Gudeg Ponirah Antarkan Pasutri Sleman ke Tanah Suci Makkah

10 hours ago 4

Gudeg Ponirah Antarkan Pasutri Sleman ke Tanah Suci Makkah Rahudin (61) dan Siti Koringah (52) berjualan gudeg di daerah Maguwoharjo, Depok pada Kamis (16/4/2026). Keduanya berangkat haji tahun ini dari uang berjualan gudeg yang mereka sisihkan sedikit demi sedikit. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN—Di bawah naungan pohon rambutan Maguwoharjo, Sleman, Rahudin (61) dan Siti Koringah (52) merintis Gudeg Ponirah bermodalkan pinjaman Rp1 juta pada 2009. Kini dari ruko sederhana selebar 4 meter, sepiring demi sepiring gudeg hasil peluh mereka mengantarkan pasutri ini menunaikan ibadah haji ke Makkah tahun 2026.

Setiap pagi di etalase kayu dengan ornamen bambu, tersusun 7 panci berisi gudeg, tempe bacem, sambal krecek, telur pindang, dan nasi hangat dalam tenggok bambu besar. Siti Koringah mahir menyendok satu per satu bahan hingga jadi seporsi gudeg lezat. Hasil tabungan bertahun-tahun dari Gudeg Ponirah ini yang membawa mereka ke tanah suci.

"Pertama kali saya jualan itu tahun 2009. Waktu itu merintisnya di bawah pohon rambutan sini. Belum ada ruko ini, jadi jualannya di bawah pohon rambutan," tutur Rahudin pada Kamis (16/4/2026).

Dulu Rahudin bekerja tukang kebun dan kebersihan SD dengan gaji hanya cukup untuk dua minggu. "Bukan butuh tambahan lagi, tapi gaji sebulan itu cuma bisa untuk hidup dua minggu," ungkapnya. Berbekal pinjaman Rp1 juta, pasangan ini nekat berjualan gudeg di bawah pohon rambutan menggunakan tenda lipat.

Sejak jam 02.00 WIB mereka bangun meracik gudeg, mandi, salat Subuh, lalu jam 04.00 WIB menuju lapak. Rahudin jualan hingga jam 06.00 WIB sebelum bergegas ke sekolah sebagai tukang kebun hingga sore. "Waktu awal-awal itu repot banget. Bangun jam dua, masak [gudeg] nanti jam enam pagi masuk kerja. Pulangnya jam lima sore," ceritanya.

Tenaga terforsir dengan istirahat siang cuma rebahan satu jam. Rutinitas ganda ini dijalani 6 bulan hingga dagangan laris. "Kira-kira enam bulan lebih itu [kerja sambil dagang]. Saya kan enggak langsung berani keluar. Jadi nunggu laris dulu, baru keluar," ujarnya.

Awal penjualan hanya habis 2 ekor ayam, tahu Rp20.000, tempe Rp5.000. Lambat laun gudeg khas tak terlalu manis ini diminati warga perumahan, pekerja, ibu rumah tangga. "Alhamdulillah laris mas, banyak yang cocok masakan saya. Gudegnya sini nggak terlalu manis," jelas Rahudin.

Kini ayam bisa habis 4-8 ekor per hari. Harga bubur gudeg telur komplit Rp13.000 dari dulu Rp2.000 per porsi. "Kalau sekarang, ayamnya kadang empat sampai enam. Kalau pas libur itu bisa tujuh, delapan [ekor]," katanya. Keuntungan disisihkan terus-menerus untuk haji.

Tahun 2012 mereka daftar haji dengan setoran awal Rp25 juta setelah menabung 3-4 tahun. "Terus kemudian waktu itu tiga tahun atau berapa, empat tahun itu langsung saya lunasi yang saya nabungnya sampai Rp50 juta kemudian istri saya juga Rp50 juta," ungkapnya.

Koringah tak menyangka bisa berangkat haji begitu cepat. "Ya kemarin itu dipanggil dari Kemenag itu ya rasanya juga gimana ya, kaget-kaget terharu gimana soalnya kan kayanya tidak mungkin lho secepat ini," katanya berkaca-kaca.

"Ya, hidup ini kan ya enggak di sini saja, kita harus memikirkan nanti di sana [akhirat]. Kalau kita sudah mampu ya harus," tegas Rahudin. Dari Gudeg Ponirah yang dulu di bawah pohon rambutan hingga ruko permanen, tabungan Rp50-100 ribu per hari terkumpul menjadi biaya haji lengkap. "Pokoknya itu kalau nggak dari Allah SWT itu nggak mungkin," tukas Koringah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |