
Ilustrasi kondisi arus lalu lintas di Jalan Malioboro saat akhir pekan/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja belum menetapkan target waktu penerapan penutupan akses di sejumlah sirip Malioboro. Uji coba masih dilakukan untuk memastikan kebijakan tersebut tidak menyulitkan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan lansia.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan Pemkot Jogja telah berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengenai rencana penutupan sejumlah akses di kawasan Malioboro.
Komunikasi tersebut dilakukan setelah sebelumnya Dinas Perhubungan DIY melakukan penutupan akses ketika terdapat kegiatan di kawasan Malioboro.
“Sudah, kami sudah komunikasi. Waktu itu karena ada kegiatan di Malioboro, Dinas Perhubungan [Dishub] provinsi [DIY] melakukan penutupan karena ada kegiatan di Malioboro,” katanya saat ditemui di Balaikota Jogja pada Senin (7/9/2026).
Penutupan Sirip Malioboro Tak Akan Kaku
Hasto menjelaskan penutupan akses yang dilakukan saat kegiatan di Malioboro hanya berlangsung sekitar tiga jam. Berbeda dengan penutupan sirip Malioboro yang direncanakan lebih permanen, Pemkot perlu melakukan perencanaan secara lebih matang.
Ia menegaskan kebijakan tersebut tidak akan diterapkan secara kaku. Pemkot terlebih dahulu akan menentukan akses yang perlu ditutup, kemudian melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Saya sudah sampaikan ke Provinsi, ke Kepala Dishub bahwa kami akan mengujicoba yang ada dengan cara bertahap dan tidak saklek. Penutupan itu tidak kaku,” ujarnya.
Menurut Hasto, terdapat sejumlah kawasan yang aksesnya masih sangat bergantung pada jalur melalui Malioboro. Akses menuju kawasan tersebut karena itu tetap akan dipertahankan.
“Ada daerah yang betul-betul tidak bisa masuk ke situ kecuali lewat Malioboro. Itu pasti masih akan diberi akses. Jangan khawatir,” katanya.
Uji Coba Dilakukan di Beskalan-Ketandan
Saat ini, Pemkot Jogja tengah melakukan uji coba penutupan akses di kawasan Beskalan-Ketandan.
Lokasi tersebut dipilih karena apabila penutupan dilakukan, masih tersedia ruang bagi kendaraan untuk keluar, berputar, maupun menuju area parkir.
Selain melakukan rekayasa akses, Pemkot Jogja juga mempertimbangkan perubahan posisi sejumlah fasilitas di kawasan Malioboro.
Salah satunya adalah usulan agar posisi Rekol Ayom sedikit dimajukan ke arah tepi Jalan Malioboro.
Langkah tersebut diharapkan tetap memberikan ruang pada selasar sehingga masyarakat masih dapat berlalu-lalang sekaligus masuk menuju kawasan sirip Malioboro.
Hasto Tampung Masukan dari Berbagai Tokoh
Hasto mengatakan gagasan perubahan posisi fasilitas tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Ia mengaku memperoleh sejumlah masukan setelah bertemu dengan berbagai tokoh, termasuk dari kalangan perhotelan, pada Rabu lalu.
“Ini baru mau saya usulkan. Setelah kemarin hari Rabu saya didatangi banyak sekali tokoh-tokoh, dari hotel juga. Saya seperti pasar di sini, ramai sekali. Ada ide-ide yang menarik, akan saya diskusikan,” ujarnya.
Malioboro Full Pedestrian Belum Dipatok November
Sementara itu, terkait target penerapan Malioboro full pedestrian, Hasto belum memastikan apakah kebijakan tersebut akan diterapkan pada November mendatang.
Pemkot Jogja tidak ingin terburu-buru menetapkan tenggat sebelum solusi atas persoalan akses benar-benar tersedia.
“Kami tidak mematok target November [2026]. Saya mengondisikannya betul-betul setelah tersolusi. Sudah ada, jalan solusinya, baru kita eksekusi. Setelah solusi, baru eksekusi,” katanya.
Dengan demikian, penerapan penutupan sirip Malioboro masih akan dilakukan melalui tahapan uji coba dan pembahasan. Pemkot Jogja memastikan persoalan akses menjadi salah satu pertimbangan sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































