Jumali Senin, 01 Juni 2026 11:57 WIB

Nyamuk - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan teknologi Google melalui anak usahanya Verily mengajukan proyek kontroversial bernama “Debug” kepada Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) yang berisi rencana pelepasan puluhan juta nyamuk di wilayah Florida dan California.
Dilansir dari A-Z Animals, rencana ini mencakup total hingga 64 juta nyamuk dalam periode dua tahun, dengan tahap awal pelepasan masing-masing 16 juta nyamuk jantan di setiap negara bagian pada tahun 2026.
Metode ilmiah untuk tekan populasi nyamuk
Berbeda dari kesan yang terdengar mengkhawatirkan, proyek ini menggunakan pendekatan ilmiah bernama Sterile Insect Technique (SIT) atau teknik serangga mandul.
Dalam metode ini, nyamuk jantan yang telah dibekali bakteri alami Wolbachia akan dilepaskan ke alam untuk kawin dengan nyamuk betina, namun telur yang dihasilkan tidak dapat menetas.
Karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan mengisap darah, sedangkan jantan hanya mengonsumsi nektar, metode ini dinilai tidak menambah risiko langsung terhadap manusia.
Tujuan utamanya adalah menekan populasi nyamuk secara bertahap tanpa penggunaan pestisida kimia yang berpotensi mencemari lingkungan.
Target spesies pembawa penyakit
Fokus utama proyek ini adalah spesies Culex quinquefasciatus yang dikenal sebagai vektor penyakit seperti Virus West Nile dan Ensefalitis St. Louis.
Spesies ini menjadi perhatian karena masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di beberapa wilayah Amerika Serikat.
Peran AI dalam produksi nyamuk rekayasa
Untuk merealisasikan pelepasan dalam skala besar, Verily memanfaatkan kecerdasan buatan dan sistem robotik untuk proses pemuliaan serta penyortiran nyamuk.
Teknologi ini memungkinkan pemisahan nyamuk jantan dan betina secara presisi tinggi, sehingga hanya nyamuk jantan yang dilepaskan ke lingkungan.
Sistem berbasis AI tersebut juga digunakan untuk memastikan konsistensi produksi dalam jumlah puluhan juta nyamuk yang direncanakan.
Masih menunggu persetujuan EPA
Saat ini, proposal proyek masih dalam tahap peninjauan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).
Pemerintah AS membuka masa konsultasi publik hingga 5 Juni 2026, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan dukungan maupun keberatan terhadap rencana tersebut.
Jika disetujui, proyek ini berpotensi menjadi salah satu eksperimen pengendalian vektor penyakit terbesar di dunia yang menggabungkan bioteknologi, bakteri alami, dan kecerdasan buatan dalam satu sistem terpadu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































