Proses panen jagung yang dilakukan di Padukuhan Sukorejo, Sambirejo, Ngawen. Foto diambil 2 Januari 2026. - Istimewa/Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Produksi jagung di Gunungkidul mulai memasuki fase panen pada musim tanam pertama. Dengan luas tanam mencapai 42.427 hektare, panen raya diperkirakan berlangsung hingga awal Februari 2026.
Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mencatat hasil awal panen menunjukkan produktivitas yang cukup baik. Di Kalurahan Sambirejo, Ngawen, hasil pengubinan mencapai 5,6 ton jagung pipil kering per hektare dari lahan panen seluas 20 hektare.
Untuk menjaga hasil panen tetap optimal, pemerintah daerah terus mendampingi petani melalui penyuluh pertanian serta penyaluran bantuan pupuk dan benih jagung hibrida. Benih unggul seberat 58,4 ton disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan ribuan hektare.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, petani sudah mulai menanam jagung sejak Oktober 2025 dengan luasan mencapai 25.663 hektare dan November ada lahan ditanami seluas 16.764 hektare.
“Jadi total lahan yang ditanami jagung di musim pertama tanam seluas 42.427 hektare,” kata Raharjo, Selasa (6/1/2026).
Sesuai dengan usia pemeliharaan tanaman ini mencapai 90 hari, maka saat sekarang sudah memasuki masa panen. Salah satu lokasi yang panen adalah di Kalurahan Sambirejo, Ngawen.
“Petani di Sambirejo yang telah memasuki masa panen jagung luasannya mencapai 20 hektare. Untuk hasilnya, juga sudah dilakukan pengubinan mencapai 5,6 ton jagung pipil kering per hektare,” katanya.
Menurut Raharjo, luasa panen jagung di Gunungkidul akan memasuki puncaknya di akhir Januari hingga awal Februari 2026. “Semoga hasil secara keseluruhan baik dan para petani memeroleh manfaat dari penanaman komoditas ini,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk memperkuat ketahanan pangan di Bumi Handayani. Guna memperkuat produktivitas tanaman jagung, sudah memberikan bantuan pupuk ke petani.
Selain itu, juga menyalurkan bantuan benih unggul berupa jagung hibrida seberat 58,4 ton. benih ini, sambung Rismiyadi, diperkirakan bisa untuk menanami jagung di lahan seluas 5.846 hektare.
“Kami juga menerjunkan penyuluh pertanian agar membantu dan mendampingi petani untuk pemeliharaan maupun pemberantasan hama sehingga hasil panen dapat dimaksimalkan,” katanya.
Selain itu, untuk memperkuat program ketahanan pangan juga sudah diberikan bantuan alat mesin pertanian ke kelompok tani di akhir 2025 senilai Rp12 miliar. “Bantuan merupakan usulan dari Bupati ke Kementerian Pertanian sebanyak sembilan unit dan aspirasi dari Ketua Komisi IV DPR RI, Mbak Titiek enam unit. Selain itu, juga ada bantuan dari gubernur sebanyak tujuh unit,” kata Rismiyadi.
Selain bantuan traktor, juga ada bantuan lain seperti empat unit alat mesin panen; ala tolah tanah crawler dan power thresher unit. “Ada juga bantuan berupa 13 unit pompa air dan tiga unit alat penanam padi. Kalau ditotal bantuan yang diberikan ke kelompok tani mencapai Rp12 miliar,” ungkapnya.
Menurut dia, pemberian alsintan tidak hanya untuk modernisasi di bidang pertanian. Namun, diharapkan juga dapat membantu dalam upaya peningkatan produktivitas guna mendukung program swasembada pangan di masyarakat.
Panen jagung yang berlangsung diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi petani di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































