Ilustrasi. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan antrean panjang ujian mengemudi mendorong maraknya industri joki SIM di Inggris. Hal ini memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan jalan raya, seiring lonjakan kecelakaan yang meningkat hingga 2025.
Data Driver and Vehicle Standards Agency (DVSA) hingga September 2025 mencatat hampir 2.900 upaya kecurangan dalam ujian mengemudi. Angka tersebut melonjak sekitar 47 persen dibandingkan periode sebelumnya. Lonjakan ini tidak lepas dari antrean ujian praktik yang semakin panjang, dengan waktu tunggu rata-rata mencapai 22 minggu.
Situasi tersebut menciptakan tekanan besar bagi calon pengemudi. Kegagalan dalam satu kali ujian berarti harus kembali mengantre dari awal selama berbulan-bulan, kondisi yang mendorong sebagian peserta memilih jalan pintas. “Bayangkan, jika Anda gagal sekali saja, Anda harus kembali mengantre dari nol selama berbulan-bulan. Tekanan inilah yang membuat banyak orang nekat berbuat curang,” tulis Carscoops, Minggu (25/1/2026).
Modus kecurangan yang terungkap semakin beragam dan canggih. Lebih dari 1.100 kasus melibatkan penggunaan earpiece bluetooth mini tersembunyi, yang memungkinkan peserta ujian teori menerima jawaban dari pihak luar secara langsung. Selain itu, praktik penggunaan joki atau orang pengganti juga masih marak.
DVSA mencatat sekitar 1.000 kasus joki terjadi pada ujian teori, sementara sekitar 650 kasus lainnya ditemukan dalam ujian praktik mengemudi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecurangan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan terorganisasi.
Praktik joki bahkan berkembang menjadi industri ilegal yang menggiurkan. Dalam sejumlah persidangan terungkap tarif jasa joki profesional bisa mencapai £2.000 atau sekitar Rp41 juta untuk satu kali kelulusan ujian.
Salah satu kasus mencolok melibatkan Qounain Khan asal Birmingham. Ia dijatuhi hukuman penjara delapan bulan setelah terbukti menyamar sebagai peserta ujian di 12 lokasi berbeda. Para pelaku kecurangan tidak hanya terancam hukuman penjara, tetapi juga sanksi larangan mengemudi seumur hidup.
Para pakar keselamatan lalu lintas menilai kondisi ini sebagai ancaman serius. Mereka menyebut praktik tersebut sebagai “bom waktu” karena pengemudi yang memperoleh SIM secara curang dinilai tidak kompeten dan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan fatal.
Pemerintah Inggris mengakui bahwa akar persoalan berasal dari penumpukan antrean akibat pandemi Covid-19 dan kekurangan tenaga penguji. Perbaikan sistem diperkirakan baru akan terasa menjelang akhir 2027.
Selama masalah tersebut belum teratasi, integritas sistem keselamatan berkendara di Inggris terus berada dalam tekanan. Maraknya kecurangan ujian mengemudi menimbulkan tanda tanya besar terhadap tingkat keamanan pengguna jalan di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































