Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), 20 Oktober 2025. (ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu - pri.)
Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada Prancis atas gugurnya salah satu personel pasukan penjaga perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan. Insiden tersebut terjadi pada 18 April 2026 di tengah berlangsungnya kesepakatan gencatan senjata sementara di kawasan tersebut.
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengecam keras serangan yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian. Pemerintah Indonesia menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terutama karena terjadi saat upaya deeskalasi konflik sedang berlangsung.
Indonesia juga menegaskan pentingnya seluruh pihak untuk menahan diri, menghormati kedaulatan negara, serta menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter. Pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut dinilai berpotensi memperburuk situasi keamanan dan mengancam keselamatan personel di lapangan.
Dalam pernyataannya, Indonesia menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya serangan terhadap pasukan UNIFIL dalam beberapa waktu terakhir. Serangan terhadap personel penjaga perdamaian bahkan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang jika dilakukan secara sengaja.
Solidaritas turut disampaikan kepada negara-negara kontributor pasukan lainnya yang terlibat dalam misi perdamaian di Lebanon. Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong perlindungan maksimal bagi seluruh personel PBB yang bertugas di wilayah konflik.
Sikap tersebut sejalan dengan komitmen internasional yang tertuang dalam pernyataan bersama terkait keselamatan dan keamanan personel PBB yang disampaikan pada awal April 2026.
Sementara itu, Presiden Emmanuel Macron mengonfirmasi satu tentara Prancis tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang menyasar pasukan UNIFIL. Ia mendesak otoritas Lebanon untuk segera menangkap pelaku dan bekerja sama dengan pihak UNIFIL dalam proses penyelidikan.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki pengalaman pahit dalam misi tersebut. Pada akhir Maret 2026, tiga personel UNIFIL asal Indonesia dilaporkan gugur, sementara delapan prajurit lainnya mengalami luka saat menjalankan tugas di wilayah yang sama.
Sebagai bentuk respons, Indonesia telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap berbagai insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian.
Dengan meningkatnya risiko di lapangan, Indonesia menekankan pentingnya komitmen bersama komunitas internasional untuk memastikan keselamatan pasukan perdamaian tetap menjadi prioritas utama. Langkah ini dinilai krusial demi menjaga efektivitas misi perdamaian sekaligus mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































