
Nozzle BBM - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA— Kebiasaan berganti-ganti bahan bakar minyak (BBM) kerap dilakukan pengemudi, baik karena ingin mencoba produk lain maupun mencari konsumsi bahan bakar yang dianggap lebih efisien. Namun, bukan semata-mata pergantian merek BBM yang perlu menjadi perhatian, melainkan kesesuaian jenis bahan bakar dengan spesifikasi mesin kendaraan.
Setiap BBM memiliki karakteristik dan nilai oktan yang berbeda. Sementara itu, mesin kendaraan modern dirancang bekerja dengan spesifikasi tertentu sehingga penggunaan BBM sebaiknya mengikuti rekomendasi yang diberikan pabrikan.
Karena itu, pengemudi yang terbiasa berpindah dari satu jenis BBM ke jenis lainnya, misalnya dari Pertamax ke Pertalite, perlu memahami dampaknya terhadap kendaraan. Hal yang sama berlaku ketika pengemudi mencampurkan beberapa jenis BBM secara tidak konsisten dalam satu tangki.
Perubahan jenis BBM tidak serta-merta membuat mesin rusak. Namun, penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan kebutuhan mesin secara terus-menerus dapat memengaruhi karakter pembakaran dan efisiensi kendaraan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Performa Mesin Bisa Berubah
Perbedaan nilai oktan dapat memengaruhi karakter pembakaran pada mesin yang memiliki kebutuhan bahan bakar tertentu. Jika BBM yang digunakan tidak sesuai rekomendasi kendaraan, pengemudi dapat merasakan perubahan respons mesin, termasuk tenaga yang tidak seoptimal biasanya.
Dalam kondisi tertentu, pembakaran yang tidak sesuai juga dapat membuat kerja mesin terasa kurang halus. Karena itu, spesifikasi BBM pada buku manual kendaraan menjadi acuan yang lebih penting daripada sekadar memilih bahan bakar berdasarkan merek.
2. Komponen Mesin Perlu Dilindungi
Piston, ring piston, dan katup atau klep merupakan bagian yang bekerja dalam proses pembakaran mesin. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan pada proses pembakaran dan memengaruhi kondisi komponen mesin dalam jangka panjang.
Namun, anggapan bahwa setiap pergantian BBM otomatis membuat komponen internal mesin cepat rusak perlu diluruskan. Risiko kerusakan lebih berkaitan dengan penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi, kualitas BBM, kondisi mesin, serta perawatan kendaraan.
3. Konsumsi BBM Bisa Menjadi Kurang Efisien
Pengemudi yang mengganti jenis BBM dengan harapan mendapatkan konsumsi lebih hemat tetap perlu memperhatikan spesifikasi mesin. BBM dengan karakteristik yang berbeda dapat menghasilkan respons dan efisiensi yang berbeda pula pada kendaraan tertentu.
Jika bahan bakar yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan mesin, efisiensi pembakaran dapat ikut terpengaruh. Akibatnya, penghematan yang diharapkan belum tentu benar-benar terjadi.
4. Emisi Gas Buang Dapat Terpengaruh
Kualitas pembakaran memiliki hubungan dengan emisi yang dihasilkan kendaraan. Pembakaran yang tidak berlangsung secara optimal dapat meningkatkan emisi gas buang dan pada kondisi tertentu turut memengaruhi kerja komponen pengendali emisi, termasuk catalytic converter.
Karena itu, penggunaan BBM sesuai rekomendasi pabrikan menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga sistem pembakaran dan pengendalian emisi kendaraan tetap bekerja sebagaimana mestinya.
5. Kerak di Ruang Bakar Perlu Diwaspadai
Residu hasil pembakaran dapat membentuk deposit atau kerak pada bagian tertentu dalam mesin. Kondisi tersebut tidak hanya ditentukan oleh pergantian merek BBM, tetapi juga dipengaruhi kualitas bahan bakar, formulasi aditif, kondisi mesin, pola berkendara, dan perawatan.
Jika deposit menumpuk, kinerja mesin dapat ikut terganggu. Karena itu, menjaga kondisi mesin dan menggunakan BBM yang sesuai spesifikasi tetap menjadi langkah penting untuk mencegah persoalan tersebut.
Apakah BBM Boleh Diganti?
Berganti BBM sesekali tidak berarti mesin kendaraan akan langsung mengalami kerusakan. Pengemudi tetap dapat beralih ke jenis BBM lain, tetapi sebaiknya memastikan bahan bakar yang dipilih memenuhi rekomendasi minimum dari pabrikan kendaraan.
Pengemudi juga tidak perlu menganggap tangki harus selalu dikosongkan terlebih dahulu sebelum berpindah jenis BBM. Yang lebih penting adalah memastikan BBM baru sesuai dengan spesifikasi mesin dan menghindari penggunaan bahan bakar yang berada di bawah kebutuhan kendaraan secara terus-menerus.
Jika ingin menggunakan BBM berbeda, perhatikan nilai oktan atau spesifikasi yang tercantum dalam buku manual kendaraan. Informasi tersebut menjadi rujukan utama karena kebutuhan setiap mesin tidak selalu sama.
Konsisten Sesuai Rekomendasi Pabrikan
Konsistensi penggunaan BBM sebaiknya dimaknai sebagai konsisten memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan mesin, bukan wajib menggunakan satu merek tertentu sepanjang usia kendaraan.
Dengan mengikuti rekomendasi pabrikan, pengemudi dapat menjaga proses pembakaran tetap sesuai kebutuhan mesin sekaligus membantu mempertahankan efisiensi dan kinerja kendaraan. Perawatan berkala juga tetap diperlukan karena kondisi mesin tidak hanya ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan.
Jadi, yang perlu dihindari bukan sekadar kebiasaan gonta-ganti BBM, melainkan penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi kendaraan secara terus-menerus. Dalam kondisi tertentu, pergantian BBM dapat dilakukan selama jenis bahan bakar tersebut memenuhi kebutuhan mesin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































