
Ketua ASA Indonesia, Raden Agus Choliq, membuka Kontes Nasional Aglaonema Nusantara ke-6 di Sleman City Hall, Kamis (20/8/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN— Ketergantungan Indonesia terhadap impor tanaman hias masih menjadi peluang yang ingin dimanfaatkan petani dalam negeri. Aglaonema bahkan disebut menjadi tanaman hias impor terbesar ketiga yang masuk ke Indonesia pada 2025 setelah lili dan anggrek.
Ketua ASA Indonesia Raden Agus Choliq mengatakan berdasarkan data Karantina, nilai impor tanaman hias dari luar negeri ke Indonesia pada 2025 mencapai Rp18 triliun. Dari nilai tersebut, aglaonema berada di urutan ketiga setelah lili dan anggrek.
"Indonesia ini merupakan pangsa pasar pecinta aglaonema yang terbanyak di dunia," kata Agus dalam sambutannya pada pembukaan Kontes Nasional Aglaonema Nusantara ke-6 di Sleman City Hall, Kamis (21/8/2026) malam.
Besarnya nilai impor dan tingginya minat masyarakat terhadap aglaonema menunjukkan pasar domestik masih terbuka lebar. Namun, produksi tanaman hias tersebut di dalam negeri dinilai perlu diperkuat agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi petani lokal.
ASA Dorong Petani Tingkatkan Produksi
Agus menilai besarnya permintaan aglaonema di Indonesia merupakan peluang ekonomi bagi petani di berbagai daerah. ASA Indonesia mendorong peningkatan produksi agar kebutuhan pasar domestik semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi aliran uang ke luar negeri akibat impor tanaman hias.
"Harapan kami kebutuhan aglaonema masyarakat Indonesia yang besar ini bisa dicukupi oleh teman-teman, oleh petani-petani yang ada di Indonesia," katanya.
Untuk menggerakkan produksi lokal, ASA Indonesia telah melakukan kunjungan ke sejumlah daerah. Wilayah yang dikunjungi antara lain Kudus, Cilacap, dan Banyuwangi, kemudian dilanjutkan ke Kediri dan Malang untuk mendorong budidaya aglaonema di berbagai daerah.
Agus mengatakan besarnya permintaan aglaonema di Indonesia membuat peluang ekonomi bagi petani masih terbuka. Karena itu, peningkatan produksi perlu terus dilakukan agar kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi petani dalam negeri.
Kontes Aglaonema Jadi Ruang Berbagi Pengalaman
Upaya pengembangan aglaonema tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produksi. Kontes Nasional Aglaonema Nusantara ke-6 di Sleman juga diarahkan menjadi ruang bertukar pengetahuan bagi pelaku aglaonema dari berbagai daerah.
Peserta dari Lereng Muria, Magelang, Semarang, Sleman, dan Solo diharapkan dapat bertemu sekaligus berbagi pengalaman mengenai tanaman aglaonema.
Kontes tahun ini juga menghadirkan sejumlah kategori baru. Salah satunya lomba pemula tunggal bebas yang diperuntukkan bagi masyarakat yang belum profesional agar dapat menampilkan aglaonema yang mereka pelihara di rumah.
Panitia turut menyiapkan kategori Aglaonema Pilihan Artis dan Aglaonema Pilihan Pejabat. Untuk kategori pilihan artis, ASA Indonesia juga tengah berkomunikasi dengan PT Rans.
Ada Aglaonema Berselawat hingga Lelang
Agus berharap Kontes Nasional Aglaonema Nusantara ke-6 tidak berhenti sebagai ajang kompetisi. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperluas minat masyarakat terhadap budidaya aglaonema.
Salah satu kegiatan yang disiapkan adalah Aglaonema Bersholawat. Dalam kegiatan tersebut akan ditampilkan testimoni petani aglaonema dari berbagai skala usaha.
"Harapan kami dengan adanya Aglaonema Bersholawat, banyak jemaah yang akan melihatnya, banyak jemaah yang akan tertarik untuk ikut aglaonema," ucapnya.
Kegiatan tersebut juga akan diramaikan lelang sekitar lima pohon aglaonema. Tanaman yang dilelang diperkirakan memiliki harga beragam, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga sekitar Rp20 juta.
Selain kontes dan lelang, ASA Indonesia akan menggelar sarasehan bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Desa. Salah satu pembahasannya adalah peluang menjadikan aglaonema sebagai produk unggulan desa karena banyak petani tanaman tersebut berada di wilayah pedesaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558829/original/015961100_1776485350-IMG_20260418_120558_524.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399789/original/029438800_1762005007-Dewa_United_vs_Shan_United-8.jpg)
