Foto ilustrasi Waste to Energy. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja mulai menerapkan layanan penjemputan sampah organik kering sebagai upaya menekan volume sampah yang masuk ke depo.
Pada hari pertama pelaksanaan, penjemputan dilakukan di 10 kelurahan dengan estimasi sampah organik kering yang terkumpul mencapai sekitar 200 kilogram per kelurahan atau setara dua kuintal.
DLH Kota Jogja optimistis volume sampah organik kering yang terkelola akan terus meningkat seiring bertambahnya titik penjemputan dan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan DLH Kota Jogja, Supriyanto menuturkan pihaknya menargetkan pengambilan sampah organik kering di 10 kelurahan pada hari pertama pelaksanaan. Bebrapa kelurahan yang akan diambil sampah organik keringnya antara lain Kelurahan Pandeyan, Pakualaman, Ngampilan dan Wirobrajan.
Sampah organik kering yang berhasil dikumpulkan tersebut diperkirakan mencapai 200 kilogram per kelurahan. “Kurang lebih ada 10 karung [organik kering], masing-masing [karung] sekitar 20 kilogram. Jadi totalnya sekitar 200 kilogram atau 2 kwintal. Isinya daun-daunan kering semua,” katanya, Senin (5/1/2026).
“Karena ini hari pertama, jumlah titik penjemputan masih terbatas. Tapi kami optimistis karena ini solusi yang bisa langsung dilakukan masyarakat, jumlahnya akan terus bertambah,” katanya.
Dia menambahakn penanganan sampah organik kering menjadi fokus Pemkot Jogja. Hal itu lantaran selama ini sampah organik mencapai 50% dari total volume sampah yang diproduksi Kota Jogja yang sektiar 260 ton per hari.
Dia menuturkan penjemputan sampah organik kering tersebut dilakukan melalui koordinasi grup WhatsApp antara Jumilah, DLH, dan wilayah. Setelah titik pengumpulan terdata, tim teknis DLH akan diterjunkan untuk melakukan pengangkutan.
Selain sampah organik kering, DLH Kota Jogja juga mengangkut sampah organik basah yang telah dipilah warga. Pada hari yang sama, tercatat sekitar 16 ember sampah organik basah berhasil dikumpulkan dari titik tersebut.
Program pemilahan sampah organik basah yang ada di depo berhasil memilah sampah organik basah mencapai sekitar 25 ton sampah organik basah per hari dari depo.
“Sekarang ini per hari sudah sekitar 1.090 ember sampah organik basah yang terkelola. Dampaknya depo menjadi lebih bersih, tidak bau, dan tidak ada lindi karena sampah basah penyebab bau sudah kita eliminasi,” katanya.
Untuk membantu masyarakat memilah sampah, DLH Kota Jogja telah memiliki Juru Pemilah Sampah (Jumilah) di setiap kelurahan.
“Di setiap kelurahan ada dua petugas Jumilah. Masyarakat bisa menghubungi mereka jika bingung harus membuang sampah ke mana, baik organik basah, organik kering, pecahan kaca, maupun sampah kain,” katanya.
Koordinator Jumilah Kota Jogja, Anita, menyampaikan masyarakat yang tidak berlangganan transporter sampah tetap dapat mengakses layanan pengelolaan sampah melalui Jumilah di wilayah masing-masing.
“Kalau ada warga yang bingung mau membuang sampah ke mana, bisa menghubungi Jumilah di kelurahan setempat. Kalau masih kesulitan, bisa menghubungi saya sebagai koordinator,” ujar Anita.
Anita menegaskan, DLH Kota Jogja telah memfasilitasi pengelolaan sampah organik yang tidak bisa dibuang ke depo sehingga masyarakat tidak perlu kebingungan lagi. Program ini diharapkan menjadi solusi konkret pengurangan sampah di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































