Hari Aksara Internasional 2026: Sejarah, tema, dan maknanya

1 day ago 8

Jakarta (ANTARA) - Hari Aksara Internasional diperingati setiap 8 September sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dunia mengenai pentingnya kemampuan membaca dan menulis bagi kehidupan, pendidikan, serta pembangunan masyarakat.

Hari Aksara Internasional atau International Literacy Day pertama kali diperingati pada 8 September 1967. UNESCO menetapkan peringatan tersebut setelah sebelumnya memproklamasikannya melalui Konferensi Umum UNESCO pada 1966. Pada 2026, peringatan ini memasuki tahun ke-60.

Penetapan Hari Aksara Internasional berawal dari perhatian dunia terhadap persoalan buta aksara yang masih menjadi hambatan bagi masyarakat dalam memperoleh pendidikan dan meningkatkan kualitas hidup. UNESCO menjadikan literasi sebagai salah satu fondasi penting untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, keterampilan, hak asasi manusia, dan kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Seiring perkembangan zaman, makna literasi juga mengalami perluasan. Literasi tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis secara konvensional, tetapi turut mencakup kemampuan memahami informasi, menggunakan teknologi, serta menyaring informasi secara kritis.

Sejarah Hari Aksara Internasional

Gagasan mengenai peringatan literasi secara internasional berkaitan erat dengan upaya UNESCO mendorong pemberantasan buta aksara. Dalam Konferensi Umum UNESCO ke-14 pada 1966, organisasi tersebut memproklamasikan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional.

Setahun kemudian, tepat pada 8 September 1967, peringatan tersebut mulai dirayakan secara internasional. Sejak saat itu, Hari Aksara Internasional diperingati setiap tahun di berbagai negara untuk mengingatkan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas mengenai pentingnya literasi.

UNESCO menyebut literasi sebagai hak dasar manusia karena kemampuan tersebut dapat membuka akses terhadap berbagai hak lainnya. Literasi juga menjadi dasar seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas, mengembangkan keterampilan, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca juga: Mendikdasmen: Penguatan konsep literasi 3S fondasi Indonesia Emas

Tema Hari Aksara Internasional 2026

Memasuki peringatan ke-60 pada 2026, UNESCO mengusung tema “Literacy for people, the planet and prosperity” atau literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran.

Tema tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perkembangan literasi sekaligus membahas berbagai tantangan yang masih dihadapi masyarakat. UNESCO juga menyoroti perlunya membentuk agenda literasi yang sesuai dengan perubahan dunia yang berlangsung cepat.

Persoalan literasi global hingga kini masih cukup besar. UNESCO mencatat sedikitnya 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia masih belum memiliki kemampuan literasi dasar pada 2024. Selain itu, sekitar empat dari 10 anak belum mencapai kemampuan membaca minimum, sementara 272 juta anak dan remaja tidak bersekolah pada 2023.

Kondisi literasi di Indonesia

Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka melek huruf penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mencapai 96,67 persen pada 2024.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, angka melek huruf laki-laki tercatat 97,69 persen, sedangkan perempuan sebesar 95,66 persen. Data tersebut menunjukkan masih terdapat kesenjangan kemampuan literasi antara laki-laki dan perempuan, meskipun secara keseluruhan tingkat melek huruf Indonesia terus menunjukkan perkembangan.

BPS juga menyediakan data angka melek aksara hingga 2025 berdasarkan provinsi, wilayah perkotaan dan perdesaan, serta jenis kelamin. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan kemampuan baca tulis masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Peringatan Hari Aksara Internasional karena itu tidak hanya menjadi perayaan simbolis, tetapi juga pengingat bahwa kemampuan membaca dan menulis merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, kemampuan memahami serta mengevaluasi informasi juga menjadi bagian penting dari literasi masyarakat.

Baca juga: Hari Aksara, Mendikdasmen ajak masyakarat hidupkan lagi Bulan Literasi

Baca juga: UNESCO ingatkan skor PISA RI masih rendah, meski mayoritas melek huruf

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |