Harianjogja.com, JOGJA—Google memblokir lebih dari 10.000 akun palsu di Google Maps yang terindikasi menjalankan praktik bisnis fiktif dan penipuan, terutama dengan menyasar layanan darurat yang dibutuhkan masyarakat.
Langkah tegas tersebut diambil setelah Google melakukan investigasi mendalam yang dipicu oleh laporan sebuah perusahaan asal Texas terkait pencatutan nama bisnis mereka dalam daftar usaha palsu di Google Maps.
Raksasa teknologi yang bermarkas di Mountain View itu menegaskan komitmennya menjaga akurasi dan keandalan informasi di platformnya agar pengguna tidak terjebak praktik penipuan yang semakin terorganisir.
Penasihat umum Google, Halimah DeLaine Prado, mengatakan perusahaan langsung bergerak agresif setelah menerima laporan awal terkait penipuan tersebut.
"Begitu kami menerima laporan penipuan, kami langsung melakukan langkah agresif untuk mengidentifikasi iklan palsu lain yang serupa," ujar DeLaine Prado, dikutip dari CBS News, Minggu (25/1/2026).
Menurut Google, para pelaku menyasar sektor yang disebut sebagai "vertikal paksa", yakni jenis layanan yang biasanya dicari masyarakat dalam kondisi darurat dan membutuhkan respons cepat.
Beberapa kategori layanan yang paling sering dipalsukan meliputi jasa tukang kunci, bengkel kendaraan, serta teknisi perbaikan pipa bocor. Layanan-layanan ini kerap dicari secara mendadak, sehingga korban tidak sempat melakukan verifikasi mendalam.
Dalam menjalankan aksinya, jaringan penipu diduga bekerja secara terstruktur dengan memanfaatkan agen tertentu serta media sosial untuk membangun reputasi palsu. Modus ini digunakan guna meyakinkan calon korban bahwa layanan yang ditawarkan bersifat resmi dan tepercaya.
Modus utama yang dilakukan adalah mencantumkan nomor telepon palsu pada daftar bisnis di Google Maps. Ketika calon pelanggan menghubungi nomor tersebut, panggilan akan dialihkan ke komplotan penipu yang kemudian mematok tarif jauh di atas harga wajar.
Menanggapi maraknya praktik tersebut, Google mengimbau pengguna untuk lebih waspada dan melakukan verifikasi mandiri sebelum menggunakan layanan yang ditemukan secara daring.
DeLaine Prado menyarankan konsumen memeriksa keaslian bisnis melalui situs web resmi, mencocokkan nomor telepon, serta meningkatkan kewaspadaan apabila penyedia jasa meminta data pribadi secara berlebihan.
Pengguna juga diminta berhati-hati jika proses pembayaran diarahkan ke metode yang tidak lazim atau mencurigakan, karena hal tersebut sering menjadi indikator praktik penipuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































