Jalur Baru Turkiye-Irak Dibidik Pangkas Ketergantungan Selat Hormuz

6 hours ago 5

Harianjogja.com, ANKARA—Turkiye menargetkan pembangunan koridor transportasi baru yang menghubungkan Teluk Persia dengan Eropa melalui Irak selesai dalam waktu tiga tahun sejak pekerjaan dimulai. Proyek ini diproyeksikan menjadi jalur perdagangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan logistik global terhadap Selat Hormuz yang saat ini menghadapi risiko gangguan di tengah perang Amerika Serikat melawan Iran.

Menteri Perhubungan Turkiye Abdulkadir Uraloglu mengatakan penyelesaian proyek tersebut masih dalam pembahasan. Meski estimasi awal membutuhkan waktu empat hingga lima tahun, pemerintah Turkiye tengah mengkaji percepatan pembangunan menjadi tiga tahun.

"Proyek ini bisa saja selesai dalam waktu empat hingga lima tahun, tetapi kami masih akan membahas apakah proyek itu bisa diselesaikan dalam waktu tiga tahun setelah pekerjaannya dimulai," kata Abdulkadir Uraloglu seperti dikutip surat kabar pro-pemerintah Yeni Safak pada Jumat (31/7/2026).

Proyek koridor transportasi itu mencakup pembangunan jalur kereta api, jalan tol, serta infrastruktur telepon dan energi sepanjang 1.200 kilometer dari Pelabuhan Al-Faw di Irak menuju Turki dengan sambungan lanjutan ke Eropa.

Pembangunan jalur kereta api dalam proyek tersebut diperkirakan menelan biaya hingga 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp270,5 triliun.

Turkiye dan Irak sebelumnya telah menyepakati pembangunan pos lintas batas baru di Faysh Khabur-Ovakoy serta mekanisme pendanaan proyek tersebut. Turkiye juga berupaya menyelesaikan dokumentasi teknis dan memulai pembangunan pada tahun ini.

Pemerintah Turkiye memprioritaskan pembangunan jalur kereta api untuk memastikan transportasi kargo menuju Eropa berjalan efektif sekaligus mengurangi emisi karbon.

Apabila proyek tersebut rampung, koridor transportasi baru ini diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan logistik global terhadap Selat Hormuz. Proyek berskala besar itu melibatkan Turkiye, Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Selain menjadi alternatif Selat Hormuz, Turkiye juga memproyeksikan jalur baru tersebut sebagai pintasan perdagangan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah titik rawan maritim lainnya, termasuk Kanal Suez.

Di sisi lain, negara-negara Teluk Arab mulai mengandalkan China untuk memanfaatkan pengaruh ekonominya terhadap Iran di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, sejumlah sumber di kawasan menyebut negara-negara Teluk semakin frustrasi karena perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari tidak hanya melemahkan rival regional mereka, tetapi juga mengganggu ekspor energi serta meningkatkan ancaman terhadap keamanan kawasan.

Ancaman Iran dan kelompok sekutunya terhadap jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz turut mendorong negara-negara Teluk meminta China memainkan peran diplomatik yang lebih besar. Mereka menilai konflik tersebut menunjukkan keterbatasan pengaruh Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas kawasan.

Sebagai mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak dari negara-negara Teluk, China dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong penyelesaian konflik di kawasan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah melakukan komunikasi dengan berbagai negara. Sementara itu, utusan khusus China, Zhai Jun, juga mengunjungi sejumlah ibu kota negara Teluk dan Iran guna mendorong terciptanya gencatan senjata.

"Tiongkok terus menjalin komunikasi erat dengan semua pihak serta secara konsisten berupaya menghentikan pertempuran dan mendorong perdamaian," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China menanggapi permintaan komentar.

Seorang sumber dari kawasan Teluk mengatakan hubungan ekonomi yang erat membuat isu sensitif antara negara-negara Teluk dan China dibahas melalui jalur diplomasi tertutup.

"Terdapat rasa saling menghormati yang besar antara kawasan Teluk dan Tiongkok, dan mereka merupakan mitra dagang utama, sehingga setiap persoalan dibahas dengan cara yang sangat tertutup," ujar salah satu sumber dari kawasan Teluk.

Meski demikian, Beijing hingga kini belum secara terbuka menekan Iran terkait ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana China bersedia menggunakan pengaruhnya untuk menjaga stabilitas kawasan dan kelancaran ekspor energi.

"Pihak Tiongkok berupaya untuk lebih terlibat dan lebih banyak membantu," ujar sumber kedua dari kawasan Teluk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |