Gen Alpha Tak Perlu Mengikuti 5 Kebiasaan Parenting Era 90-an Ini

5 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA— Bagi sebagian generasi X dan Milenial, era 1990-an menyimpan banyak kenangan masa kecil yang sulit dilupakan. Bermain di luar rumah bersama teman, pulang menjelang malam, mendengarkan musik dari kaset, hingga menonton film dengan pilihan yang terbatas menjadi bagian dari keseharian sebelum ponsel pintar dan media sosial hadir.

Kenangan tersebut kemudian banyak diperkenalkan kembali kepada anak-anak, termasuk generasi Alpha. Bagi orang tua, nostalgia masa kecil bisa menjadi cara untuk menunjukkan kepada anak seperti apa kehidupan sebelum internet mendominasi keseharian.

Namun, tidak semua kebiasaan masa lalu perlu ikut diwariskan.

Sejumlah pola pikir yang dahulu dianggap biasa justru perlu ditinjau kembali agar pola pengasuhan anak saat ini tetap memperhatikan keamanan, kesehatan emosional, dan kebutuhan mereka.

Berikut lima kebiasaan yang sebaiknya tidak begitu saja diwariskan kepada gen Alpha.

1. Bermain Bebas Tanpa Pengawasan

Salah satu gambaran masa kecil yang banyak dirindukan adalah bermain bersama teman hingga matahari terbenam.

Anak-anak bisa pergi bermain tanpa terus-menerus ditemani orang tua dan biasanya baru pulang ketika hari mulai gelap atau menjelang waktu salat Magrib. Pengalaman tersebut kerap dikaitkan dengan kemandirian dan kreativitas.

Namun, kebebasan anak tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Mengutip Parents, tidak semua lingkungan aman untuk membuat anak bebas berkeliaran tanpa pengawasan. Membiarkan anak pergi tanpa mengetahui keberadaan dan aktivitasnya juga tidak otomatis menunjukkan pola asuh yang lebih baik.

Gen Alpha tetap membutuhkan kesempatan untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan. Orang tua dapat memberikan ruang tersebut dengan menetapkan batasan yang jelas dan memastikan keselamatan anak.

2. Menganggap Komentar tentang Tubuh sebagai Candaan

Komentar mengenai berat badan, bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan pernah menjadi hal yang dianggap biasa dalam percakapan sehari-hari.

Ucapan dari orang tua, kerabat, teman, bahkan guru terkadang disampaikan sebagai candaan atau dianggap sebagai cara untuk memotivasi anak.

Padahal, komentar semacam itu dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Tantangannya kini semakin besar karena anak juga terpapar media sosial. Mereka dapat lebih mudah membandingkan penampilan diri dengan orang lain yang dilihat melalui layar.

Karena itu, orang tua sebaiknya lebih berhati-hati ketika berbicara mengenai tubuh anak. Perhatian terhadap kesehatan tetap penting, tetapi tidak harus disampaikan dengan cara yang membuat anak merasa malu terhadap penampilannya.

3. Menganggap Perundungan Bisa Membentuk Mental

“Jangan manja.”

“Lawan saja.”

“Namanya juga anak-anak.”

Kalimat seperti itu mungkin pernah muncul ketika seorang anak mengalami perundungan. Ada anggapan bahwa menghadapi perlakuan tersebut tanpa banyak mengeluh akan membuat anak menjadi lebih kuat.

Cara pandang tersebut perlu ditinjau ulang.

Perundungan bukan sesuatu yang harus dialami anak agar memiliki mental kuat. Anak yang mengalaminya justru membutuhkan dukungan dan lingkungan yang membuat mereka merasa aman.

Masalahnya juga tidak berhenti di sekolah atau tempat bermain. Anak saat ini dapat mengalami perundungan melalui ruang digital sehingga pengalaman tersebut berpotensi terbawa hingga ke rumah.

Alih-alih meminta anak untuk “tahan saja”, orang tua dapat mengajarkan mereka mengenali perundungan, bercerita ketika mengalami masalah, serta meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.

4. Membiasakan Anak Memendam Emosi

Sebagian anak yang tumbuh pada masa lalu terbiasa mendengar pesan agar tidak terlalu cengeng, tidak banyak mengeluh, dan harus selalu kuat.

Akibatnya, membicarakan perasaan terkadang bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

Padahal, memiliki emosi merupakan bagian normal dari kehidupan anak. Sedih, takut, marah, kecewa, dan menangis tidak otomatis menunjukkan kelemahan.

Anak justru perlu belajar mengenali apa yang mereka rasakan dan bagaimana menyampaikannya dengan cara yang sehat.

Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana. Misalnya, ketika anak marah atau sedih, tanyakan apa yang membuat mereka merasakan hal tersebut. Setelah itu, bantu anak mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan.

Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar mengendalikan emosi, tetapi juga memahami dan mengelolanya.

5. Mengabaikan Panduan Usia pada Konten

Pada era 1990-an, akses terhadap informasi dan hiburan belum seluas sekarang. Orang tua juga tidak selalu memiliki informasi mengenai isi film, lagu, atau budaya pop yang dikonsumsi anak.

Mengutip Romper, pada masa tersebut sebagian orang tua dapat membiarkan anak menikmati film atau musik tanpa terlalu memperhatikan panduan usia maupun isi kontennya.

Kini situasinya berbeda.

Anak memiliki akses yang jauh lebih mudah terhadap film, musik, video, dan berbagai konten digital. Di sisi lain, orang tua juga memiliki lebih banyak perangkat untuk membantu mengatur konsumsi media anak.

Panduan usia, pengaturan orang tua, serta fitur parental control dapat digunakan untuk menyesuaikan konten dengan usia anak.

Orang tua juga dapat memeriksa terlebih dahulu isi film, lirik lagu, atau video yang ingin dikonsumsi anak. Dengan begitu, anak tetap bisa menikmati budaya populer tanpa harus mendapatkan konten yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.

Tidak Semua Nostalgia Harus Diwariskan

Mengenalkan masa kecil orang tua kepada gen Alpha bisa menjadi cara menarik untuk membangun kedekatan antargenerasi.

Anak dapat mengetahui permainan yang dahulu populer, mendengarkan musik yang pernah menemani masa muda orang tuanya, atau memahami seperti apa kehidupan sebelum internet dan media sosial menjadi bagian dari keseharian.

Namun, nostalgia tidak harus membuat seluruh kebiasaan masa lalu dipertahankan.

Ada pengalaman yang masih relevan, seperti memberi anak kesempatan bermain, mengeksplorasi lingkungan, dan berinteraksi langsung dengan teman.

Sebaliknya, kebiasaan yang berpotensi mengabaikan keselamatan anak, meremehkan perundungan, mempermalukan tubuh, atau mendorong anak memendam emosi dapat ditinggalkan.

Dengan begitu, yang diwariskan kepada gen Alpha bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan pengalaman dan pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak pada zamannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |