Sri Lestari Boyolali raih empat medali ASEAN Para Games 2026 Thailand, dua perak dan dua perunggu, mengharumkan Indonesia di kancah ASEAN. - Istimewa.
Harianjogja.com, BOYOLALI—Atlet anggar kursi roda asal Desa Teter, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Sri Lestari, 47, sukses mengharumkan nama Indonesia dengan meraih empat medali di ASEAN Para Games 2026 Thailand, yakni dua perak dan dua perunggu.
Sri Lestari kini masih berada di Thailand, menyelesaikan rangkaian pertandingan yang berlangsung hingga 27 Januari 2026. Atlet yang juga dikenal sebagai penjual es teh jumbo ini berangkat sejak 15 Januari 2026.
“Saya dapat empat medali, dua perak dan dua perunggu. Dua dari nomor beregu dan dua dari nomor perorangan. Medali peraknya dari beregu,” kata Sri Lestari dilansir Espos, Minggu (25/1/2026).
Menjelang keberangkatan ke Thailand, Sri Lestari melakukan latihan mandiri di Wisma Sejahtera Solo selama tiga bulan, sekitar tiga kali seminggu menyesuaikan kesibukannya. Latihannya tidak sepadat atlet lain karena ia tetap mengelola usaha es teh jumbo di rumah, memastikan kebutuhan sehari-hari dan uang saku anak terpenuhi.
“Saya tetap jualan es teh jumbo. Kalau ada pesanan ya saya layani, itu untuk kebutuhan rumah tangga dan anak. Kalau teman-teman bisa latihan rutin, saya menyesuaikan dengan waktu senggang,” ujarnya.
Selain es teh jumbo, Sri Lestari juga menjual produk musiman, seperti durian, mengikuti permintaan masyarakat setempat.
Peran Mendiang Suami
Kesuksesan Sri Lestari sebagai atlet tidak lepas dari dukungan mendiang suaminya, Muhammad Ra’i. Sebelum terjun ke olahraga, ia adalah penjual makanan di Solo dan kemudian terdorong ikut seleksi atlet difabel setelah mengenal suaminya yang merupakan atlet.
Pada 2010, Sri Lestari lolos seleksi National Paralympic Committee (NPC) Solo, dan setahun kemudian menjadi atlet voli duduk, meraih medali emas di tingkat ASEAN. Prestasi ini berlanjut dengan medali emas pada ASEAN Para Games 2012 dan 2014 di Myanmar.
Selain voli duduk, ia sempat menekuni cabang atletik, seperti lempar cakram, lempar lembing, dan tolak peluru. Pada 2016, Sri Lestari meraih medali perak voli duduk di Peparnas Bandung. Untuk anggar kursi roda, ia sukses meraih medali perunggu Asian Para Games 2018.
Namun, ia sempat vakum cukup lama setelah suaminya meninggal pada 2020–2021, menolak beberapa tawaran lomba karena kondisi hati belum siap. “Suami selalu mendukung saya, baik jualan maupun jadi atlet. Dia bilang saya telat jadi atlet karena sudah tua, tapi saya percaya tidak ada kata terlambat selama ada tekad,” katanya.
Kini Sri Lestari juga membesarkan seorang anak laki-laki yang duduk di kelas XII SMAN 1 Simo. Sejak kecil, anaknya terbiasa mandiri karena ibunya kerap mengikuti pelatnas.
Menurut Istiqomah, orang tua atlet ASEAN Para Games asal Simo, Sri Lestari dan mendiang suaminya dikenal sebagai pasangan atlet yang gigih dan saling mendukung, memberi inspirasi bagi generasi muda, termasuk atlet Karisma Evi Tiarani.
Berdasarkan laman resmi Pemkab Boyolali, lima atlet NPC Kabupaten Boyolali mewakili Indonesia pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand, antara lain Karisma Evi Tiarani dan David Subiyantoro (para atletik), Sri Lestari dan Dwi Lestari (anggar kursi roda), serta Suci Kirana Dewi (boccia). Para atlet berpamitan dengan Bupati Boyolali Agus Irawan sebelum keberangkatan, dan Pemkab Boyolali memberi dukungan penuh agar mereka meraih prestasi terbaik serta mengharumkan nama daerah dan Indonesia di tingkat ASEAN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Espos


















































