Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin ditemui di Sleman pada Kamis (8/1/2026). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati.Â
Harianjogja.com, SLEMAN—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan seluruh rumah sakit dan puskesmas terdampak bencana di wilayah Sumatera dapat pulih sepenuhnya atau recovery total pada Maret 2026.
Pemulihan layanan kesehatan dilakukan bertahap. Pada tahap awal, Kementerian Kesehatan memprioritaskan pembukaan kembali rumah sakit yang sempat berhenti beroperasi akibat banjir dan lumpur. Dalam waktu dua pekan, sembilan rumah sakit yang semula tutup total berhasil kembali melayani pasien.
Tahap berikutnya difokuskan pada pemulihan layanan puskesmas. Dari ratusan puskesmas yang terdampak, kini hanya tersisa empat unit yang belum beroperasi penuh. Meski demikian, sebagian besar puskesmas sudah kembali melayani masyarakat meski dengan keterbatasan sarana.
Budi mengungkapkan ada 87 rumah sakit di tiga provinsi yang berhenti beroperasi. Namun dalam 3-4 berselang, Kementerian Kesehatan datang dan membentuk tim sehingga hanya menyisakan sembilan rumah sakit yang masih tutup total.
Sembilan rumah sakit itu tak bisa beroperasi karena kata Budi terkena banjir tinggi dan lumpurnya yang masuk ke rumah sakit tingginya sebadan. Pada tahap satu, Kemenkes berfokus untuk melakukan recovery kesehatan.
"Tahap satu, recovery kesehatan, dalam dua pekan, sembilan [rumah sakit tutup] ini semua beroperasi. Jadi tanggal 14 Desember, sembilan rumah sakit yang tidak sama sekali bisa beroperasi karena lumpurnya segini [sedada], alhamdulillah sudah bisa bersih, beroperasi kembali. Belum penuh, tapi sudah bisa menerima pasien, IGD-nya ada begitu," jelas Budi ditemui di Sleman pada Kamis (8/1/2026).
Setelah pemulihan pengoperasian rumah sakit pada tahap pertama, pada tahap kedua Kemenkes kata Budi meletakkan fokus pada layanan Puskesmas. Budi mengatakan saat awal bencana, ratusan Puskesmas sempat layanannya berhenti total.
Dijelaskan Budi dari 1.268 Puskesmas yang tercatat sebelumnya beroperasi di tiga provinsi. Namun saat terkena bencana, sebanyak 850 Puskesmas berhenti beroperasi.
Selanjutnya, saat Kemenkes masuk di awal Desember Budi menyebut hanya tinggal 150 Puskesmas yang belum bisa beroperasi. Sebab musababnya, Puskesmas itu mengalami kerusakan berat seperti roboh atau tinggi lumpur yang sampai setinggi dada.
"Begitu kami masuk di 1 Desember, kami lihat ada 150 yang tidak bisa beroperasi sama sekali yang itu tadi, lumpurnya udah segini, udah berantakan, ada yang roboh," jelasnya.
"Itu kami kejar di tahap kedua recovery di akhir Desember, tinggal empat [Puskesmas] yang belum beroperasi. Yang lainnya udah beroperasi walaupun enggak penuh ya, karena ambulansnya masih rusak, segala macam, alatnya juga belum semua diperbaiki, kursi giginya rusak. Tapi sudah bisa melayani pasien," tandasnya.
Kemudian di tahap ketiga pemulihan ini, Kemenkes lanjut Budi fokus kepada dua aspek. Aspek pertama diterangkan Budi yakni menggerakan Puskesmas yang sudah beroperasi untuk merawat masyarakat di desa terisolir dan masyarakat di pos pengungsian.
"Karena ada 1.000 pos pengungsian itu sekitar 300.000 warga. Tugasnya Puskesmas untuk memastikan perawatan kesehatan rumah-rumah warga itu seperti biasa, tapi yang pos pengungsian ini yang enggak biasa," ujar Budi.
Karena tenaga kesehatan di Puskesmas tidak mencukupi, Kemenkes bekerja sama dengan sejumlah relawan ke lokasi-lokasi tadi. Kata Budi relawan yang di bawah Kemenkes sudah mencapai 4.100 orang.
Aspek kedua dalam tahap ketiga pemulihan kesehatan di lokasi terdampak bencana ialah recovery total. Budi menargetkan rumah sakit maupun Puskesmas bisa recovery total pada Maret 2026.
"Yang terakhir adalah kita mau recovery total. Kami targetin Maret ini recovery total dari seluruh rumah sakit dan puskesmas," tegasnya.
Adapun recovery total yang dimaksud Budi mencakup banyak hal, termasuk layanan ambulans. Menurut catatan Budi ada 205 ambulans yang rusak saat terkena bencana. Selama dua pekan Kemenkes datang ke sejumlah perusahaan pabrikan kendaraan untuk bisa mengirim montir agar bisa mempercepat perbaikan ambulans.
Skema perbaikan ambulans yang dilakukan kata Budi menggunakan layanan home service. Hasilnya puluhan ambulans saat ini disebut Budi telah diperbaiki
"Sekarang udah sekitar 50 diperbaiki, 80-nya sedang ada di bengkel karena masih turun mesin," ungkapnya.
Selain perbaikan ambulans, pada tahap recovery total ini Kemenkes juga menaruh fokus pada perbaikan alat kesehatan. Teknisi pabrikan alat kesehatan dikirim untuk memeriksa tingkat kerusakan alat.
Budi mengestimasi perbaikan alat kesehatan akibat bencana ini mencapai angka setengah triliun. Dia bilang banyak kasur yang hilang di faskes. Lalu komputer di faskes hampir semua tidak bisa perbaiki dan masih banyak lagi.
"Mana yang benar-benar rusak, mana bisa diperbaiki. Yang sudah rusak nanti kami masukin ke anggarannya, kami sudah hitung butuh sekitar Rp500 miliar. Sedang kami ajukan supaya bisa dapat cepat penggantian, agar alat-alat yang rusak itu karena banjir bisa diganti," katanya.
Pemerintah berharap pemulihan total layanan kesehatan ini mampu mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































