
Jebakan tikus - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Musim hujan dan banjir tidak hanya memicu genangan air, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit dari tikus. Air yang tercemar urine, kotoran, maupun air liur tikus dapat menjadi media penularan berbagai infeksi berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.
Belakangan perhatian publik tertuju pada hantavirus, namun para ahli kesehatan mengingatkan masih ada sejumlah penyakit lain yang juga dapat ditularkan tikus dan berpotensi memicu komplikasi serius.
Penularan penyakit dari tikus bisa terjadi melalui makanan terkontaminasi, paparan air banjir, gigitan, hingga kontak langsung dengan kotoran atau air liur hewan pengerat tersebut.
Berikut lima penyakit yang perlu diwaspadai disarikan dari berbagai sumber:
1. Leptospirosis
Leptospirosis menjadi penyakit yang paling sering muncul saat musim banjir. Infeksi ini disebabkan bakteri Leptospira yang menyebar melalui urine tikus dan dapat bertahan di lingkungan lembab maupun genangan air.
Risiko penularan meningkat ketika seseorang berjalan atau beraktivitas di area banjir tanpa perlindungan.
Gejalanya meliputi demam tinggi, nyeri otot terutama di betis dan punggung, sakit kepala, hingga mata dan kulit menguning.
Pada kondisi berat, leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal dan kerusakan hati.
Masyarakat disarankan menggunakan alas kaki seperti sepatu boot saat melewati banjir serta segera membersihkan tubuh dengan sabun setelah kontak dengan air kotor.
2. Salmonellosis
Tikus juga dapat menyebarkan bakteri Salmonella melalui makanan dan permukaan yang terkontaminasi kotorannya.
Penyakit ini sering muncul akibat penyimpanan makanan yang terbuka atau kebersihan dapur yang buruk.
Gejala salmonellosis biasanya berupa diare, muntah, demam, dan kram perut yang muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah terpapar.
Anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat dehidrasi.
Untuk mencegahnya, makanan dianjurkan disimpan dalam wadah tertutup dan area dapur dibersihkan secara rutin.
3. Plague
Pes atau plague disebabkan bakteri Yersinia pestis yang umumnya ditularkan melalui gigitan kutu dari tikus terinfeksi.
Jenis paling dikenal adalah pes bubonik yang menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening disertai demam tinggi.
Meski kasusnya kini jarang ditemukan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
masih mencatat adanya laporan kasus setiap tahun di beberapa wilayah dunia.
Jika tidak segera diobati, pes dapat berkembang menjadi infeksi darah maupun infeksi paru yang sangat mematikan.
4. Rat-Bite Fever
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan atau cakaran tikus yang membawa bakteri tertentu.
Gejalanya meliputi demam naik turun, nyeri otot dan sendi, muntah, serta ruam kemerahan di telapak tangan maupun kaki.
Dalam kondisi serius, infeksi dapat menyerang jantung, otak, hingga paru-paru.
Jika mengalami gigitan tikus, luka harus segera dibersihkan menggunakan air mengalir dan sabun sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
5. Lymphocytic Choriomeningitis
LCMV atau Lymphocytic Choriomeningitis Virus ditularkan melalui urine, kotoran, dan air liur tikus rumah.
Gejala awal biasanya menyerupai flu seperti demam, sakit kepala, tubuh lemas, dan mual.
Namun pada beberapa kasus, virus dapat menyebabkan meningitis atau ensefalitis yang menyerang sistem saraf pusat.
Ibu hamil juga diminta waspada karena infeksi LCMV dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk LCMV sehingga pencegahan menjadi langkah utama.
Membersihkan kotoran tikus dianjurkan menggunakan sarung tangan dan masker untuk menghindari paparan partikel yang terhirup.
Pada dasarnya, kebersihan lingkungan menjadi kunci utama mencegah penyebaran penyakit dari tikus.
Jika ditemukan tanda keberadaan tikus seperti kotoran, bau menyengat, atau suara di plafon rumah, masyarakat disarankan segera melakukan pengendalian hama dan menjaga sanitasi lingkungan tetap bersih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































