
Foto ilustrasi pipa gas. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN — Jumlah warga terdampak dugaan kebocoran gas di wilayah Purwomartani, Kabupaten Sleman, terus diperbarui. Hingga Sabtu (9/5/2026) siang, total tercatat 23 orang mengalami dampak kesehatan, namun seluruhnya telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memastikan kondisi para warga sudah stabil setelah mendapat penanganan cepat di lokasi. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, menjelaskan respons darurat dilakukan sejak laporan pertama diterima pada malam hari.
Tim Sleman Emergency Services (SES) langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan bersama sejumlah unsur, termasuk PMI, BPBD, dan Damkar. Penanganan awal difokuskan pada evakuasi dan stabilisasi kondisi warga yang mengalami gejala akibat paparan gas.
"Tata laksana awal, tadi malam Tim SES Dinkes Sleman sudah langsung menuju TKP dan melakukan penanganan bersama dengan Tim PMI Sleman, BPBD Sleman dan Damkar Sleman," ujar Raditya.
Setelah situasi dinilai terkendali, tim SES kembali ke markas sekitar pukul 05.30 WIB. Penanganan kemudian dilanjutkan oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Kalasan yang membuka posko darurat di rumah dukuh setempat.
Awalnya, hingga pukul 11.30 WIB, tercatat 21 warga terdampak, terdiri dari 14 laki-laki dan tujuh perempuan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan orang dewasa, sementara satu korban tercatat masih berusia anak-anak.
Sejumlah warga mengalami keluhan ringan hingga sedang, seperti pusing, iritasi mata, dan sesak napas. Tiga pasien dengan gejala sesak napas bahkan sempat membutuhkan terapi oksigen karena saturasi di bawah 95 persen. Namun setelah penanganan selama sekitar 30 menit, kondisi mereka membaik dan diperbolehkan pulang.
"Dari 21 pasien terdapat tiga yang mengeluh sesak dan membutuhkan penanganan oksigen, dengan saturasi awal kurang dari 95 setelah mendapatkan oksigenasi selama 30 menit keadaan membaik dan dipulangkan," jelasnya.
Dalam perkembangan terbaru, jumlah korban bertambah menjadi 23 orang. Meski demikian, seluruh pasien sudah mendapatkan penanganan dan tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit.
"Total 23 pasien dilayani di posko, semua dipulangkan," tegas Raditya.
Selain fokus pada kesehatan warga, pemerintah juga mulai mengantisipasi dampak lingkungan. Dinkes Sleman berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk mengambil sampel air bersih dan air irigasi di sekitar lokasi.
Sampel tersebut telah dikirim ke laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) untuk diuji, guna memastikan tidak ada kontaminasi berbahaya yang bisa berdampak lanjutan bagi masyarakat.
Langkah ini menjadi bagian dari mitigasi menyeluruh pascakejadian, sekaligus memastikan keamanan lingkungan sebelum warga kembali beraktivitas normal. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika merasakan gejala serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































