Jangan Asal Memberi Minum Korban Kecelakaan, Ini Risikonya

4 hours ago 6


Harianjogja.com, JOGJA—Dalam situasi kecelakaan, masyarakat sering kali terdorong untuk segera membantu korban dengan cara yang dianggap paling sederhana, salah satunya memberikan air minum. Tindakan ini biasanya dilakukan karena korban terlihat kehausan, lemas, atau mengalami syok setelah kejadian.

Namun, para tenaga medis justru tidak menganjurkan korban kecelakaan diberi makan atau minum sebelum mendapatkan pemeriksaan dan penanganan profesional. Di balik niat baik tersebut, terdapat sejumlah risiko serius yang dapat mengancam keselamatan korban.

Berikut alasan medis mengapa korban kecelakaan sebaiknya tidak langsung diberi minum.

1. Berisiko Tersedak dan Mengalami Aspirasi

Dilansir dari Mayo Clinic, salah satu risiko terbesar adalah aspirasi, yakni kondisi ketika cairan masuk ke saluran pernapasan atau paru-paru.

Korban kecelakaan dapat mengalami penurunan kesadaran, kebingungan, cedera kepala, atau muntah akibat benturan yang dialami. Dalam kondisi tersebut, refleks menelan tidak selalu bekerja dengan baik.

Akibatnya, air yang diminum bisa masuk ke saluran napas, bukan ke lambung. Jika hal ini terjadi, korban dapat mengalami gangguan pernapasan, sumbatan jalan napas, hingga infeksi paru-paru yang serius.

Dalam dunia medis, aspirasi termasuk komplikasi berbahaya karena dapat memperburuk kondisi pasien yang sebelumnya sudah mengalami cedera akibat kecelakaan.

2. Dapat Menghambat Tindakan Medis Darurat

Korban kecelakaan berat sering membutuhkan tindakan medis segera, termasuk operasi darurat atau pembiusan (anestesi).

Sebelum menjalani prosedur tersebut, pasien umumnya harus berada dalam kondisi puasa atau tidak menerima asupan melalui mulut. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai nil per os (NPO).

Tujuannya adalah mengurangi risiko isi lambung naik kembali dan masuk ke paru-paru saat pasien dibius.

National Health Service (NHS) menyarankan, jika korban sudah terlanjur minum sebelum tiba di rumah sakit, dokter mungkin harus mempertimbangkan risiko tambahan tersebut sebelum melakukan tindakan tertentu.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat mempersulit atau memengaruhi proses penanganan yang harus dilakukan dengan cepat.

3. Tidak Menyelesaikan Masalah Utama pada Korban Syok

Pada kecelakaan serius, masalah utama yang sering terjadi adalah perdarahan atau syok akibat berkurangnya volume darah dalam tubuh.

Syok terjadi ketika organ-organ vital tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup. Kondisi ini merupakan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera.

Meski korban mungkin mengeluhkan rasa haus, memberikan air minum tidak akan mengatasi penyebab utama syok.

Hemorrhagic shoc mengungkapkan, penanganan yang dibutuhkan justru berupa penghentian perdarahan, pemberian cairan infus, transfusi darah jika diperlukan, serta stabilisasi kondisi korban oleh tenaga medis.

Karena itu, memberikan air minum tidak hanya kurang efektif, tetapi juga dapat menambah risiko komplikasi yang tidak diperlukan.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Menolong Korban Kecelakaan?

Daripada memberikan minum, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang lebih aman dan bermanfaat bagi korban kecelakaan.

1. Segera hubungi layanan darurat atau ambulans

Semakin cepat korban mendapatkan bantuan medis profesional, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius.

2. Hentikan perdarahan jika memungkinkan

Gunakan kain bersih, kasa, atau perban untuk memberikan tekanan langsung pada luka yang mengeluarkan darah.

3. Jaga korban tetap hangat

Korban kecelakaan berisiko mengalami penurunan suhu tubuh, terutama jika mengalami syok atau kehilangan darah dalam jumlah banyak.

4. Hindari memindahkan korban tanpa alasan mendesak

Apabila dicurigai terdapat cedera tulang belakang atau patah tulang, memindahkan korban secara sembarangan dapat memperparah cedera.

5. Pastikan jalan napas tetap terbuka

Jika korban muntah dan tidak dicurigai mengalami cedera tulang belakang, posisikan tubuh atau kepala secara hati-hati agar muntahan tidak menyumbat saluran napas.

6. Jangan memberi makan atau minum

Tunggu hingga tenaga medis melakukan pemeriksaan dan menentukan apakah korban aman untuk menerima asupan melalui mulut.

Niat Baik Harus Disertai Pengetahuan yang Tepat

Banyak orang memberikan minum kepada korban kecelakaan karena ingin membantu dan mengurangi penderitaan korban. Namun dalam kondisi darurat, tindakan yang tampak sederhana belum tentu aman.

Rasa haus yang dialami korban sering kali merupakan respons tubuh terhadap stres, nyeri, atau kehilangan darah, bukan tanda bahwa korban harus segera diberi minum.

Karena itu, memahami prinsip dasar pertolongan pertama menjadi sangat penting. Dengan tindakan yang tepat, masyarakat dapat membantu menjaga kondisi korban tetap stabil hingga tenaga medis tiba dan memberikan penanganan yang diperlukan.

Dalam situasi kecelakaan, pertolongan terbaik bukan selalu yang paling cepat dilakukan, melainkan yang paling aman bagi keselamatan korban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |