Newswire Minggu, 06 September 2026 10:47 WIB

Aktivitas Gunung Semeru terpantau dari Pos Pengamatan Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jumat (28/8/2026). ANTARA/HO-PVMBG\r\n
Harianjogja.com, LUMAJANG— Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pagi dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru. Aktivitas vulkanik gunung api yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tersebut terjadi saat status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Erupsi Gunung Semeru tercatat terjadi pada pukul 07.51 WIB. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan kolom letusan teramati mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Jawa Timur, Minggu.
Kolom Abu Semeru Mengarah ke Timur
Sigit menjelaskan aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat erupsi terekam pada seismograf. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum mencapai 23 milimeter dengan durasi 102 detik.
“Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 102 detik,” katanya.
Secara visual, kolom abu yang keluar dari kawah Gunung Semeru teramati berwarna putih hingga kelabu. Intensitas abu tergolong tebal dan bergerak menuju arah timur.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat diminta memperhatikan batas-batas kawasan yang harus dihindari.
Warga Diminta Jauhi Besuk Kobokan
Masyarakat tidak disarankan melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru yang menjadi pusat erupsi.
Sigit juga mengingatkan masyarakat yang berada di luar jarak tersebut untuk tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” kata Sigit.
Pembatasan tersebut berkaitan dengan potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau wilayah lebih jauh mengikuti aliran sungai.
Selain kawasan sungai, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area tersebut dinilai rawan terhadap lontaran batu pijar.
Waspadai Awan Panas dan Guguran Lava
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah potensi bahaya erupsi. Ancaman tersebut antara lain awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat bergerak melalui aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” kata Sigit.
Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar jalur sungai yang berhulu di Gunung Semeru diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
Kebakaran Hutan Semeru Belum Padam
Aktivitas erupsi Gunung Semeru pada Minggu pagi berlangsung bersamaan dengan kebakaran hutan di kawasan gunung tersebut. Kebakaran hingga saat ini belum sepenuhnya dapat dipadamkan dan titik api dilaporkan semakin meluas.
Berdasarkan data Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), luas kawasan hutan yang terbakar telah mencapai lebih dari 3.000 hektare.
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pendakian Gunung Semeru. Balai Besar TNBTS telah menutup jalur pendakian menuju gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Penutupan jalur pendakian dilakukan sebagai bagian dari upaya keselamatan menyusul kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di lereng Gunung Semeru.
Dengan erupsi yang kembali terjadi, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Semeru perlu mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik dan mematuhi rekomendasi dari petugas. Potensi bahaya tidak hanya berasal dari material erupsi, tetapi juga awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar, serta aliran lahar di sepanjang sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































