Gelombang Panas Makin Parah, Italia Tetapkan Siaga Merah di 19 Kota

5 hours ago 3

Gelombang Panas Makin Parah, Italia Tetapkan Siaga Merah di 19 Kota

Ilustrasi cuaca panas/Magnific

Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang panas ekstrem yang melanda Italia mendorong Kementerian Kesehatan Italia menetapkan status siaga tinggi di 19 kota, termasuk Roma, pada Kamis. Status siaga "merah" tersebut diberlakukan karena suhu panas dinilai mengancam kelompok rentan maupun masyarakat dalam kondisi sehat.

Selain Roma, status siaga juga diterapkan di Bologna, Bolzano, Brescia, Cagliari, Campobasso, Civitavecchia, Florence, Frosinone, Latina, Milan, Naples, Perugia, Pescara, Rieti, Turin, Venesia, Verona, dan Viterbo, sebagaimana tercantum dalam buletin harian Kementerian Kesehatan Italia.

Otoritas setempat mengimbau masyarakat menghindari paparan sinar matahari pada jam-jam dengan suhu tertinggi, membatasi aktivitas fisik, serta memperbanyak minum air untuk mengurangi risiko dampak cuaca panas ekstrem.

Sebelumnya, pada awal Juli, surat kabar Messaggero melaporkan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dalam kurun waktu empat hari di sejumlah pantai dan resor di Italia di tengah gelombang panas.

Fenomena cuaca ekstrem juga berdampak besar di Spanyol. Sejak awal tahun ini, lebih dari 3.800 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda negara tersebut.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan data tersebut pada Senin (27/7/2026) saat mengumumkan proyek pembangunan jaringan fasilitas perlindungan masyarakat dari suhu ekstrem bertajuk Climate Shelters Network.

"Suhu panas telah merenggut lebih dari 3.800 nyawa," ujar Sanchez.

Untuk mendukung program tersebut, Pemerintah Spanyol berencana mengalokasikan dana sebesar 10 juta euro atau sekitar Rp205,54 miliar guna membangun fasilitas perlindungan baru bagi masyarakat yang terdampak cuaca ekstrem.

"Kami menyetujui pemberian dukungan senilai 10 juta euro untuk mendanai (pembangunan) tempat-tempat perlindungan baru, termasuk di sejumlah institusi pendidikan," tambah Sanchez.

Pekan sebelumnya, Pemerintah Spanyol juga menetapkan status darurat nasional di wilayah otonom Madrid serta di Provinsi Avila dan Provinsi Toledo akibat kebakaran hutan yang terus meluas.

Pada awal Juni 2026, Kementerian Kesehatan Spanyol melaporkan bahwa suhu tinggi yang ekstrem di negara tersebut telah merenggut lebih dari 27 ribu nyawa sepanjang 2015 hingga 2025.

Di sisi lain, kebakaran hutan di Provinsi Avila, Spanyol, telah menghanguskan sekitar 50 ribu hektar dan menjadi bencana kebakaran terbesar dalam sejarah negara itu. Informasi tersebut disampaikan media Spanyol La Sexta seperti diberitakan RIA Novosti dari Moskow, Senin.

Sejak awal 2026, Spanyol telah mencatat 32 kebakaran hutan hebat yang menghanguskan sekitar 153 ribu hektar lahan.

Dampak bencana tersebut juga memaksa sekitar 90 ribu orang di Avila, Madrid, dan Toledo dievakuasi maupun diminta untuk tetap berada di rumah. Sementara itu, 16 ribu orang lainnya di Castellon juga dievakuasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |