Pendidikan Khas Kejogjaan Tak Sekadar Soal Budaya

9 hours ago 6

Pendidikan Khas Kejogjaan Tak Sekadar Soal Budaya

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara Forum Byawara Pendidikan Khas Kejogjaan Ing Perguruan Tinggi yang digelar di Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kampus Karangmalang, Kamis (20/8/2026).

SLEMAN—Bahasa Jawa dan busana tradisional gagrak Mataraman mewarnai Forum Byawara Pendidikan Khas Kejogjaan Ing Perguruan Tinggi yang digelar di Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kampus Karangmalang, Kamis (20/8/2026).

Forum yang dihadiri perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN-PTS) se-Yogyakarta tersebut tidak hanya membahas budaya Jawa dalam pendidikan. Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) didorong menjadi bagian dari kehidupan akademik, mulai dari pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga budaya di lingkungan perguruan tinggi.

Para tamu undangan hadir mengenakan busana tradisional gagrak Mataraman. Bahasa Jawa juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan yang mempertemukan unsur Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, perguruan tinggi, Dewan Pendidikan DIY, dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V.

Kegiatan diawali dengan pemukulan bende oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., dan Rektor UNY Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO. Prosesi tersebut disaksikan Ketua LLDikti Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D.

Dalam sambutannya, Sri Sultan mengingatkan agar pendidikan tinggi tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa setiap hari bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kampung, pasar, sanggar seni, hingga berbagai ruang kehidupan lainnya.

Secara fisik, jarak antara kampus dan kampung mungkin hanya beberapa ratus meter. Namun, jarak tersebut dapat menjadi jauh apabila ilmu yang dipelajari mahasiswa tidak kembali menyentuh persoalan masyarakat.

“Pendidikan khas Kejogjaan yang hari ini kita luncurkan bersama adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu,” tutur Sri Sultan.

Sri Sultan mengatakan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana sesuatu dilakukan. Pendidikan juga harus mampu menjawab untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Teknologi dapat menjelaskan bagaimana sesuatu dikerjakan. Namun, manusia tetap harus menentukan untuk siapa ilmu tersebut digunakan dan kehidupan siapa yang ingin diperbaiki.

Dalam konteks tersebut, Sri Sultan menempatkan filosofi Amemayu Hayuning Bawana sebagai salah satu dasar penting dalam Pendidikan Khas Kejogjaan. Menurutnya, keunggulan ilmu juga harus dilihat dari kemampuannya menjaga hubungan yang baik antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.

Sri Sultan menegaskan Pendidikan Khas Kejogjaan bukan sekadar upaya mengingat kembali masa lalu. Yogyakarta memiliki sejarah panjang sebagai tempat berkembangnya pendidikan, mulai dari padepokan dan pesantren, Muhammadiyah, Taman Siswa, hingga perguruan tinggi modern.

Warisan tersebut, kata dia, perlu diterjemahkan dalam tindakan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini. Pendidikan Khas Kejogjaan diharapkan dapat diterapkan dalam pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga budaya di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam bidang penelitian, misalnya, kampung, pasar, angkringan, kawasan cagar budaya, hingga wilayah rawan bencana dapat menjadi tempat belajar dan penelitian. Lingkungan tersebut dapat digunakan sebagai sumber penelitian untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto yang menyampaikan sambutan secara daring menilai nilai-nilai Kejogjaan memiliki kaitan kuat dengan pendidikan tinggi.

Nilai Amemayu Hayuning Bawana, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, serta semangat Golong Gilig dinilai dapat mendukung pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Perguruan tinggi juga perlu membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, kepekaan sosial, serta memahami akar budaya.

Di sisi lain, Ketua LLDikti Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono menjelaskan penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan akan dilakukan secara fleksibel. PKJ tidak harus dibuat menjadi mata kuliah baru.

Nilai-nilai PKJ dapat dimasukkan ke dalam mata kuliah yang sudah ada dengan menyesuaikan karakter masing-masing perguruan tinggi, fakultas, dan program studi.

“PKJ ini akan mewarnai proses pembelajaran, kemudian penelitian, dan juga pengabdian di perguruan tinggi,” jelasnya.

Untuk mendukung penerapan tersebut, workshop digelar setelah kegiatan peluncuran. Melalui workshop tersebut, masing-masing perguruan tinggi didorong menyusun model penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan sesuai kondisi dan kreativitas masing-masing.

Dengan konsep tersebut, Pendidikan Khas Kejogjaan tidak hanya berhenti pada penggunaan bahasa Jawa atau busana tradisional dalam sebuah kegiatan. Nilai-nilai Kejogjaan diharapkan benar-benar masuk dalam kehidupan perguruan tinggi dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui forum tersebut, pendidikan tinggi di Yogyakarta diharapkan tetap mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus menjaga nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas daerah.(Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |