Wali Kota Jogja Soroti Klitih, Minta Orang Tua Lebih Waspada

6 hours ago 3

Wali Kota Jogja Soroti Klitih, Minta Orang Tua Lebih Waspada

Kekerasan jalanan atau klitih. - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus klitih yang menewaskan seorang pelajar di depan SMAN 3 Jogja. Ia menyoroti keterlibatan anak usia sekolah yang masih berada di luar rumah hingga dini hari.

Korban, seorang pelajar berinisial AA (17), meninggal dunia setelah menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan sekelompok orang tak dikenal pada Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 03.30 WIB.

Hasto menilai peristiwa tersebut menunjukkan masih adanya persoalan pengawasan terhadap anak-anak, baik dari lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Ini kan keprihatinan anak usia sekolah, usianya belum 20 tahun, malam hari ada di jalanan sampai jam 04.00 WIB,” ujar Hasto, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, keberadaan remaja di jalan pada malam hari meningkatkan risiko terjadinya konflik antarsesama anak muda yang dipicu emosi sesaat.

Ia pun meminta orang tua lebih ketat dalam mengawasi aktivitas anak, terutama pada malam hari.

“Saya harap orang tua lebih hati-hati. Anak-anak di malam hari masih di jalanan,” katanya.

Hasto juga menyampaikan belasungkawa dan berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di Kota Jogja.

“Saya ikut belasungkawa, mudah-mudahan ini tidak terjadi lagi di Jogja,” ucapnya.

Selain aspek pengawasan, Pemkot Jogja juga menyoroti pentingnya pencegahan melalui pendekatan kesehatan mental pada pelajar.

Hasto menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY karena sebagian besar siswa tingkat SMA/SMK berada di bawah kewenangan provinsi.

Sementara untuk siswa SMP yang menjadi kewenangan Pemkot Jogja, pemerintah akan memperkuat upaya pencegahan klitih melalui skrining kesehatan mental di sekolah.

“Anak SMP harus kita berikan skrining kalau ada sedikit mental disorder. Saya sudah bilang ke Disdikpora Kota Jogja, kepala sekolah, dan guru bimbingan konseling,” ujarnya.

Menurut Hasto, sekolah diminta lebih aktif mengidentifikasi siswa yang berpotensi mengalami gangguan psikologis agar dapat segera ditangani.

Pemkot juga berencana menambah layanan psikolog dan psikiater untuk mendukung tindak lanjut hasil skrining melalui sekolah maupun rujukan puskesmas.

“Kita tambah psikolog dan psikiater untuk melayani yang dirujuk di sekolah itu dan rujukan puskesmas,” katanya.

Pemerintah Kota Jogja berharap langkah ini dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan kekerasan remaja sekaligus memperkuat perlindungan terhadap pelajar di wilayah kota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |