
Foto ilustrasi surat cerai, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Masalah dalam rumah tangga dapat muncul dari berbagai sisi, mulai dari hubungan dengan pasangan, kondisi keuangan, pola pengasuhan anak, hingga hubungan dengan keluarga besar.
Ketika persoalan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa penyelesaian, konflik rumah tangga dapat berkembang menjadi salah satu alasan pasangan memutuskan mengakhiri pernikahan.
Selama ini, persoalan finansial sering dianggap sebagai salah satu pemicu utama perceraian. Namun, survei Forbes Advisor menunjukkan faktor yang paling banyak disebut oleh responden justru berkaitan dengan dukungan keluarga.
Dalam survei terhadap 1.000 warga Amerika Serikat yang telah bercerai atau sedang menjalani proses perceraian, 43 persen responden menyebut kurangnya dukungan keluarga sebagai salah satu alasan pernikahan mereka berakhir. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam daftar faktor yang ditanyakan.
Forbes Advisor mencatat penyebab perceraian umumnya tidak berdiri sendiri. Satu pasangan dapat menyebut beberapa faktor sekaligus yang berkontribusi terhadap berakhirnya pernikahan. Karena itu, persentase dalam daftar tersebut tidak dapat dijumlahkan menjadi 100 persen.
Kurangnya dukungan keluarga dapat menjadi persoalan ketika pasangan merasa tidak memperoleh penerimaan atau dukungan dari keluarga besar. Ketegangan juga dapat muncul apabila keluarga terlalu jauh mencampuri keputusan yang seharusnya menjadi ranah pasangan.
Dalam hubungan yang sehat, dukungan dari keluarga besar dapat membantu pasangan menghadapi persoalan rumah tangga. Sebaliknya, konflik dengan keluarga pasangan dapat menambah tekanan ketika hubungan suami dan istri sendiri sedang menghadapi masalah.
Forbes Advisor bahkan menemukan bahwa hanya 21 persen responden yang menganggap ketidaksetujuan keluarga atau teman terhadap pasangan sebagai tanda bahwa pernikahan mereka sedang bermasalah. Padahal, kurangnya dukungan keluarga dilaporkan oleh 43 persen responden sebagai salah satu faktor perceraian.
13 Faktor yang Disebut dalam Perceraian
Selain kurangnya dukungan keluarga, terdapat sejumlah faktor lain yang dilaporkan oleh responden dalam survei tersebut.
Berikut daftar penyebab perceraian berdasarkan persentase responden yang menyebut masing-masing faktor:
Kurangnya dukungan keluarga — 43 persen
Perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan — 34 persen
Ketidakcocokan — 31 persen
Kurangnya keintiman — 31 persen
Terlalu banyak konflik atau pertengkaran — 31 persen
Stres keuangan — 24 persen
Kurangnya komitmen — 23 persen
Perbedaan dalam pola pengasuhan anak — 20 persen
Menikah terlalu muda — 10 persen
Perbedaan nilai atau moral — 6 persen
Penyalahgunaan zat — 3 persen
Kekerasan dalam rumah tangga secara fisik dan/atau emosional — 3 persen
Perbedaan gaya hidup — 1 persen
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan hubungan dan keluarga memiliki porsi besar dalam alasan yang dilaporkan responden.
Perselingkuhan, misalnya, berada di posisi kedua dengan 34 persen. Sementara itu, ketidakcocokan, kurangnya keintiman, serta konflik atau pertengkaran masing-masing disebut oleh 31 persen responden.
Stres keuangan berada di posisi keenam dengan 24 persen. Artinya, persoalan uang memang menjadi salah satu faktor yang cukup banyak disebut, tetapi dalam survei tersebut persentasenya masih berada di bawah kurangnya dukungan keluarga, perselingkuhan, ketidakcocokan, kurangnya keintiman, serta konflik yang berlebihan.
Penyebab Bisa Berbeda Berdasarkan Lama Pernikahan
Forbes Advisor juga menemukan bahwa faktor yang berhubungan dengan perceraian dapat berbeda berdasarkan usia pernikahan.
Pasangan yang bercerai pada tahun pertama lebih banyak menyebut ketidakcocokan. Sebanyak 59 persen dari mereka yang mengakhiri pernikahan pada tahun pertama mengatakan tidak cocok dengan pasangannya menjadi salah satu alasannya.
Sementara itu, kurangnya dukungan keluarga menjadi faktor yang semakin menonjol pada pasangan yang mengakhiri pernikahan pada tahun kedua hingga kedelapan.
Pada pasangan yang telah menjalani pernikahan selama sembilan tahun atau lebih, perselingkuhan dan kurangnya keintiman menjadi faktor yang paling banyak disebut.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan dalam rumah tangga dapat berubah seiring perjalanan pernikahan. Masalah yang muncul pada awal pernikahan belum tentu menjadi persoalan utama setelah pasangan menjalani kehidupan bersama selama bertahun-tahun.
Konflik Tidak Selalu Berarti Pernikahan Tak Bisa Diselamatkan
Menariknya, sebagian besar responden Forbes Advisor tidak menganggap perceraian sebagai sesuatu yang sepenuhnya tidak dapat dicegah.
Sebanyak 63 persen responden mengatakan pemahaman yang lebih baik mengenai komitmen dalam pernikahan sebelum menikah mungkin dapat membantu mencegah perceraian. Sebanyak 56 persen lainnya mengatakan pemahaman yang lebih baik mengenai moral dan nilai pasangan juga berpotensi menyelamatkan pernikahan mereka.
Survei tersebut juga menemukan bahwa kurangnya minat terhadap pasangan, buruknya kemampuan menyelesaikan konflik, serta kebiasaan saling menghindari menjadi beberapa tanda yang paling sering disebut sebagai indikasi bahwa sebuah pernikahan sedang berada dalam masalah.
Dengan demikian, persoalan rumah tangga tidak selalu bermula dari satu masalah besar. Konflik yang berulang, ketidakcocokan, masalah keintiman, perselingkuhan, hingga tekanan dari keluarga besar dapat saling berkaitan dan pada akhirnya mendorong pasangan mengambil keputusan untuk berpisah.
Meski demikian, hasil survei Forbes Advisor tersebut merupakan gambaran dari responden di Amerika Serikat dan tidak dapat secara langsung digunakan untuk menggambarkan kondisi perceraian di Indonesia. Faktor penyebab perceraian juga dapat dipengaruhi oleh budaya, kondisi sosial, hukum, serta karakteristik keluarga di masing-masing negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































