Delegasi Uni Eropa saat berkunjung di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada Minggu (30/11/2025) - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Deputi Kepala Perwakilan Uni Eropa (UE) untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Stephane Mechati, menilai Indonesia memiliki budaya keberagaman yang belum banyak dipahami masyarakat Eropa, terutama soal pengakuan resmi terhadap enam agama.
Hal ini diungkapkannya dalam dialog lintas agama dan budaya yang digelar Indonesia dan Uni Eropa pada Rabu (26/11/2025) hingga Senin (1/12/2025). Delegasi UE juga dibawa mengunjungi sejumlah rumah ibadah, salah satunya ialah Candi Borobudur di Magelang, yang dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan berada di wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim.
Kontras geografis dan historis inilah yang menurut Mechati memperlihatkan bagaimana keragaman hidup berdampingan di Indonesia. Menurutnya, sebagian warga Eropa masih memiliki persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang sepenuhnya Muslim. Oleh karena itu, pengalaman langsung penting untuk memperluas pemahaman mereka tentang realitas sosial Indonesia yang jauh lebih kompleks.
“Tidak banyak negara yang mengakui secara resmi enam agama. Di Indonesia, banyak yang menganggap bahwa ini adalah negara Muslim. Namun, pada kenyataannya, Indonesia adalah negara yang sangat beragam,” ujar Mechati di sela-sela kunjungan di Candi Borobudur, Minggu (30/11/2025).
Mechati menambahkan bahwa sebagian besar warga Eropa belum memahami keragaman ini, sama halnya dengan warga Indonesia yang belum sepenuhnya mengenal keragaman di Eropa. Kondisi ini, menurutnya, membuat pertukaran gagasan lintas kawasan menjadi semakin relevan.
“Saat ini, banyak orang Eropa yang belum memahami dan mengenal sisi Indonesia ini, sebagaimana banyak orang Indonesia yang belum mengenal Eropa,” kata dia.
Ia menilai Indonesia dan Eropa memiliki banyak kesamaan, terutama dalam upaya menjaga keberagaman di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Mechati merujuk pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menurutnya selaras dengan prinsip kesatuan dalam keberagaman yang juga diterapkan di Uni Eropa.
“Indonesia dan Eropa punya banyak kesamaan, salah satunya dalam keberagaman agama dan budaya. Di Indonesia dikenal simbol Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Kami di Eropa juga menerapkan itu,” tuturnya.
Menurut Mechati, pemahaman lintas budaya bukan hanya soal toleransi, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih kuat antara masyarakat Indonesia dan Eropa. Ia berharap pertukaran pemikiran yang terjadi dapat memperkaya cara kedua wilayah melihat diri sendiri maupun pihak lain. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































