Harga Pupuk Naik, Pedagang Sleman Rela Cuan Tipis demi Petani

12 hours ago 9

Harga Pupuk Naik, Pedagang Sleman Rela Cuan Tipis demi Petani

Foto ilustrasi toko pupuk, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, SLEMAN—Kenaikan harga pupuk, obat-obatan pertanian, dan produk berbahan plastik mulai dirasakan pelaku usaha sarana pertanian di Kabupaten Sleman dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut turut berdampak pada petani yang harus menghadapi biaya produksi lebih tinggi di tengah ancaman serangan hama yang semakin kompleks.

Meski harga kulakan dari distributor terus meningkat, sejumlah pedagang memilih menekan keuntungan demi menjaga daya beli petani. Langkah ini dilakukan agar kebutuhan produksi pertanian tetap terjangkau dan aktivitas budidaya tidak terganggu.

Pemilik Toko Fajar Tani di Seyegan, Widya Lestianingsih, mengungkapkan kenaikan harga mulai terasa sejak harga plastik di pasaran mengalami peningkatan pada April 2026. Setelah itu, berbagai produk pertanian ikut mengalami penyesuaian harga.

“Kenaikan paling terasa setelah harga plastik naik. Setelah itu hampir semuanya ikut naik,” ujar Widya saat ditemui di tokonya, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, harga dari distributor hampir selalu berubah setiap kali pengambilan barang. Dalam satu bulan, toko biasanya melakukan pengadaan stok sebanyak dua kali dan hampir setiap pengambilan disertai kenaikan harga.

Widya menyebut kenaikan harga pupuk dan obat pertanian rata-rata berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp5.000 per produk. Adapun produk berbahan plastik mengalami kenaikan yang lebih tinggi, mencapai sekitar 20 persen dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, pihaknya tidak langsung membebankan seluruh kenaikan harga kepada petani. Untuk sejumlah kebutuhan pokok pertanian, margin keuntungan yang diambil sengaja diperkecil agar harga jual tetap kompetitif.

“Kami hanya mengambil margin sekitar Rp500 sampai Rp1.000 untuk beberapa produk yang paling banyak dibutuhkan petani,” katanya.

Ia mencontohkan pupuk NPK yang kini banyak dijual di pasaran sekitar Rp20.000 per kemasan. Namun di tokonya, produk tersebut masih dipasarkan pada kisaran Rp18.500 hingga Rp19.000 per kemasan.

Menurut Widya, keputusan menekan margin keuntungan dilakukan untuk membantu petani menghadapi kenaikan biaya produksi yang terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, kebutuhan modal usaha juga semakin besar. Harga satu karung pupuk NPK seberat 50 kilogram saat ini mendekati Rp900.000 per karung, sehingga ruang keuntungan pedagang semakin terbatas.

Tidak hanya menghadapi kenaikan harga sarana produksi, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.

Untuk komoditas cabai, serangan thrips dan kutu kebul menjadi ancaman yang paling sering dikeluhkan petani. Hama tersebut dapat merusak daun muda dan pucuk tanaman hingga berubah warna menjadi cokelat serta menghambat pertumbuhan.

“Kalau sudah menjadi cokelat, tanaman tidak bisa tumbuh lagi kecuali hamanya diobati,” jelas Widya.

Biaya yang harus dikeluarkan petani tidak berhenti pada pembelian pestisida. Setelah hama berhasil dikendalikan, tanaman masih membutuhkan tambahan nutrisi atau vitamin agar mampu pulih dan kembali produktif.

Salah satu produk yang banyak digunakan petani cabai adalah vitamin tanaman untuk mencegah kerontokan bunga setelah tanaman terserang penyakit maupun hama. Tanpa perawatan lanjutan tersebut, potensi hasil panen dapat menurun karena bunga gagal berkembang menjadi buah.

Akibatnya, biaya budidaya cabai menjadi semakin besar karena petani harus mengalokasikan dana untuk pembelian pestisida sekaligus nutrisi tambahan.

Ancaman serupa juga terjadi pada tanaman padi. Petani kerap menghadapi serangan wereng, walang sangit, hingga tikus yang berpotensi menurunkan produktivitas sawah.

Menurut Widya, pengendalian hama serangga relatif lebih mudah dilakukan dengan berbagai produk pestisida yang tersedia di pasaran. Namun, pengendalian tikus pada areal persawahan luas masih menjadi tantangan besar karena belum ada metode yang benar-benar efektif.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Liem Astuti, menjelaskan kenaikan harga pestisida tidak lepas dari ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Menurutnya, sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk memproduksi pestisida masih berasal dari luar negeri sehingga sangat dipengaruhi fluktuasi harga global dan nilai tukar.

“Bahan baku yang saya maksud adalah zat aktif yang digunakan untuk membuat pestisida atau obat-obatan,” kata Liem.

Kondisi tersebut membuat petani dan pelaku usaha sarana pertanian harus menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, harga kebutuhan produksi terus meningkat. Di sisi lain, ancaman hama dan penyakit tanaman menuntut perawatan yang lebih intensif agar hasil panen tetap optimal dan risiko gagal panen dapat dihindari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |