Pekerja sedang menyelesaikan pengerjaan groundsill atau sabo permanen Srandakan di Sungai Progo Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Bantul belum lama ini. Proyek dengan anggaran Rp231 miliar ini sekarang sudah mencapai 40 persen dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. - Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL—Pembangunan groundsill permanen Srandakan di Sungai Progo terus dikebut dan kini telah mencapai progres 40 persen. Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak memastikan desain baru dibuat lebih kokoh dibanding bangunan sebelumnya yang jebol akibat derasnya arus sungai.
Hingga awal Januari 2026 struktur badan groundsill, apron, dan sub dam telah terbangun sepanjang 170 meter. Proyek ini dilengkapi dua struktur utama berupa dam dan sub dam dengan jarak pelindung sekitar 15 meter.
Selain itu, pondasi groundsill menggunakan Concrete Corrugated Sheet Pile (CCSP) sepanjang 12 meter untuk meningkatkan ketahanan struktur. Proyek senilai Rp231 miliar ini ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Penata Teknik Sungai dan Pantai 2 BBWSSO, Johar Ismail menjelaskan, sampai dengan awal Januari 2026, pekerjaan fisik telah berjalan signifikan. Pembangunan badan groundsill, apron, dan sub dam telah terealisasi sepanjang 170 meter dari total rencana 300 meter.
“Saat ini progres fisik pekerjaan sudah 40 persen. Untuk badan groundsill, apron, dan sub dam sudah terbangun sekitar 170 meter,” kata Johar, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, pekerjaan yang sedang berlangsung meliputi lapis aus pada badan groundsill, apron, serta sub dam sisi kanan. Selain itu, pembangunan dinding penahan tanah (DPT) di sisi kanan juga masih terus dikerjakan.
Menurut Johar, pelaksanaan proyek berjalan sesuai dengan tata kala bahkan sedikit di atas jadwal yang ditetapkan. “Progres fisik sudah di atas yang direncanakan,” ujarnya.
Proyek pengendali arus Sungai Progo ini mulai dikerjakan sejak 10 Oktober 2025 lalu dengan masa pengerjaan selama 15 bulan, hingga 31 Desember 2026 dengan anggaran Rp231 miliar. Pembangunan groundsill Srandakan ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian alur sungai serta mengurangi potensi kerusakan akibat gerusan, khususnya di wilayah hilir.
Dalam perencanaannya, groundsill baru ini memiliki panjang sekitar 300 meter atau selebar Sungai Progo, dengan ketinggian mencapai lebih dari 10,6 meter. Menurut Johar, konstruksi yang baru ini dirancang berbeda dengan sebelumnya yang hanya satu lapis, kali ini konstruksinya dilengkapi subdam di bawahnya. “Jadi ada dua struktur, dam utama dan subdam dengan jarak pelindung sekitar 15 meter,” katanya.
Untuk pondasi, proyek menggunakan material CCSP (Concrete Corrugated Sheet Pile) dengan panjang 12 meter yang dipancang sedalam 5 meter dari dasar sungai. “Kedalaman pondasi dan ketebalan struktur kali ini dibuat lebih kuat dibanding bangunan lama,” kata dia.
Dengan konstruksi yang diperkuat, groundsill Srandakan diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas Sungai Progo dan kawasan sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































