Ilustrasi gigitan anjing. - Freepik
Harianjogja.com, SRAGEN-Tiga anggota keluarga satu rumah di Kampung Mojosari, Kelurahan Sragen Kulon, digigit anjing peliharaan agresif saat masa berahi pada Jumat (24/4/2026) pukul 14.40 WIB. Seorang relawan search and rescue yang berupaya menolong juga menjadi korban gigitan anjing ganas tersebut di Sragen.
Kabid Damkar Satpol PP Sragen Tommy Isharyanto mengungkapkan anjing jantan milik Sumarni (70) tiba-tiba mengamuk dan menyerang pemiliknya terlebih dahulu. "Anjing berjenis kelamin jantan tersebut diduga berahi sehingga menjadi agresif. Jadi saking terlalu agresifnya anjing sampai menggigit pemiliknya, Sumarni, kemudian menggigit anak pemiliknya, Indah Dwi Astuti, lalu menggigit seorang bocah berumur enam tahun, Herna Deta Maura Amazia," ujarnya Sabtu.
Tetangga Budi meminta bantuan Damkar Satpol PP Sragen, PSC 119 Sukowati, PMI, dan tim SAR Himalawu untuk evakuasi. Proses penangkapan anjing berbobot 15 kg ini memakan waktu 30 menit karena tingkat agresivitasnya sangat tinggi.
Luka Korban Anjing Ganas Sragen:
- Indah Dwi Astuti (45): luka tak beraturan lengan bawah kanan, sobek telapak tangan kanan, tungkai kaki kiri
- Sumarni (70): luka siku tangan kiri, punggung tangan kanan
- Herna Deta Maura Amazia (6): pergelangan tangan kanan, jari telunjuk kanan, lengan atas kiri
- Stanilaus Giri Yulianto (46), SAR Himalawu: luka tak beraturan punggung tangan kanan-kiri, sobek telapak kanan
Warga sekitar panik akibat aksi anjing mengamuk di permukiman padat Sragen Kulon. Tim gabungan berhasil mengamankan anjing setelah perjuangan alot dengan risiko tinggi bagi petugas penanganan.
Kasus anjing gigit orang di Sragen ini menambah deretan insiden serupa di Jawa Tengah. Pemilik diimbau memastikan hewan peliharaan divaksin anti rabies dan dikontrol saat masa birahi untuk cegah tragedi serupa menimpa warga lain di wilayah Gemolong dan Sragen secara keseluruhan.
Selain aspek klinis, serangan anjing juga meninggalkan dampak psikologis signifikan berupa trauma mendalam atau fobia terhadap hewan (sinofobia), terutama pada anak-anak.
Luka yang dalam sering kali meninggalkan jaringan parut permanen yang memerlukan tindakan bedah estetika. Oleh karena itu, penanganan cepat berupa pencucian luka dengan sabun di bawah air mengalir selama 15 menit dan pemeriksaan medis segera merupakan prosedur standar untuk memitigasi risiko komplikasi jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































