Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara - PT Pupuk Indonesia
Harianjogja.com, JAKARTA—Lonjakan permintaan pupuk urea dari Indonesia mulai terlihat di tengah gangguan rantai pasok global. Empat negara tercatat telah menjalin komunikasi untuk mendapatkan pasokan, memanfaatkan posisi Indonesia sebagai produsen besar di kawasan.
India, Filipina, Brasil, dan Australia menjadi negara yang mulai mengantre untuk mengimpor urea dari Indonesia. Minat tersebut muncul di tengah terganggunya distribusi pupuk global akibat situasi di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyampaikan komunikasi dengan negara-negara tersebut sudah berjalan. “Sejauh ini yang sudah berkomunikasi India, Filipina, Brasil, sama Australia yang berminat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia,” ujarnya seusai menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, di Jakarta, Rabu (16/4/2026).
Gangguan distribusi global berdampak besar karena sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan harga urea di pasar internasional.
Harga urea yang sebelumnya berada di kisaran 600 hingga 700 dolar AS per ton kini melonjak mendekati 900 dolar AS per ton. Kenaikan tersebut dipicu terbatasnya pasokan serta meningkatnya permintaan dari berbagai negara.
Surplus Jadi Daya Tarik
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea secara mandiri berbasis gas alam domestik.
Kapasitas produksi nasional mencapai sekitar 14,5 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri berada di bawah angka tersebut. Pemerintah memperkirakan terdapat kelebihan produksi sekitar 1,5 juta ton pada 2026 yang dapat dialokasikan untuk ekspor.
Sudaryono menyebut sejumlah negara telah menyatakan minat untuk memanfaatkan surplus tersebut. “Mereka ingin mendapatkan ekses 1,5 juta ton yang bisa dialokasikan atau mereka minta untuk Indonesia bisa ekspor ke negara mereka masing-masing,” katanya.
Kebutuhan Dalam Negeri Tetap Prioritas
Meski peluang ekspor terbuka lebar, pemerintah menegaskan kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terutama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan global seperti konflik geopolitik dan potensi kekeringan akibat fenomena El Nino.
Pemerintah juga memastikan stok pupuk dalam negeri tetap aman, meskipun di lapangan terkadang terjadi keterlambatan distribusi akibat tingginya serapan petani.
Kondisi tersebut dinilai sebagai indikasi positif karena menunjukkan meningkatnya aktivitas tanam yang sejalan dengan data penyuluh pertanian terkait luas tanam nasional.
Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan kebutuhan pupuk agar tetap stabil, sekaligus memanfaatkan peluang ekspor tanpa mengganggu kepentingan petani di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































