
Foto ilustrasi penyalahgunaan narkoba. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Upaya mencegah penyalahgunaan narkoba dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Masyarakat, terutama di tingkat kampung, didorong lebih peka mengenali tanda-tanda awal penyalahgunaan narkotika agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan peluang pemulihan menjadi lebih besar.
Pesan tersebut disampaikan dalam Workshop Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yang berlangsung di Pendopo Kelurahan Gowongan, Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan pendiri Jogja Care House, Eko Prasetyo, sebagai narasumber.
Perubahan Perilaku Bisa Menjadi Tanda Awal
Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkoba umumnya dapat dikenali melalui perubahan perilaku seseorang. Pemahaman mengenai gejala awal dinilai penting agar keluarga maupun lingkungan sekitar tidak terlambat memberikan bantuan.
Selain mengenalkan berbagai jenis narkotika, Eko juga memaparkan dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan fisik dan mental. Menurutnya, perubahan emosi, kebiasaan sehari-hari, hingga kondisi fisik dapat menjadi indikator awal seseorang mulai mengalami ketergantungan.
"Banyak kasus penyalahgunaan narkoba baru diketahui setelah kondisinya cukup berat. Padahal, jika gejala awal dikenali lebih cepat, peluang seseorang untuk menjalani proses pemulihan juga lebih besar," jelas Eko.
Rehabilitasi Tidak Hanya Menghentikan Penggunaan Narkoba
Eko mengatakan rehabilitasi menjadi bagian penting dalam penanganan penyalahguna narkoba. Di Jogja Care House, proses pemulihan dilakukan melalui pendekatan Therapeutic Community (TC) yang tidak hanya berorientasi menghentikan penggunaan narkoba, tetapi juga membantu penyintas memulihkan kondisi psikologis dan kemampuan bersosialisasi.
Menurutnya, pendekatan tersebut dirancang agar penyalahguna narkoba dapat menjalani proses pemulihan secara menyeluruh sehingga lebih siap kembali berinteraksi dengan masyarakat.
Puskesmas Perkuat Edukasi Pencegahan
Kepala Puskesmas Jetis, dr. Ani Mufidah Sari, mengatakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam mendukung upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba melalui kegiatan promotif dan preventif.
Ia menegaskan puskesmas tidak hanya memberikan layanan pengobatan, tetapi juga terus mengedukasi masyarakat agar memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba.
"Kami tidak hanya memberikan pelayanan pengobatan, tetapi juga mengedepankan upaya promotif dan preventif agar masyarakat memiliki pengetahuan serta kesadaran untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba," katanya.
Pencegahan Narkoba Butuh Peran Aktif Masyarakat
Lurah Gowongan, Tika Adriatiavita, menilai persoalan narkoba memiliki dampak yang luas karena tidak hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga memengaruhi ketahanan keluarga serta kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, menurutnya, upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat penegak hukum.
"Upaya P4GN bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat penegak hukum, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat," ujarnya.
Workshop tersebut menjadi sarana berbagi pengetahuan mengenai bahaya narkoba sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini. Melalui kegiatan ini, warga diharapkan tidak hanya memahami risiko penyalahgunaan narkoba, tetapi juga mengetahui langkah yang dapat dilakukan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan di lingkungan sekitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































