Gempa NTT, Kemenkes Siapkan Alat Medis untuk Rumah Sakit

7 hours ago 6

Newswire

Newswire Kamis, 20 Agustus 2026 10:57 WIB

Gempa NTT, Kemenkes Siapkan Alat Medis untuk Rumah Sakit

Kerusakan jalan akibat gempa M7,7 NTT di Jalur Pantai Utara, Pulau Flores, NTT. /Istimewa-Dok. KKN UMY.

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan memastikan alat medis esensial tersedia di rumah sakit lapangan Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendukung tenaga medis menangani kasus kegawatdaruratan pascagempa. Penyediaan alat tersebut menjadi respons atas kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak bencana.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan alat medis menjadi perhatian setelah tenaga medis harus melakukan operasi sesar darurat dengan keterbatasan peralatan untuk menyelamatkan seorang ibu dan bayinya yang lahir prematur.

Saat meninjau rumah sakit lapangan di NTT, Budi berdialog dengan dr. Restu yang menceritakan kondisi ketika operasi tersebut dilakukan. Demi menyelamatkan ibu dan bayi, tindakan medis terpaksa dilakukan di dekat pintu masuk gedung yang masih dapat digunakan.

“Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC Cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak,” kata dr. Restu.

Mesin Anestesi hingga Alat Kauter Disiapkan

Untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan kegawatdaruratan serupa, Menkes memastikan ketersediaan alat medis esensial di rumah sakit lapangan Nagekeo. Peralatan yang disiapkan antara lain mesin anestesi dan alat kauter.

Budi menjelaskan penyelamatan nyawa pasien dan penanganan trauma psikologis menjadi fokus utama pemerintah setelah gempa bumi mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026.

Gempa tersebut melumpuhkan layanan dua rumah sakit utama, yakni RS Pratama Rajad dan RS Aeramo. Selain itu, bangunan tiga puskesmas mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menangani kebutuhan medis sekaligus memastikan pelayanan kesehatan tetap dapat diberikan dalam situasi darurat.

Kemenkes Tetapkan Tiga Prioritas

Menghadapi kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak, Kemenkes menetapkan tiga prioritas utama. Prioritas pertama adalah mempercepat identifikasi dan pelayanan medis melalui sistem triase dalam 3 hingga 5 hari ke depan.

Pasien dengan kondisi kritis akan langsung dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu, pasien dengan luka ringan ditangani di puskesmas atau tenda darurat.

“Tugas prioritas Kementerian Kesehatan saat tanggap darurat nomor satu adalah pasiennya, bukan fasilitas pelayanannya. Pasiennya nomor satu, sesudah itu baru nomor dua kita perbaiki fasilitas yang rusak,” kata Budi.

Prioritas kedua berupa rehabilitasi infrastruktur fasilitas kesehatan yang rusak. Kemenkes menargetkan pembangunan maupun renovasi fasilitas tersebut dapat rampung dalam 8 hingga 12 bulan ke depan.

Trauma Healing Jadi Perhatian

Prioritas ketiga ialah penanganan trauma atau trauma healing. Tingginya ketakutan warga terhadap kemungkinan gempa susulan mendorong Kemenkes menggandeng organisasi profesi untuk mendatangkan konselor ke NTT.

Penanganan trauma tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah setelah gempa, selain memastikan kebutuhan pelayanan medis bagi masyarakat terdampak.

Dalam jangka menengah, Kemenkes juga berencana menempatkan psikolog klinis di 10 ribu puskesmas di seluruh Indonesia secara bertahap.

Dengan tiga prioritas tersebut, penanganan pascagempa diarahkan terlebih dahulu pada keselamatan pasien, kemudian pemulihan fasilitas kesehatan, serta dukungan psikologis bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |