Ajarkan Anak Berkata Tidak Sejak Dini untuk Rasa Percaya Diri

16 hours ago 4

Ajarkan Anak Berkata Tidak Sejak Dini untuk Rasa Percaya Diri Foto ilustrasi anak/anak Indonesia dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT.

Harianjogja.com, JOGJA—Mengajarkan anak berkata tidak sejak dini menjadi keterampilan penting dalam pengasuhan modern karena berkaitan langsung dengan kepercayaan diri, kemampuan menetapkan batasan, dan kesehatan hubungan sosial anak di masa depan.

Sejak usia dini, kebanyakan anak terbiasa belajar untuk berkata “ya”. Ya ketika diminta berbagi mainan meskipun belum siap memberikannya, ya saat menerima pelukan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, dan ya pada rencana yang membuat mereka merasa ragu.

Pola ini terbentuk karena berkata “ya” sering dianggap membuat situasi berjalan lancar, menghindari kecanggungan, serta mendapatkan respons positif dari orang dewasa. Sebaliknya, berkata “tidak” kerap dipersepsikan sebagai tindakan berisiko karena dapat mengecewakan orang lain atau menciptakan suasana yang kaku dan tidak nyaman.

Bukan Pemberontakan

Dalam banyak situasi, anak-anak cenderung “menelan” ketidaknyamanan mereka karena belum memiliki bahasa, keberanian, atau izin untuk melindungi perasaan sendiri. Belajar berkata tidak bukanlah tentang sikap memberontak, melainkan tentang membangun kepercayaan pada diri sendiri.

Ketika seorang anak ragu sebelum menolak sesuatu, mereka sebenarnya sedang berada dalam konflik batin antara memilih kenyamanan diri atau memenuhi harapan orang lain.

Jika orang dewasa menanggapi penolakan anak dengan kalimat seperti “jangan tidak sopan” atau “lakukan saja”, pesan yang tersampaikan secara halus adalah bahwa perasaan orang lain lebih penting daripada perasaan anak.

Dampak dari pelajaran ini tidak berhenti di masa kanak-kanak, tetapi dapat berkembang menjadi remaja yang sulit menolak tekanan teman sebaya atau orang dewasa yang terbiasa bekerja berlebihan karena selalu berkata “ya” meskipun merasa lelah atau tidak aman.

Memulai dari Hal-Hal Kecil

Mengajarkan anak berkata tidak dapat dimulai dari momen-momen kecil yang aman dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat mengizinkan anak menolak pelukan atau kontak fisik yang tidak mereka inginkan, membolehkan anak berhenti dari permainan yang tidak lagi mereka nikmati, serta menghargai ungkapan sederhana seperti “aku tidak suka ini”, meskipun terdengar sepele. Sikap ini membantu anak memahami bahwa perasaan mereka diakui dan dihargai.

Pendekatan tersebut tidak berarti anak bebas menentukan segalanya. Aturan tetap diperlukan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara menegakkan batasan dan membungkam pilihan.

Kalimat penjelasan seperti “kamu harus pegang tangan karena jalanan ramai” memberikan rasa aman dan penghargaan, sangat berbeda dengan perintah keras yang menutup ruang dialog.

Belajar Menerima Kata Tidak

Kemampuan berkata tidak juga perlu diimbangi dengan kemampuan menerima penolakan. Anak perlu merasakan kekecewaan dalam batas yang aman, misalnya ketika teman tidak ingin bermain atau saudara menolak berbagi.

Dari pengalaman tersebut, anak belajar bahwa penolakan bukan bentuk kekejaman dan batasan orang lain bukan serangan pribadi.

Keteladanan orang dewasa berperan besar dalam proses ini. Saat orang tua mampu berkata tidak dengan nada tenang, tanpa kemarahan atau rasa bersalah berlebihan, anak belajar bahwa seseorang dapat bersikap tegas, hormat, dan tetap baik hati secara bersamaan.

Manfaat Jangka Panjang

Kemampuan berkata tidak tidak membuat anak tumbuh egois. Sebaliknya, anak menjadi lebih sadar diri karena memahami bahwa tubuh, waktu, dan perasaan adalah milik mereka. Anak juga belajar menghargai orang lain dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki batasan. Dalam jangka panjang, keterampilan ini membantu anak membangun hubungan pertemanan dan lingkungan kerja yang lebih sehat serta saling menghormati.

Pada akhirnya, kata “tidak” yang diucapkan dengan percaya diri akan mengantarkan anak pada kata “ya” yang tulus. Keterampilan berkata tidak sejak dini menjadi bekal penting bagi anak untuk menjalani kehidupan sosial dan emosional yang sehat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : The Times of India

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |