Industri Kulit DIY Bidik Peluang dari Tren Wisata Wellness

6 hours ago 6

Industri Kulit DIY Bidik Peluang dari Tren Wisata Wellness

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara (dua kiri) bersama Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati (kiri) dan narasumber lainnya dalam talkshow Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY di Ndalem Kulit Jogja (NKJ), Manding, Sabdodadi, Bantul, Selasa (9/6/2026)

Harianjogja.com, BANTUL—Tren wisata wellness di DIY mulai dilirik sebagai peluang baru untuk mendongkrak daya saing industri kulit. Tidak lagi sekadar menjual produk, pelaku usaha kini didorong menawarkan pengalaman interaktif yang mampu menarik minat wisatawan, terutama generasi muda dan wisatawan mancanegara yang mencari aktivitas autentik selama berkunjung ke Yogyakarta.

Peluang tersebut mengemuka dalam Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY di Ndalem Kulit Jogja (NKJ), Manding, Sabdodadi, Bantul, pada 9-11 Juni 2026. Sebanyak 20 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) kulit yang telah memanfaatkan fasilitas mesin produksi di NKJ ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, mengatakan wisata berbasis wellness atau kebugaran saat ini menjadi salah satu segmen yang mengalami pertumbuhan pesat di pasar pariwisata global. Menurutnya, banyak aktivitas sederhana yang dianggap biasa oleh masyarakat lokal justru memiliki nilai jual tinggi di mata wisatawan asing.

Ia mencontohkan berbagai aktivitas seperti berjalan tanpa alas kaki di alam terbuka, menyusuri kawasan hutan, hingga meditasi yang kini dapat dikemas menjadi paket wisata bernilai ekonomi tinggi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa wisatawan modern semakin mencari pengalaman yang memberikan ketenangan, kedekatan dengan alam, serta ruang untuk merawat diri.

“Yang mereka cari sebenarnya adalah pengalaman dan kepedulian terhadap diri sendiri. Hal-hal yang bagi kita biasa justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi wisatawan luar negeri,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Menurut GKR Bendara, konsep wisata wellness tersebut dapat diadaptasi ke dalam industri kulit dengan menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam selama proses pembuatan produk. Aktivitas workshop kerajinan kulit dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman refleksi diri yang memberi nilai emosional bagi peserta.

Ia menjelaskan proses kreatif seperti membuat pola, mengukir, atau melakukan stamping pada bahan kulit dapat dikaitkan dengan ekspresi diri, ketenangan, hingga perjalanan personal seseorang. Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya membawa pulang produk, tetapi juga pengalaman yang berkesan.

Pendekatan berbasis pengalaman dinilai semakin relevan dengan karakter generasi milenial dan generasi Z yang lebih menyukai keterlibatan langsung dibanding sekadar menjadi penonton. Karena itu, pelaku usaha didorong mulai mengubah strategi pemasaran dari yang semula berfokus pada produk menjadi menawarkan pengalaman yang bernilai.

“Sekarang orang tidak hanya ingin belanja, tetapi juga ingin terlibat dalam proses pembuatannya. Dari situ muncul apresiasi yang lebih besar terhadap produk yang dihasilkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan industri kulit masih menjadi salah satu sektor strategis yang berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pada sektor industri kreatif.

Meski memiliki potensi besar, pelaku IKM kulit masih menghadapi sejumlah tantangan. Kendala tersebut meliputi akses pasar yang belum optimal, kebutuhan inovasi produk, penguatan jaringan kemitraan, hingga perluasan pasar ekspor.

Selain itu, pelaku usaha juga masih menghadapi hambatan dalam meningkatkan kapasitas bisnis, terutama terkait akses permodalan dan pemanfaatan teknologi produksi yang lebih modern.

Menurut Yuna, Pemerintah Daerah DIY terus berupaya memperkuat ekosistem industri kulit melalui penyediaan berbagai fasilitas produksi di Ndalem Kulit Jogja. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk sekaligus memperbesar kapasitas produksi.

“Kami terus berupaya memperkuat daya saing IKM kulit melalui dukungan fasilitas, teknologi, serta penguatan kemitraan dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Melalui Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit, Disperindag DIY berharap terbangun kolaborasi yang lebih erat antara pelaku IKM, pemerintah, komunitas industri, serta berbagai mitra strategis. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk kulit lokal.

Selain menjadi pusat pemanfaatan teknologi produksi, Ndalem Kulit Jogja diharapkan berkembang sebagai pusat penguatan ekosistem industri kulit DIY yang mampu melahirkan produk berdaya saing nasional dan internasional. Fasilitas tersebut juga diproyeksikan menjadi ruang belajar, pengembangan kreativitas, sekaligus laboratorium inovasi bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan industri kulit berbasis pengalaman dan wisata wellness di Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |