2 Bulan Tak Pulang Demi Lawan Leukemia, Kisah Haru Pasien Anak Jogja

7 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Sudah lebih dari dua bulan Fitriani meninggalkan rumahnya di Kebumen demi mendampingi putri sulungnya, Alifa, 12, menjalani pengobatan leukemia di RSUP Dr. Sardjito, Jogja. Di tengah rangkaian kemoterapi yang panjang, ia memilih tinggal di Rumah Kita, rumah singgah yang dikelola Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Cabang Jogja.

Kisah Alifa menjadi potret perjuangan anak-anak penyintas kanker yang tetap berusaha mengejar mimpi, sekaligus menunjukkan pentingnya perlindungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan bagi keluarga yang menghadapi penyakit berbiaya tinggi.

Bukan hanya Alifa yang harus berjauhan dari rumah. Di rumah singgah yang sama, Refanti, 13, asal Wonosobo, telah lebih dari satu tahun menjalani pengobatan leukemia di RSUP Dr. Sardjito. Selama itu pula ia tinggal bersama ibunya karena jadwal kemoterapi yang padat membuat perjalanan pulang ke kampung halaman hampir mustahil dilakukan.

Bagi Fitriani, pertengahan Mei 2026 menjadi titik balik kehidupan keluarganya. Seusai menyelesaikan ujian sekolah dasar, Alifa seharusnya menikmati momen perpisahan bersama teman-temannya. Namun kondisi kesehatannya justru memburuk. Tubuhnya sering lemas, mimisan, dan mengalami demam.

"Harusnya dia sudah lulus SD. Setelah ujian selesai, belum sempat ikut acara perpisahan, tiba-tiba masuk rumah sakit karena sakit," ujar Fitriani.

Awalnya Alifa dirawat di rumah sakit di Kebumen dengan dugaan anemia. Setelah dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito, hasil pemeriksaan memastikan putrinya mengidap leukemia.

"Bagi saya itu seperti dunia runtuh. Yang paling sedih justru saya sebagai ibunya," katanya.

Sejak diagnosis tersebut, Alifa menjalani kemoterapi secara berkala. Hingga kini ia telah menjalani delapan kali kemoterapi dari sekitar 22 kali yang harus ditempuh sesuai protokol pengobatan.

Setiap siklus kemoterapi mengharuskan Alifa menjalani rawat inap selama empat hingga lima hari. Setelah kondisinya membaik, ia kembali ke Rumah Kita untuk beristirahat sambil menunggu jadwal terapi berikutnya.

"Saya belum pernah pulang sejak dirujuk ke Sardjito. Karena jeda pengobatannya sangat dekat, akhirnya memilih tinggal di rumah singgah," ujarnya.

Masa-masa awal setelah diagnosis menjadi fase paling berat bagi keluarga. Fitriani bahkan meminta bantuan psikolog agar Alifa dapat memahami penyakit yang sedang dihadapinya.

Meski harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan yang panjang, Fitriani bersyukur putrinya tidak pernah mengeluh. Alifa justru tetap memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan berharap dapat menggunakan gawai yang dibelinya dari hasil tabungan sendiri.

Di tengah perjuangan tersebut, Fitriani mengaku tidak terbebani biaya pengobatan karena seluruh layanan ditanggung BPJS Kesehatan melalui Program JKN.

"Semua pakai BPJS Kesehatan. Alhamdulillah saya tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk pengobatan," katanya.

Bertahan Lebih dari Setahun Jauh dari Rumah

Perjuangan serupa dialami Refanti. Remaja asal Wonosobo itu telah lebih dari satu tahun menjalani pengobatan leukemia di RSUP Dr. Sardjito dan belum pernah kembali ke rumah.

Rutinitasnya dipenuhi jadwal kemoterapi. Terkadang ia hanya menjalani perawatan sehari, namun pada siklus tertentu harus dirawat inap hingga lima hari. Efek samping kemoterapi pun masih sering dirasakan.

"Kadang mual, pusing, sama sariawan," katanya.

Meski demikian, Refanti tetap berusaha menjalani hari-harinya dengan semangat. Ia mengikuti pembelajaran dari rumah singgah bersama guru pendamping, bermain bersama teman-teman, serta mengembangkan bakat menyanyi dan menari melalui berbagai kegiatan yang difasilitasi Rumah Kita.

Saat rasa rindu kepada keluarga muncul, Refanti mengobatinya dengan panggilan video bersama ayah dan keluarganya di Wonosobo.

"Kalau kangen biasanya video call atau chatting," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai harapannya, Refanti menjawab singkat.

"Lebih semangat lagi, terus jadi lebih baik dari sebelumnya."

Rumah Singgah Menjadi Penopang Selama Pengobatan

Koordinator YKAKI Cabang Jogja, Retno Ratih, mengatakan keberadaan BPJS Kesehatan memberikan manfaat besar bagi keluarga pasien kanker anak. Menurutnya, biaya pengobatan kanker dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah apabila harus ditanggung secara mandiri.

"Manfaat BPJS sangat besar. Pengobatan kanker membutuhkan biaya yang sangat besar. Dengan BPJS, orang tua bisa lebih fokus mendampingi anak menjalani terapi," ujarnya.

Ratih menjelaskan sebagian besar penghuni Rumah Kita merupakan pasien rujukan dari berbagai daerah di Indonesia yang menjalani pengobatan di RSUP Dr. Sardjito.

"Pasien kami berasal dari rumah sakit daerah yang dirujuk ke Sardjito. Karena pengobatannya jangka panjang, mereka tinggal di sini sampai rangkaian kemoterapi selesai," katanya.

Saat ini Rumah Kita memiliki kapasitas 22 tempat tidur bagi pasien dan pendamping. Penghuninya merupakan anak-anak berusia mulai satu hari hingga 18 tahun yang menderita berbagai jenis kanker dan tumor, seperti leukemia, tumor otak, neuroblastoma, hingga kanker tulang.

Tak hanya menyediakan tempat tinggal sementara, Rumah Kita juga memastikan anak-anak tetap memperoleh hak atas pendidikan. Pihaknya berkoordinasi dengan sekolah asal sehingga para pasien tetap mengikuti proses belajar selama menjalani pengobatan.

"Anak-anak tetap sekolah di sini. Guru kami berkoordinasi dengan sekolah asal. Kalau ada ujian atau tugas, semuanya tetap dikerjakan dan dilaporkan ke sekolah mereka," ujar Ratih.

Selain belajar, anak-anak juga mengikuti berbagai aktivitas seperti bermain, seni, mengaji, hingga edukasi kesehatan untuk menjaga semangat selama menjalani terapi.

"Anak-anak di sini saling menyemangati. Kalau ada yang tidak mau makan, teman-temannya ikut mengajak. Kalau ada yang demam atau sedih, mereka saling menghibur. Sudah seperti keluarga sendiri," katanya.

Orang Tua Ikut Berjuang

Menurut Ratih, perjuangan tidak hanya dirasakan anak-anak, tetapi juga orang tua yang harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga selama berbulan-bulan demi mendampingi proses pengobatan.

Selama tinggal di Rumah Kita, para orang tua bergotong royong mengurus kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga saling membantu ketika ada pasien yang harus segera dibawa ke rumah sakit.

"Pengobatan kanker itu panjang. Banyak orang tua akhirnya kehilangan pekerjaan karena harus mendampingi anak. Mereka juga harus meninggalkan anggota keluarga lain di kampung halaman," katanya.

Karena itu, Rumah Kita menyediakan berbagai kebutuhan dasar, mulai dari tempat tinggal, konsumsi, layanan antar-jemput ke rumah sakit, hingga pendampingan pendidikan bagi anak-anak selama menjalani terapi.

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jogja, Subkhan, menegaskan Program JKN memberikan perlindungan kesehatan kepada seluruh peserta tanpa membedakan usia, termasuk anak-anak penderita kanker.

"Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang wajib mendapatkan perlindungan kesehatan. Dengan adanya Program JKN, mereka dapat mengakses layanan kesehatan tanpa beban biaya yang harus ditanggung keluarga," ujarnya.

Ia menjelaskan jaminan tersebut memungkinkan keluarga lebih fokus mendampingi proses penyembuhan karena biaya pemeriksaan, rawat inap, tindakan operasi jika diperlukan, kemoterapi, hingga kontrol lanjutan ditanggung sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku.

Data BPJS Kesehatan Cabang Jogja menunjukkan sepanjang 2025 terdapat 130 kasus rawat inap tingkat lanjutan kanker anak dengan total pembiayaan mencapai Rp1.200.161.700, serta 1.023 kasus rawat jalan tingkat lanjutan senilai Rp438.655.400.

Sementara hingga Mei 2026, tercatat 53 kasus rawat inap tingkat lanjutan dengan pembiayaan Rp418.238.900 dan 397 kasus rawat jalan tingkat lanjutan dengan total biaya Rp142.723.200.

"Data tersebut menunjukkan pembiayaan kanker anak melalui Program JKN masih menjadi salah satu bentuk perlindungan kesehatan yang penting bagi keluarga, mengingat pengobatan kanker membutuhkan perawatan jangka panjang dan biaya yang tidak sedikit," kata Subkhan.

Hingga Juni 2026, BPJS Kesehatan Cabang Jogja telah bekerja sama dengan 206 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 37 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Kota Jogja, Bantul, dan Gunungkidul untuk memastikan peserta JKN memperoleh pelayanan kanker sesuai indikasi medis dan sistem rujukan berjenjang.

Di Rumah Kita, harapan terus tumbuh di sela-sela jadwal kemoterapi, tawa anak-anak, dan kerinduan pada kampung halaman. Mereka percaya suatu hari nanti dapat kembali sehat, kembali ke sekolah, dan melanjutkan masa kecil yang sempat tertunda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |