Adrian Dalmau Ungkap Perbedaan Sepak Bola Indonesia dan Spanyol

9 hours ago 6

Adrian Dalmau Ungkap Perbedaan Sepak Bola Indonesia dan Spanyol

Adrian Dalmau saat ditemui usai sesi latihan PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida, Selasa (11/8/2026) lalu. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA— Striker anyar PSIM Jogja, Adrian Dalmau, mulai merasakan atmosfer sepak bola Indonesia setelah memutuskan melanjutkan karier bersama Laskar Mataram. Penyerang asal Spanyol yang pernah menimba ilmu di akademi Real Madrid itu menilai sepak bola Indonesia memiliki karakter berbeda dibanding kompetisi yang selama ini ia jalani di Eropa.

Meski belum banyak menyaksikan pertandingan Liga Indonesia secara langsung, Dalmau mengaku sudah memiliki gambaran awal mengenai tantangan yang akan dihadapinya. Menurutnya, sepak bola di Spanyol dikenal sangat mengandalkan aspek taktik dengan kekuatan antartim yang relatif merata.

"Di Spanyol, gaya permainannya sangat taktis, kekuatan antartim sangat merata, dan pertandingan berjalan sangat padat serta ketat. Kita lihat saja nanti saat liga berjalan, dan beradaptasi dengan hal itu akan menjadi tantangan besar bagi saya," ujar Dalmau di sela latihan PSIM di Stadion Mandala Krida, Selasa (11/8/2026).

Datang dengan Rekam Jejak Eropa

Nama Adrian Dalmau bukan sosok asing di sepak bola Eropa. Berdasarkan data Transfermarkt, pemain berusia 32 tahun itu pernah memperkuat akademi Real Madrid U-18 pada musim 2011/2012 saat masih berusia 17 tahun.

Setelah meninggalkan akademi Los Blancos, karier Dalmau berlanjut di sejumlah klub Spanyol sebelum merantau ke kompetisi Eropa lainnya.

Salah satu pencapaian terbaiknya terjadi saat membela Heracles Almelo di Eredivisie Belanda. Kala itu ia sukses mencetak 19 gol dalam satu musim, sebuah catatan yang membuat namanya diperhitungkan sebagai penyerang tajam.

Sebelum bergabung dengan PSIM, Dalmau bermain bersama Piast Gliwice di Ekstraklasa, kasta tertinggi Liga Polandia.

Adaptasi di Jogja Berjalan Lancar

Meski harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, Dalmau mengaku proses tersebut berlangsung lebih mudah dari yang ia bayangkan.

Menurut dia, suasana tim yang positif serta sambutan hangat dari pemain lokal maupun pemain asing lainnya membuat dirinya cepat merasa nyaman di Jogja.

"Semuanya terasa sangat mudah dan berjalan lebih baik dari yang saya bayangkan sebelumnya. Saya sangat senang berada di Jogja dan bersama tim PSIM, jadi adaptasinya berjalan lancar," katanya.

Selain lingkungan baru, cuaca menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi mantan pemain Heracles tersebut. Ia mengakui suhu panas dan tingkat kelembapan di Indonesia membutuhkan penyesuaian fisik yang tidak ringan.

"Cuacanya panas dan lembap, jadi saya perlu beradaptasi setiap hari. Padahal saya berasal dari Mallorca, cuacanya sebenarnya mirip, tetapi karena sudah lama tidak bermain dalam kondisi seperti ini, saya hanya perlu membiasakan diri kembali," ujarnya.

Faktor Jean-Paul Van Gastel

Keputusan meninggalkan Eropa dan menerima pinangan PSIM ternyata tidak lepas dari peran pelatih Jean-Paul Van Gastel.

Dalmau mengungkapkan Van Gastel sudah mengenalnya sejak sama-sama berkecimpung di sepak bola Belanda. Kedekatan itu membuatnya lebih yakin menerima tantangan baru di Indonesia.

Menurut Dalmau, filosofi permainan dan metode latihan yang diterapkan Van Gastel diyakini tidak jauh berbeda dengan yang pernah ia rasakan di Eropa.

"Bagi saya, itu yang menjadi pembeda dalam mengambil keputusan. Dia sudah mengenal saya dari liga Belanda dan saya yakin sesi latihan serta gaya bermainnya akan mirip seperti di sana, sehingga memudahkan saya menyesuaikan permainan," tutur Dalmau.

Siap Bersaing di Lini Depan PSIM

Di skuad PSIM musim ini, Dalmau harus bersaing dengan dua penyerang asing lainnya, yakni Nermin Haljeta dan Mauro Caballero.

Namun, pemain asal Mallorca tersebut menegaskan dirinya tidak datang ke Jogja hanya untuk memenangkan persaingan internal. Fokus utamanya adalah membantu PSIM berkembang dan meraih hasil terbaik sepanjang musim.

"Perspektif saya datang ke sini adalah untuk membawa klub ke tingkat yang lebih tinggi dan berkembang, bukan hanya di papan klasemen tetapi sebagai sebuah klub secara keseluruhan. Target saya menunjukkan kualitas permainan dan memberi pembeda di setiap pertandingan lewat gol demi gol," katanya.

Andalkan Insting di Kotak Penalti

Sebagai seorang penyerang, Dalmau menggambarkan dirinya sebagai pemain yang menyukai permainan menyerang dan kombinasi dengan rekan setim.

Ia merasa paling nyaman beroperasi di area kotak penalti lawan dengan mengandalkan kemampuan membaca ruang, sentuhan pertama, serta penyelesaian akhir menggunakan kaki kanan.

Karakter tersebut diharapkan mampu menjadi solusi bagi lini depan PSIM yang bersiap menghadapi persaingan ketat di Liga 1 musim 2026/2027.

Dengan pengalaman panjang di kompetisi Eropa dan reputasi sebagai striker produktif, kehadiran Adrian Dalmau menjadi salah satu harapan besar PSIM untuk meningkatkan daya gedor sekaligus memperkuat ambisi Laskar Mataram bersaing di level tertinggi sepak bola Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |