain itu, sebanyak 77,9% responden menyatakan kegiatan usahanya membaik maupun stabil, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, tingkat pesimisme pelaku usaha terhadap kondisi enam bulan mendatang turun menjadi 7,0%, meskipun tingkat optimisme juga sedikit terkoreksi menjadi 67,8%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |