Pelayat memberi pengormatan terakhir pada mendiang John Tobing, di Rumah Duka RS Bethesda Arimetea, Kamis (26/2 - 2026). / Harian Jogja/Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Kabar wafatnya pencipta lagu Darah Juang, Johnsony Maharsak Luman Tobing atau John Tobing, meninggalkan duka mendalam sekaligus mengenang kembali jejak perjuangan aktivisme mahasiswa yang pernah mengguncang era Orde Baru. Sosok aktivis dan seniman ini dikenang sebagai simbol keberanian melawan ketidakadilan serta inspirasi lintas generasi.
Suasana rumah duka di RS Bethesda Arimetea dipenuhi pelayat sejak Kamis (26/2/2026), seusai jenazah dipindahkan dari RSA Universitas Gadjah Mada (UGM). John Tobing wafat pada Rabu, Rabu, (25/2/2026), akibat komplikasi stroke yang dideritanya. Rencananya, jenazah dimakamkan pada Sabtu, (28/2/2026).
Beberapa aktivis senior hingga tokoh politik tampak hadir memberikan penghormatan terakhir. Salah satunya mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang datang mengenakan kemeja putih dan menyapa keluarga mendiang dengan penuh haru.
Ganjar mengenang John Tobing sebagai figur penting dalam gerakan mahasiswa saat rezim Orde Baru. Ia menyebut keduanya berasal dari almamater yang sama di UGM, meskipun berbeda angkatan.
“Dia setahun di atas saya di UGM. Saya banyak belajar dari dia. Dia tokoh yang hebat," ujarnya.
Menurut Ganjar, hal paling membekas dari sosok John Tobing adalah keberaniannya membela kebenaran tanpa rasa takut, meski situasi politik saat itu sangat represif.
“Tidak ada rasa minder dan dia tampil utuh sebagai seorang aktivis. Itu yang pada era itu situasinya mengerikan karena melawan orde baru,” katanya.
John Tobing dikenal sebagai salah satu aktivis yang berani menentang kekuasaan hingga akhirnya menciptakan lagu Darah Juang yang menjadi simbol perlawanan mahasiswa. Ganjar pun berpesan kepada generasi muda agar terus melanjutkan perjuangan tersebut dengan nurani. “Perjuangan dengan nurani," ungkapnya.
Jejak Aktivisme Sejak Kampus
Kenangan lain datang dari Untoro Hariadi, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Janabadra sekaligus kandidat Bupati Bantul 2024, yang mengaku telah mengenal John Tobing sejak masa kuliah di UGM. Ia menggambarkan mendiang sebagai pribadi eksentrik namun humanis dengan solidaritas tinggi.
“Tahun 29 Oktober 1988 untuk memperingati 80 tahun Sumpah Pemuda. Tapi kita ambil satu harinya supaya beritanya tidak tertutup. Itu demonstrasi pertama setelah NKK/BKK [Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan]. Kami waktu itu acaranya di BPK Fisipol yang dekat Blimbingsari. Nah, saya sama John menjadi penggerak untuk itu dari fakultas-fakultas,” paparnya.
Untoro menuturkan hubungan persahabatan mereka terjalin erat hingga kehidupan keluarga masing-masing.
“Jadi pertemanan sampai hari ini, bahkan sampai tingkat keluarga. Kami sudah berkeluarga, John berkeluarga, itu misal lebaran pasti Mbak Dona, istrinya, itu ke rumah atau sebaliknya,” katanya.
Menurutnya, John Tobing tetap aktif dalam gerakan hingga masa reformasi, termasuk mengadvokasi kasus penggusuran seperti Kedung Ombo dan berbagai persoalan rakyat lainnya.
“Tahun 88, 89, 90, terus itu kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, karena John itu lulus 93, saya 92. Tapi demonstrasi terus, sampai muncul adik-adik angkatan, kemudian ada nama Anies, ada nama Budiman,” ujarnya.
Detik-Detik Terakhir di Rumah Sakit
Putra almarhum, Gopas Kibar Syang Proudy, menjelaskan kondisi kesehatan ayahnya memang menurun sejak akhir November 2025. John Tobing beberapa kali keluar-masuk rumah sakit hingga akhirnya dirawat intensif.
Ia mengatakan ayahnya mengalami henti jantung saat berada di ruang ICU sekitar pukul 20.45.
Setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Hermina, John Tobing kemudian dipindahkan ke RSA UGM pada hari yang sama sebelum akhirnya meninggal dunia.
Sebagai anak, Gopas mengaku selalu mengidolakan sosok ayahnya. Namun di rumah, John tetap tampil sederhana seperti orang tua pada umumnya.
“Saya takjub karena melihat kawan-kawan yang datang semuanya dengan lagu-lagu yang diciptakannya,” kata dia.
Menurutnya, sang ayah memiliki harapan agar lagu Darah Juang terus dinyanyikan di mana pun tanpa mempersoalkan hak cipta, karena tujuan utamanya adalah menyebarkan semangat perjuangan.
“Kalaupun dinyanyikan di mana pun, Bapak malah senang. Tidak perlu hak cipta segala macam karena dia ingin lagunya dikenal di semua penjuru Indonesia,” ungkapnya.
Warisan Lagu Perlawanan
Aktivis Jogja, Baharuddin Kamba, menegaskan lagu Darah Juang merupakan lagu wajib yang mengiringi gerakan mahasiswa saat memperjuangkan reformasi 1998. Hingga kini lagu tersebut masih kerap dikumandangkan dalam berbagai aksi demonstrasi.
“Saya menyempatkan diri datang langsung ke RSA UGM guna menyampaikan duka cita kepada keluarga almarhum John Tobing. Saya berharap meskipun raga John Tobing telah tiada namun semangat memperjuangkan keadilan dan melawan kezaliman tak akan pernah mati,” tegasnya.
Johnsony Maharsak Luman Tobing lahir pada 1 Desember 1965 di Sumatera Utara. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Filsafat UGM sejak 1986 dan aktif dalam berbagai organisasi gerakan mahasiswa. Lagu Darah Juang yang diciptakannya sekitar 1991 hingga kini masih menjadi simbol perjuangan mahasiswa dan gerakan rakyat di berbagai daerah di Indonesia, sekaligus menandai warisan ideologis yang terus hidup melampaui generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































