Seorang petani di Kapanewon Bantul tengah menyemprotkan pestisida di lahan yang akan ditanami padi, Rabu (7/1 - 2026). DKPP setempat menargetkan luas tanaman komoditas itu mencapai 35.000 hektare pada tahun ini.
Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul menargetkan luas tanam padi sekitar 35.000 hektare pada 2026. Target tersebut diusahakan dengan strategi percepatan jarak tanam untuk memaksimalkan produktivitas lahan lantaran realisasi luas tanam 2025 yang belum tercapai.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo menjelaskan, target luas tanam 2025 berada di angka sekitar 34.500 hektare, tetapi realisasinya hanya mencapai 34.062 hektare. “Masih kurang sedikit. Dengan melihat kondisi itu, kami menargetkan sekitar 35.000 hektare tahun ini,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Menurut Joko, upaya yang akan ditempuh pihaknya yakni dengan mempercepat jarak tanam pascapanen. Petani didorong melakukan tanam ulang dalam rentang dua minggu hingga maksimal 20 hari atau paling lama tiga minggu setelah panen. “Kalau cepat tanam, waktunya masih longgar untuk nanam lagi,” kata Joko.
Dengan irigasi yang baik dan tanpa gangguan yang signifikan, langkah ini memungkinkan lahan ditanami minimal tiga kali setahun. Bahkan, pada varietas berumur pendek, peluang peningkatan indeks pertanaman jadi lebih tinggi.
Sementara dari sisi produktivitas, rata-rata hasil gabah kering panen (GKP) di Bantul sekitar 8 ton per hektare. Jika digiling, menghasilkan sekitar 6,4–6,5 ton beras. Pada 2025, total produksi gabah kering giling (GKG) Bantul mencapai hampir 199.000 ton. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Bantul sekitar 130.000 ton beras per tahun, berdasarkan konsumsi per kapita 62,54 kilogram per tahun (Susenas 2024).
“Artinya Bantul masih surplus sekitar 65.000 ton,” jelasnya.
Joko menambahkan, produksi padi tahun lalu sempat terganggu akibat perbaikan jaringan irigasi di beberapa wilayah yang berdampak pada pasokan air dan penurunan hasil. Adapun sentra produksi padi terbesar di Bantul masih tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Jetis, Bambanglipuro, dan Pandak.
“Tahun 2026 kami optimistis lebih baik daripada 2025,” pungkasnya.
Suwardi, petani di Kapanewon Bantul menilai kondisi cuaca saat ini yang cenderung lebih basah tidak menjadi kendala yang signifikan bagi pertumbuhan tanaman padi. “Musim hujan justru bagus untuk pertumbuhan padi, terutama yang baru masuk masa tanam,” ujarnya. Menurutnya, kunci keberhasilan tetap pada penyiapan lahan, khususnya pembersihan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































