Harianjogja.com, JOGJA--Fenomena atlet membeli klub sepak bola menunjukkan perubahan besar dalam cara berpikir tentang karier dan keuangan. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan dari bermain, tetapi mulai membangun sumber penghasilan yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
Lionel Messi menjadi contoh terbaru setelah dikabarkan mengakuisisi klub UE Cornella di Barcelona. Langkah ini memperlihatkan bagaimana seorang atlet mempersiapkan masa depan, bahkan ketika masih aktif di level tertinggi dan bersiap menghadapi Piala Dunia 2026.
Strategi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. David Beckham sudah lebih dulu melakukannya sejak 2007 saat bergabung dengan LA Galaxy. Dalam kontraknya, ia menyisipkan klausul yang memungkinkan dirinya membeli klub Major League Soccer dengan harga jauh lebih murah.
Setelah pensiun, Beckham mendirikan Inter Miami, yang kini nilainya melonjak drastis hingga lebih dari 1 miliar dolar AS. Keputusan tersebut menjadi bukti bahwa investasi yang tepat bisa menghasilkan keuntungan berlipat dalam jangka panjang.
Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah mantan dan pemain aktif lainnya. Ronaldo Nazário membeli saham Real Valladolid, sementara Gerard Piqué melalui perusahaannya mengakuisisi FC Andorra dan berhasil membawa klub itu naik kasta kompetisi.
Kylian Mbappé bahkan memulai lebih awal. Di usia 25 tahun, ia telah berinvestasi dengan membeli SM Caen di Ligue 2. Keputusan ini menunjukkan bahwa perencanaan keuangan tidak harus menunggu masa pensiun.
Selain individu, kolaborasi juga menjadi strategi yang efektif. Sekelompok mantan pemain Manchester United yang dikenal sebagai “Class of ’92” membeli Salford City dan berhasil membawa klub tersebut naik beberapa divisi dalam waktu singkat.
Bagi masyarakat umum, pelajaran dari fenomena ini sangat jelas. Mengandalkan satu sumber pendapatan saja tidak cukup untuk menjamin stabilitas keuangan jangka panjang. Dibutuhkan upaya untuk membangun aset produktif sejak dini.
Aset tersebut tidak harus berupa klub sepak bola. Investasi bisa dimulai dari langkah sederhana seperti menabung secara konsisten, berinvestasi di instrumen keuangan, atau membangun usaha sampingan yang sesuai dengan kemampuan.
Prinsip utama yang bisa diambil adalah bagaimana uang dapat terus bekerja meski seseorang tidak lagi aktif bekerja. Dengan cara ini, seseorang tetap memiliki pemasukan yang stabil di masa depan.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa industri olahraga kini tidak hanya soal prestasi, tetapi juga tentang bagaimana membangun warisan finansial yang berkelanjutan. Klub yang dibeli para atlet menjadi aset yang terus berkembang, baik dari sisi bisnis maupun pengembangan talenta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































