Kutukan Trump Diyakini Penyebab AS Tersingkir di Piala Dunia

2 hours ago 2

Jumali

Jumali Kamis, 09 Juli 2026 23:17 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Kekalahan telak tuan rumah Amerika Serikat dari Belgia dengan skor 1-4 di babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menyisakan kekecewaan bagi para pendukung Timnas AS, tetapi juga memicu perbincangan baru yang hangat di media sosial.

Istilah "Trump Curse" atau "Kutukan Trump" menjadi topik yang ramai dibahas setelah Presiden AS Donald Trump ikut terseret dalam kontroversi pertandingan tersebut.

Bagi masyarakat awam yang mungkin hanya mengikuti hasil pertandingan, fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana intervensi politik dalam olahraga bisa memicu reaksi berlebihan dari publik, bahkan hingga melahirkan narasi mistis di dunia maya.

Sejumlah pengguna media sosial menyebut campur tangan Trump kerap membawa nasib buruk bagi tim nasional Amerika Serikat.

Perdebatan bermula setelah Trump mengaku telah menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino terkait kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun. Langkah tersebut memicu kritik dari berbagai pihak dan memunculkan tudingan adanya intervensi politik terhadap keputusan sepak bola.

Kontroversi itu bahkan mendorong munculnya seruan dari sejumlah pihak di Eropa agar proses pengambilan keputusan FIFA diselidiki. Sebagian anggota parlemen Eropa juga dilaporkan mendorong investigasi untuk memastikan tidak ada tekanan politik dalam pencabutan sanksi terhadap Balogun. Meski demikian, kontroversi tersebut tidak membantu performa Amerika Serikat. Tuan rumah tersingkir setelah kalah telak 1-4 dari Belgia.

Di media sosial, banyak warganet mengaitkan hasil tersebut dengan apa yang mereka sebut sebagai "Kutukan Trump".

"Pada titik ini, dukungan Trump mulai terlihat bukan sebagai dukungan, melainkan kutukan," tulis salah seorang pengguna media sosial, mengutip Euro News, Kamis (9/7/2026).


Pengguna lain menulis, campur tangan Trump justru membuat simpati publik dunia berbalik mendukung Belgia. Narasi "Kutukan Trump" pun dengan cepat menyebar dan menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.

Tak hanya soal sepak bola, peristiwa olahraga lain yang kerap dikaitkan warganet dengan "kutukan" tersebut juga muncul. Salah satunya terjadi pada final National Basketball Association 2025 ketika Trump menghadiri laga ketiga antara New York Knicks dan lawannya.

Knicks kalah dalam pertandingan tersebut, yang menjadi satu-satunya kekalahan mereka di seri final. Sebagian penggemar bahkan melakukan ritual membakar tanaman sage di Madison Square Garden untuk "menghilangkan kutukan".

Setelah itu, Knicks berhasil memenangi seri final. Narasi serupa juga muncul dalam sejumlah ajang olahraga lain, termasuk pertandingan National Football League, Ryder Cup, hingga Super Bowl LIX. Dalam Super Bowl LIX, Trump secara terbuka mendukung Kansas City Chiefs. Namun, tim tersebut akhirnya kalah 22-40 dari Philadelphia Eagles.

Meski begitu, istilah "Trump Curse" hanya merupakan sebutan yang berkembang di media sosial dan belum memiliki dasar fakta maupun bukti ilmiah. Tidak ada hubungan kausal yang terbukti secara statistik antara kehadiran atau dukungan Trump dengan kekalahan tim yang ia dukung.

Namun, fenomena ini menarik untuk dicermati sebagai cerminan bagaimana opini publik dapat dengan cepat membentuk narasi, terutama di era media sosial yang serba cepat. Bagi pembaca di Indonesia, kisah "Kutukan Trump" ini mungkin terasa akrab dengan budaya kita yang juga kerap mengaitkan nasib buruk dengan berbagai hal mistis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |