
Ilustrasi vaksinasi pada anak SD- Antara
Harianjogja.com, Bantul— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mulai memperkuat pencegahan rubella melalui pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sejak Agustus 2026. Langkah tersebut dilakukan setelah jumlah kasus rubella di Bantul meningkat sepanjang tahun ini, meski dipastikan tidak saling berkaitan secara epidemiologis.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan vaksin Measles Rubella (MR) akan diberikan kepada bayi, baduta, hingga anak sekolah dasar sesuai jadwal imunisasi nasional. Distribusi vaksin ke seluruh puskesmas telah dilakukan secara bertahap sebelum pelaksanaan BIAS tahap pertama.
"Distribusi vaksin BIAS dilakukan secara bertahap. Tahap pertama untuk bulan Agustus sudah dilakukan, sedangkan BIAS tahap kedua akan dilaksanakan pada November," katanya, Minggu (2/8).
Pada 2026, sasaran imunisasi MR di Bantul mencapai puluhan ribu anak. Rinciannya, sebanyak 8.410 bayi usia sembilan bulan, 9.418 anak bawah dua tahun (baduta) usia 18 bulan, serta 12.710 anak sekolah dasar yang menjadi sasaran imunisasi lanjutan melalui program BIAS.
Samsu menjelaskan vaksin MR diberikan pada usia sembilan bulan, kemudian diulang saat anak berusia 18 bulan, dan kembali diberikan ketika anak duduk di bangku sekolah dasar sebagai imunisasi lanjutan. Pemberian vaksin secara berjenjang bertujuan membentuk kekebalan tubuh yang optimal terhadap virus rubella.
Menurut dia, imunisasi rubella memiliki peran penting bukan hanya melindungi anak, tetapi juga mencegah dampak serius pada ibu hamil dan janin. Infeksi rubella saat kehamilan berisiko menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital yang dapat memicu kelainan bawaan pada bayi.
"Vaksin rubella penting untuk melindungi ibu hamil agar tidak tertular virus yang dapat berdampak fatal pada janin. Selain itu juga mencegah Sindrom Rubella Kongenital yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan kelainan jantung, gangguan pendengaran, maupun katarak bawaan," ujarnya.
Selain memberikan perlindungan individu, imunisasi juga berfungsi membangun kekebalan kelompok atau herd immunity sehingga penyebaran virus di masyarakat dapat ditekan.
Sepanjang 2026, Dinkes Bantul mencatat terdapat 35 kasus rubella. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2025 yang sebanyak 14 kasus. Meski demikian, Samsu menegaskan kenaikan angka kasus tersebut tidak memiliki keterkaitan secara epidemiologis.
"Memang terjadi kenaikan kasus, tetapi tidak ada kaitan secara epidemiologi," katanya.
Kasus rubella yang ditemukan di Bantul selama ini didominasi balita. Kelompok usia tersebut dinilai lebih rentan karena kekebalan tubuhnya belum terbentuk secara optimal, terutama apabila belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Selain belum memiliki kekebalan yang cukup, faktor lain yang meningkatkan risiko penularan ialah kontak erat dengan penderita rubella serta kondisi daya tahan tubuh yang lemah.
Samsu menjelaskan gejala rubella umumnya ditandai dengan demam yang disertai munculnya ruam makulopapular pada kulit. Karena gejalanya sering menyerupai penyakit virus lainnya, masyarakat diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila menemukan tanda-tanda tersebut.
Untuk menekan penularan, Dinkes Bantul mengimbau masyarakat memastikan anak memperoleh imunisasi MR sesuai jadwal yang telah ditetapkan, yakni pada usia sembilan bulan, 18 bulan, dan saat duduk di kelas 1 sekolah dasar.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Upaya tersebut meliputi membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk, serta mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































