Jumali Rabu, 08 Juli 2026 22:57 WIB

Ibu Hamil, Wanita Hamil, Kehamilan - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Selama ini, banyak yang percaya bahwa penurunan kesuburan perempuan seiring usia hanya soal jumlah dan kualitas sel telur. Namun, sebuah penelitian terbaru dari University of California, San Francisco (UCSF) dan Chan Zuckerberg Biohub mengungkap fakta mengejutkan: penyebabnya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Bagi Anda perempuan yang sedang merencanakan kehamilan atau sekadar ingin memahami tubuh lebih dalam, temuan ini adalah terobosan penting yang wajib diketahui!
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini menunjukkan bahwa seluruh "ekosistem" di dalam ovarium ikut mengalami penuaan. Lingkungan di sekitar sel telur, yang mencakup sel pendukung, jaringan ikat, pembuluh darah, hingga sistem saraf, mengalami perubahan signifikan yang memengaruhi kematangan sel telur.
"Selama ini kami menganggap penuaan ovarium hanya berkaitan dengan kualitas dan jumlah sel telur. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa lingkungan di sekitarnya juga berubah seiring bertambahnya usia," ujar Profesor Diana Laird, penulis senior penelitian tersebut. Bayangkan, ovarium Anda bukan sekadar "gudang" sel telur, tetapi sebuah ekosistem hidup yang dinamis!
Menggunakan teknologi pencitraan tiga dimensi (3D), tim peneliti menemukan bahwa sel telur manusia tidak tersebar merata, melainkan berkumpul dalam "kantong-kantong" kecil. Seiring bertambahnya usia, kepadatan sel telur dalam kantong ini berkurang, yang diduga memengaruhi daya tahan dan proses pematangan sel. Data penelitian pada tikus yang setara dengan usia manusia 30-40 tahun juga menunjukkan penurunan tajam pada cadangan sel telur dan tingkat keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF). Hal ini memperkuat bukti bahwa lingkungan ovarium sangat menentukan kecepatan penurunan kesuburan.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah peran sistem saraf dalam ovarium. Peneliti mengidentifikasi adanya sel glia (sel pendukung saraf) dan saraf simpatik di dalam ovarium. Seiring bertambahnya usia, jaringan saraf ini menjadi semakin padat. Eksperimen menunjukkan bahwa saraf memiliki peran krusial dalam menentukan kapan sel telur mulai tumbuh dan berkembang. Selain itu, ditemukan bahwa sel pembentuk jaringan ikat (fibroblas) pada ovarium perempuan usia 50 tahun mulai memicu peradangan dan jaringan parut. Proses penuaan jaringan ini bahkan terjadi lebih awal dibandingkan pada organ lain seperti paru-paru atau hati.
Kabar baiknya, temuan ini membuka peluang pengembangan obat-obatan untuk memperlambat penuaan ovarium. Jika berhasil, terapi ini tidak hanya memperpanjang masa subur, tetapi juga mengurangi risiko penyakit pasca-menopause seperti gangguan kardiovaskular. "Mata air awet muda mungkin sebenarnya adalah ovarium. Jika kita dapat menunda penuaan ovarium, maka proses penuaan tubuh secara keseluruhan berpotensi menjadi lebih sehat," pungkas Eliza Gaylord, penulis pertama studi tersebut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































