Pameran Arsip Ungkap Jejak Lawas PTAIN, Foto Hitam Putih hingga Surat Kabar

7 hours ago 9

Pameran Arsip Ungkap Jejak Lawas PTAIN, Foto Hitam Putih hingga Surat Kabar

Pameran Arsip bertajuk “RINTISAN: Jejak yang Tak Terhapus, Lintas Waktu 1951–1961: Membaca Ulang Akar Identitas” digelar Lobi Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga Jogja. /UIN Sunan Kalijaga.

Harianjogja.com, JOGJA—Pameran Arsip bertajuk RINTISAN: Jejak yang Tak Terhapus, Lintas Waktu 1951–1961: Membaca Ulang Akar Identitas digelar Lobi Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Pameran berlangsung pada Senin (21/9/2026) hingga Sabtu (26/9/2026) menyajikan foto hitam putih, potongan surat kabar, dokumen Pakualaman, hingga buku-buku lama dihadirkan untuk memperlihatkan kembali masa ketika Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) mulai dirintis.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Profesor Noorhaidi Hasan mengapresiasi inisiatif tim arsiparis yang menghadirkan kembali fase penting perjalanan universitas melalui pameran tersebut. Menurut dia, sejarah UIN Sunan Kalijaga memiliki akar panjang yang bahkan telah dibicarakan sebelum Indonesia merdeka.

Dari pameran tersebut, kata Noorhaidi, terlihat embrio pendidikan tinggi Islam yang bermula dari pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian berlanjut pada kelahiran Universitas Islam Indonesia (UII). Pada 1951, Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim menandatangani piagam yang menandai beroperasinya PTAIN.

“Arsip mengingatkan kita pada jasa luar biasa para founding fathers UIN Sunan Kalijaga. Dua nama besar yang menjadi peletak dasar pembangunan UIN Sunan Kalijaga adalah K.H. R. Muhammad Adnan dan Muchtar Jahja. Keduanya selalu melekat dalam jejak sejarah perkembangan universitas ini,” ujarnya dilansir laman resmi UIN Sunan Kalijaga.

Bagi Prof. Noorhaidi, sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Sejarah menjadi pijakan yang membantu sebuah lembaga memahami arah perjalanannya. Tanpa pijakan tersebut, institusi berisiko kehilangan orientasi di tengah perubahan zaman.

“Para pendahulu kita selalu berpikir dalam kerangka nasionalisme agar Indonesia dapat terwujud dengan baik. Pendirian PTAIN menjadi salah satu pilar penting dalam menyangga republik yang baru hadir,” katanya.

Rentang perjalanan selama 75 tahun memperlihatkan perubahan besar, dari PTAIN yang tumbuh dalam kesederhanaan hingga menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang semakin luas.

“Saat ini, UIN Sunan Kalijaga memiliki 9 fakultas dan Pascasarjana dengan sekitar 84 program studi di berbagai jenjang mencakup ilmu-ilmu keagamaan, sosial-humaniora, sains, teknologi, hingga kedokteran. Perkembangan tersebut menempatkan UIN Sunan Kalijaga dalam peta akademik nasional dan internasional, tanpa meninggalkan akar sejarah yang membentuk identitasnya,” ungkap Rektor.

Ketua Pelaksana Pameran Arsip, Wahyu Setianingsih, menjelaskan pameran sekaligus menjadi bentuk kreativitas arsiparis dalam membawa dokumen keluar dari ruang penyimpanan agar dapat berbicara kepada generasi hari ini.

“Arsip bukan sekadar tumpukan dokumen yang disimpan, melainkan memori kolektif, sumber pengetahuan, dan bagian dari identitas kelembagaan,” katanya.

Figur yang juga pernah mendapat penghargaan Arsiparis Teladan Kemenag tersebut mengatakan pameran ini menjadi pameran arsip pertama yang diselenggarakan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri. Untuk mewujudkannya, tim melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber sejarah perjalanan PTAIN.

Sebanyak 48 foto historis berhasil dikumpulkan dan 38 di antaranya ditampilkan. Tim juga menelusuri 36 surat kabar lama dengan 16 terbitan terpilih untuk dipamerkan. Selain itu, terdapat 17 dokumen arsip Pakualaman dengan sembilan dokumen yang ditampilkan, dua dokumen peraturan, serta sejumlah buku karya para tokoh.

Enam buku karya yang belum dapat diakuisisi dihadirkan melalui foto sampul. Adapun tiga buku lainnya dipinjam dari keluarga tokoh dan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.

Arsip dan Tantangan Era AI

Mewakili Puro Pakualaman, Fhaisol Muslim menilai pameran arsip ini berhasil mengajak masyarakat melihat masa lalu dengan cara yang tetap relevan bagi masa depan. Surat, foto, catatan rapat, dan dokumen lama dapat menunjukkan bagaimana sebuah lembaga bertumbuh, bagaimana keputusan dibuat, serta nilai apa yang diwariskan para perintisnya.

Menurut dia, peran arsip justru semakin penting ketika kecerdasan artifisial mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan.

Di tengah perkembangan tersebut, masyarakat membutuhkan sumber autentik, jejak asal-usul yang jelas, metadata yang tertib, serta tata kelola digital yang dapat dipertanggungjawabkan.

Arsip pun perlu ditempatkan sebagai aset strategis universitas. Digitalisasi, pencarian semantik, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial dinilai dapat membuka hubungan baru antardokumen, memperkaya penelitian, serta membantu universitas membaca perjalanan kelembagaannya secara lebih utuh.

“Setiap generasi sesungguhnya sedang menulis arsipnya sendiri. Hari ini kita membaca jejak para perintis. Kelak, generasi berikutnya akan membaca jejak kita,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |