49 Orang Diduga Keracunan Usai Santap MBG, SPPG Turi Sleman Hentikan Operasional

2 hours ago 1

Harianjogja.com, SLEMAN— Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Turi Wonokerto, Sleman, dihentikan sementara setelah 49 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gejala gangguan pencernaan diduga keracunan. Dari jumlah tersebut, 48 orang merupakan siswa dan satu lainnya adalah guru.

Gejala dugaan keracunan berupa mual, pusing, hingga muntah dilaporkan setelah penerima manfaat mengonsumsi makanan MBG pada Senin (7/9/2026). Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman menyatakan penanganan terhadap penerima manfaat menjadi prioritas utama sembari menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kejadian.

Kepala KPPG Sleman, Harsono Budi Waluyo, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai indikasi gangguan pencernaan pada sejumlah penerima manfaat MBG dari SPPG Turi Wonokerto pada Senin (7/9/2026).

"Dari jumlah tersebut, 48 orang merupakan siswa dan 1 orang guru," terang Harsono dalam rilis tertulis pada Senin (7/9/2026) malam.

45 Orang Ditangani di Puskesmas

Harsono menjelaskan sebanyak 45 orang yang mengalami gejala telah mendapatkan penanganan di Puskesmas. Sementara itu, tiga orang menjalani rawat jalan di RSUD Sleman dan satu orang masih menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut.

"Kondisi mayoritas penerima manfaat yang mengalami gejala dilaporkan telah membaik dan telah kembali ke rumah masing-masing," ungkapnya.

Pada hari kejadian, SPPG Turi Wonokerto diketahui menyalurkan MBG kepada 2.682 penerima manfaat. Menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, bola-bola sapi goreng, edamame, kari kol wortel, dan semangka kuning.

Setelah menerima laporan adanya penerima manfaat yang mengalami gejala gangguan pencernaan, KPPG Sleman bersama tim SPPG langsung berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Koordinasi dilakukan bersama sekolah, Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Kepolisian, dan Koramil.

"Sebagai langkah kehati-hatian dan untuk memastikan keamanan penerima manfaat, distribusi MBG pada kloter berikutnya dihentikan sementara setelah adanya laporan gejala gangguan pencernaan," kata Harsono.

Penghentian distribusi tersebut menjadi langkah sementara untuk mencegah munculnya persoalan serupa sembari proses pemeriksaan dilakukan. KPPG Sleman juga memastikan kondisi penerima manfaat terus dipantau oleh pihak terkait.

Sampel Makanan dan Air Diperiksa

Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman juga telah mengambil sampel makanan dari SPPG Turi Wonokerto. Sampel tersebut berasal dari makanan yang telah disimpan maupun makanan dari proses produksi terakhir.

Selain makanan, sampel air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan di SPPG juga diambil untuk diperiksa. Seluruh sampel selanjutnya akan melalui pemeriksaan sesuai prosedur guna mengetahui penyebab munculnya gangguan kesehatan pada penerima manfaat.

KPPG Sleman menegaskan penyebab kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Pemeriksaan masih dilakukan oleh pihak berwenang sehingga masyarakat diminta tidak membuat kesimpulan sebelum hasil laboratorium dan kajian instansi terkait keluar.

"KPPG Sleman menegaskan bahwa penyebab gangguan pencernaan tersebut belum dapat disimpulkan dan masih dalam proses pemeriksaan oleh pihak berwenang. Oleh karena itu, KPPG Sleman mengimbau seluruh pihak untuk tidak berspekulasi sampai hasil pemeriksaan laboratorium dan kajian dari instansi terkait diperoleh," ujarnya.

SOP Higiene dan Sanitasi Dievaluasi

Selain menghentikan operasional SPPG, KPPG Sleman akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses produksi dan distribusi MBG di SPPG Turi Wonokerto.

Evaluasi tersebut mencakup penerapan standar operasional prosedur (SOP) higiene dan sanitasi, pengawasan proses pengolahan makanan, serta sistem pengendalian mutu dan keamanan pangan.

"Termasuk memperketat penerapan SOP higiene dan sanitasi, pengawasan proses pengolahan makanan, serta sistem pengendalian mutu dan keamanan pangan di SPPG," tuturnya.

Harsono memastikan operasional SPPG Turi Wonokerto saat ini telah dihentikan. Menurut dia, penanganan terhadap penerima manfaat menjadi fokus utama KPPG Sleman hingga seluruh proses pemeriksaan dan evaluasi selesai.

"KPPG Sleman memastikan penanganan terhadap penerima manfaat menjadi prioritas utama serta akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait sampai proses pemeriksaan dan evaluasi selesai, saat ini operasional SPPG telah diberhentikan," tukasnya.

Sebelumnya 45 Siswa Dibawa ke Puskesmas Turi

Sebelum KPPG Sleman menyampaikan perkembangan terbaru, sebanyak 45 siswa dari tiga sekolah di Kapanewon Turi dilaporkan mengalami pusing, mual, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan MBG pada Senin (7/9/2026). Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Turi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Kepala Puskesmas Turi, Dyah Arum Retnaningtyas, mengatakan sejumlah siswa mulai dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) Puskesmas sekitar pukul 09.30 WIB. Pada tahap awal, sebanyak 24 siswa SMPN 3 Turi dan dua siswa SD Muhammadiyah Balerante datang untuk menjalani pemeriksaan.

"Kebanyakan memang mengeluh pusing, mual, muntah, sakit perut, menyatakan memang tadi setelah makan MBG, seperti itu," jelas Dyah pada Senin (7/9/2026) siang.

Para siswa kemudian mendapatkan penanganan dari tim medis Puskesmas Turi. Selain pemeriksaan, sejumlah obat-obatan juga diberikan kepada siswa yang mengalami keluhan.

"Sudah kami lakukan penanganan dengan pemeriksaan, kemudian kita berikan obat-obatan juga, dan alhamdulillah semuanya sudah pulang," terangnya.

Sekitar pukul 11.30 WIB, Puskesmas Turi kembali menerima 19 siswa dari SMK Muhammadiyah 1 Turi. Para siswa tersebut juga mendapatkan perawatan dan pemeriksaan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

"Sekitar jam 11.30 itu datang lagi 19 siswa dari SMK Muhammadiyah 1 Turi. Saat ini juga alhamdulillah sudah tertangani semua dan sudah pulang semua," tuturnya.

Dyah mengatakan seluruh siswa yang sempat mendapatkan pemeriksaan di Puskesmas Turi telah dipulangkan. Namun, ia menerima informasi mengenai dua siswa yang langsung dibawa pihak sekolah ke RSUD Sleman.

"Jadi sudah tidak ada pasien yang masih dirawat di Puskesmas Turi," jelasnya.

Perkembangan tersebut kemudian ditindaklanjuti KPPG Sleman dengan melakukan koordinasi lintas instansi dan menghentikan operasional SPPG Turi Wonokerto. Pemeriksaan terhadap sampel makanan dan air kini menjadi bagian dari proses untuk mengetahui penyebab gangguan pencernaan yang dialami penerima manfaat.

Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di SPPG tersebut. KPPG Sleman juga menegaskan penguatan higiene, sanitasi, pengawasan pengolahan makanan, serta keamanan pangan akan menjadi bagian dari tindak lanjut sebelum operasional kembali dijalankan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |