Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Anggaran droping air bersih di Gunungkidul mulai menipis setelah bantuan terus disalurkan kepada warga yang terdampak kekeringan. Sejumlah kapanewon bahkan mulai kehabisan pagu untuk penyaluran air bersih, sementara kebutuhan masyarakat diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun. Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengajukan tambahan bantuan sebanyak 5.000 tangki air bersih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul.
Salah satu wilayah yang telah kehabisan anggaran droping air adalah Kapanewon Purwosari. Pagu penyaluran air bersih senilai sekitar Rp79 juta telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami krisis air bersih.
Panewu Purwosari, Subiyantoro mengatakan, Kapanewon Purwosari pada tahun ini memperoleh alokasi anggaran dari Pemkab Gunungkidul sebesar Rp79,6 juta untuk penyaluran air bersih. Bantuan mulai disalurkan kepada masyarakat sejak awal Juli 2026 melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
“Wilayah kami juga ikut terdampak kekeringan sehingga dilaksanakan penyaluran bantuan air bersih ke masyarakat,” kata Subiyantoro, Ahad (6/9/2026).
Meski tidak merinci jumlah bantuan yang telah disalurkan, Subiyantoro mengakui pagu anggaran droping air yang dimiliki Kapanewon Purwosari telah habis. Anggaran tersebut sebelumnya digunakan untuk menyalurkan bantuan air bersih ke kalurahan-kalurahan yang membutuhkan.
Habisnya anggaran tersebut telah dilaporkan kepada BPBD Gunungkidul. Langkah itu dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat dipenuhi meskipun anggaran yang tersedia di kapanewon sudah tidak ada.
“Kami sudah tidak memiliki anggaran lagi sehingga penyaluran bantuan ke masyarakat, kami meminta bantuan backup ke BPBD,” kata Subiyantoro.
Anggaran Droping Panggang Diperkirakan Habis Oktober
Kondisi berbeda terjadi di Kapanewon Panggang. Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani mengatakan, wilayahnya masih memiliki anggaran untuk penyaluran air bersih. Namun, hingga awal September 2026, sekitar separuh dari alokasi tersebut telah terserap.
Pemerintah Kapanewon Panggang tahun ini memperoleh alokasi anggaran droping air sebesar Rp79 juta. Dengan tingkat penyerapan yang telah mencapai sekitar separuh, anggaran tersebut diperkirakan hanya mampu menopang penyaluran bantuan sampai awal Oktober.
“Masih ada anggarannya, tapi kami perkirakan hanya bertahan hingga awal Oktober,” katanya.
Sri mengatakan Panggang termasuk salah satu wilayah yang mengalami krisis air bersih. Permintaan bantuan datang dari seluruh kalurahan di Kapanewon Panggang, meskipun sebaran wilayah yang membutuhkan bantuan tidak selalu mencakup seluruh padukuhan.
“Kekeringan terjadi di semua kalurahan di Panggang, makanya bantuan terus disipakan. Kalau ada permintaan, selama anggarannya masih ada, maka akan kami salurkan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih di Panggang masih cukup tinggi. Penyaluran dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat dan ketersediaan anggaran yang dimiliki kapanewon.
Tepus Salurkan 212 Tangki
Sementara itu, Kapanewon Tepus telah menyalurkan ratusan tangki air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tepus, Sukisno mengatakan, sebanyak 212 tangki air bersih telah disalurkan melalui anggaran kapanewon sejak Juli hingga Agustus 2026.
Meski telah menyalurkan ratusan tangki, anggaran yang tersedia masih diperkirakan mampu digunakan untuk sekitar 210 tangki berikutnya. Bantuan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada September hingga Oktober.
“Kekeringan terjadi di seluruh kalurahan di Kapanewon Tepus. Untuk mengatasi krisis, upaya penyaluran bantuan air terus dilakukan ke masyarakat,” katanya.
Menurut Sukisno, kebutuhan air bersih masih harus diantisipasi karena kekeringan terjadi di seluruh kalurahan di Kapanewon Tepus. Pemerintah kapanewon akan terus menyalurkan bantuan selama anggaran yang tersedia masih mencukupi.
Jika nantinya pagu anggaran habis, Kapanewon Tepus akan meminta dukungan BPBD Gunungkidul agar distribusi air bersih tetap berjalan.
“Untuk penyaluran bantuan, kami terus bersinergi dengan BPBD Gunungkidul,” katanya.
BPBD Gunungkidul Ajukan 5.000 Tangki
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun.
BPBD Gunungkidul telah mengajukan tambahan bantuan air bersih sebanyak 5.000 tangki kepada Pemkab Gunungkidul. Tambahan tersebut dibutuhkan karena penyaluran air diperkirakan masih berlangsung hingga Desember 2026.
Dari sisi alokasi anggaran, Purwono mengakui pagu yang tersedia saat ini sudah mulai menipis. Karena itu, BPBD mengusulkan tambahan anggaran melalui skema Belanja Tak Terduga (BTT).
“Kita ajukan lewat skema tambahan melalui Belanja Tak Terduga. Makanya, kami memperpanjang status siaga darurat kekeringan di Gunungkidul hingga 31 November,” katanya.
Pengajuan tambahan tersebut diharapkan dapat memastikan distribusi air bersih tetap berjalan ketika anggaran di tingkat kapanewon mulai habis. Terlebih, kebutuhan air bersih masyarakat masih muncul di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.
Dengan pengajuan tambahan 5.000 tangki, BPBD Gunungkidul berupaya menjaga agar penyaluran air bersih dapat terus dilakukan hingga akhir tahun. Bantuan tersebut akan menjadi dukungan bagi kapanewon yang telah kehabisan anggaran maupun wilayah yang pagunya diperkirakan segera habis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































