Harianjogja.com, SRAGEN — Puluhan warga di Dukuh Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen dilaporkan mengalami gejala Chikungunya selama masa pancaroba 2026. Warga yang terdampak umumnya mengeluhkan demam tinggi disertai nyeri hebat pada persendian hingga kesulitan beraktivitas.
Kasus ini terpusat di dua rukun tetangga, yakni RT 005 dan RT 006. Seorang warga setempat, Riko Mahananda, menyebutkan jumlah warga yang mengalami gejala mencapai 24 orang, dengan rincian 13 orang di RT 005 dan 11 orang di RT 006.
“Gejalanya nyeri sendi, badan terasa sakit semua. Sebagian sudah periksa ke dokter, ada yang mulai pulih, tapi ada juga yang masih dalam pemulihan,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Ia menambahkan, beberapa warga bahkan mengalami gejala cukup berat, seperti nyeri sendi ekstrem hingga tidak bisa berjalan, demam menggigil, serta munculnya bintik-bintik merah di kulit.
Penyakit chikungunya sendiri disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang juga dikenal sebagai vektor penyebab demam berdarah dengue (DBD). Gejala biasanya muncul dalam rentang 2 hingga 7 hari setelah gigitan nyamuk, terutama pada waktu sore hari.
Sebagai langkah penanganan awal, warga bersama pihak Puskesmas Ngrampal telah berkoordinasi untuk melakukan fogging serta kerja bakti membersihkan lingkungan. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal pekan guna menekan penyebaran nyamuk.
“Rencananya akan dilakukan fogging dan bersih-bersih lingkungan supaya penyebaran bisa dicegah,” kata Riko.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sragen, Sri Subekti, mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi. Meski demikian, setelah memperoleh informasi dari masyarakat, Dinas Kesehatan langsung berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk melakukan tindak lanjut.
Menurut Sri, penanganan chikungunya umumnya bersifat simptomatik, yakni dengan pemberian obat penurun demam dan pereda nyeri. Namun, upaya pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, terutama melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Pencegahan utama adalah menjaga kebersihan lingkungan, termasuk menguras tempat penampungan air dan membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan warga untuk memangkas tanaman liar atau perdu yang bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Dengan langkah kolektif antara warga dan pemerintah, diharapkan penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id


















































