Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat sebanyak 29 serangan terhadap kapal sipil di Teluk Persia dan Selat Hormuz sejak ketegangan akibat konflik Iran merebak. "Sebanyak 29 serangan terhadap kapal di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz telah diverifikasi oleh IMO sejak awal konflik," tulis IMO dalam pernyataannya Jumat.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, memperingatkan persediaan kapal terjebak seperti air, makanan, dan bahan bakar berpotensi segera menipis. Ia mengapresiasi dukungan negara-negara kawasan yang menyediakan kebutuhan penting bagi pelaut yang terdampar di zona konflik Teluk Persia.
"IMO bekerja sama dengan negara-negara anggota dan mitra dalam menyusun rencana evakuasi bagi awak kapal, yang siap dilaksanakan ketika situasi memungkinkan. Ini mencakup penyusunan daftar kapal terdampak dan penentuan prioritas berdasarkan kebutuhan kemanusiaan," demikian pernyataan resmi IMO.
Pada awal April, IMO melaporkan 21 serangan menyebabkan 10 pelaut tewas. Sejak itu belum ada korban jiwa tambahan, tetapi kondisi kemanusiaan semakin mengkhawatirkan dengan 20.000 pelaut dari sekitar 1.600 kapal masih terjebak di kawasan berbahaya tersebut.
Konflik dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Gencatan senjata dua pekan diumumkan pada 8 April setelah perundingan pertama di Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Meski belum ada laporan permusuhan baru, AS tetap mempertahankan blokade pelabuhan Iran yang memperparah situasi kemanusiaan pelaut internasional di Teluk Persia dan Selat Hormuz. IMO terus memantau perkembangan sambil menyiapkan skema evakuasi darurat jika situasi memburuk lebih lanjut di kawasan strategis jalur minyak dunia tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Meski lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, signifikansi ekonomi yang mengalir melaluinya sangat masif, di mana sekitar 20% hingga 30% dari total konsumsi minyak dunia melintas di sini setiap harinya.
Sebagai rute utama bagi negara-negara produsen energi besar seperti Arab Saudi, Irak, UEA, dan Qatar, selat ini menjadi penentu stabilitas harga energi global serta pasokan Gas Alam Cair (LNG) yang krusial bagi industri di Asia dan Eropa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































