
Fenomena embun upas kembali muncul di Dieng dengan suhu mencapai minus 6 derajat Celsius, memicu lonjakan kunjungan wisatawan saat libur sekolah. /Antara.
Harianjogja.com, BANJARNEGARA—Fenomena embun upas kembali menyelimuti Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau tahun ini. Kemunculan embun es yang bertepatan dengan libur sekolah menjadi magnet baru yang mendorong lonjakan kunjungan wisatawan ke kawasan wisata di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo tersebut.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Banjarnegara mencatat fenomena alam khas Dieng itu terus menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan hamparan kristal es tipis di permukaan rumput dan tanaman saat suhu udara turun drastis pada dini hari.
Embun Upas Kembali Muncul di Musim Kemarau
Kepala Dinparbud Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, menjelaskan embun upas merupakan fenomena alam yang memang rutin terjadi di Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, setiap musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus ketika suhu udara dapat berada di bawah titik beku.
"Ini merupakan fenomena alam yang memang terjadi. Biar masyarakat tahu dan wisatawan juga banyak hadir ke sana untuk menikmati suasana ini," katanya di Banjarnegara, Kamis.
Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, suhu udara di kawasan tersebut umumnya berkisar antara minus 1 derajat Celsius hingga minus 2 derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, suhu bahkan dapat turun lebih rendah.
Menurut Tursiman, embun upas telah lama menjadi salah satu ikon wisata musiman Dieng yang selalu dinantikan wisatawan, khususnya saat musim kemarau bertepatan dengan masa libur sekolah.
Dinparbud Banjarnegara juga terus mempromosikan fenomena tersebut agar semakin banyak wisatawan datang ke Dieng dengan tetap menjaga kelestarian kawasan wisata dan memperhatikan kondisi cuaca.
Libur Sekolah Dongkrak Kunjungan Wisatawan
Kepala Bidang Kelembagaan, Sumber Daya Manusia dan Pemasaran Dinparbud Banjarnegara, Eko Sri Wurjani Juniasih, mengatakan kemunculan embun upas pada masa libur sekolah memberikan dampak positif terhadap peningkatan jumlah wisatawan.
"Alhamdulillah ini bertepatan dengan liburan sekolah. Kunjungan sangat signifikan naiknya karena terkait isu embun upas. Banyak wisatawan yang tertarik karena fenomena alam ini memang jarang terjadi, sehingga mereka beramai-ramai datang ke Dieng, banyak juga yang berwisata bersama keluarga," katanya.
Ia mengungkapkan, selama musim kemarau tahun ini embun upas telah muncul sekitar enam hingga tujuh kali. Fenomena tersebut pertama kali terlihat pada awal Juni ketika suhu udara mencapai sekitar minus 2 derajat Celsius dan kembali muncul beberapa kali pada awal Juli.
Bahkan pada Kamis (9/7) pagi, berdasarkan pencatatan Unit Pelaksana Teknis Daerah Dieng, suhu udara di kawasan tersebut mencapai minus 6 derajat Celsius.
Jumlah Wisatawan Terus Meningkat
Menurut Eko, embun upas memberikan kontribusi besar terhadap meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Dataran Tinggi Dieng sepanjang 2026.
“Berdasarkan data penjualan tiket, jumlah wisatawan ke Dieng sepanjang 2026 menunjukkan tren meningkat, yakni Januari sebanyak 69.225 orang, Februari 32.982 orang, Maret 87.031 orang, April 68.799 orang, Mei 89.793 orang, dan Juni 131.970 orang. Sementara pada periode 1-9 Juli 2026 jumlah wisatawan telah mencapai 67.421 orang,” katanya.
Pihaknya berharap suhu dingin yang memicu terbentuknya embun upas masih berlangsung hingga pelaksanaan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 pada 28–30 Agustus 2026.
Apabila fenomena tersebut kembali muncul saat festival berlangsung, embun upas diperkirakan akan menjadi daya tarik tambahan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Dataran Tinggi Dieng.
Apa Itu Embun Upas?
Embun upas atau embun es merupakan lapisan kristal es tipis yang terbentuk di permukaan rumput dan tanaman akibat suhu udara yang sangat rendah pada malam hingga dini hari.
Fenomena alam ini hampir selalu muncul pada musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng dan telah menjadi salah satu daya tarik wisata musiman yang paling dinantikan wisatawan setiap tahunnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































