Dari Sampah Menjadi Rupiah: Budidaya Maggot BSF Buka Peluang Ekonomi

8 hours ago 7

 Budidaya Maggot BSF Buka Peluang Ekonomi

Tim Pengabdian bagi Masyarakat UPN Veteran Yogyakarta melakukan pendampingan masyarakat dalam mengolah sampah jadi rupiah./ Ist

SLEMAN—Tumpukan sisa sayuran, nasi basi, kulit buah, dan sisa makanan umumnya hanya berakhir sebagai sampah dapur di banyak rumah tangga. Namun, warga Dusun Kutu Wates, Kragilan, Sinduadi, Sleman, mulai melihat limbah tersebut dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar sesuatu yang harus segera dibuang, sampah organik kini mulai diolah menjadi sumber peluang ekonomi.

Melalui pendampingan dan kolaborasi dengan UPN “Veteran” Yogyakarta, gagasan tersebut diwujudkan melalui budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF), yakni larva lalat yang mampu mengolah sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur.

Secara biologis, 1 kilogram maggot BSF mampu mengolah sekitar 2–5 kilogram sampah organik per hari. Selain mengurangi volume sampah, proses tersebut menghasilkan larva dengan kandungan protein sekitar 40–50 persen yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak.

Program kolaborasi tersebut memberikan pendampingan kepada peserta mulai dari pengenalan alur pengolahan sampah, tahapan budidaya maggot, penggunaan peralatan budidaya skala rumah tangga, hingga proses panen.

Hasil budidaya juga memiliki beragam bentuk dan nilai ekonomi, mulai dari maggot segar, maggot kering, kasgot, hingga prepupa. Masing-masing produk memiliki manfaat dan pasar tersendiri.

Ketua Tim Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) UPN “Veteran” Yogyakarta, Sri Hastuti, mengatakan budidaya maggot memiliki manfaat yang luas, mulai dari membantu mengatasi persoalan sampah hingga membuka peluang ekonomi masyarakat.

“Budidaya ini merupakan emas bermata tiga. Pertama, menjadi solusi riil atas sampah masyarakat. Kedua, meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, menjadi fasilitator atas permasalahan yang kini semakin relevan di sektor peternakan, yaitu biaya pakan yang mahal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin penting diperhatikan karena berbagai faktor turut mendorong kenaikan harga pakan, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz terhadap rantai pasok dan harga komoditas.

Tim PbM UPN “Veteran” Yogyakarta juga terdiri atas Budiarto dan Anis Siti Hartati. Tim memberikan pendampingan agar masyarakat tidak hanya mampu mengolah sampah organik, tetapi juga memahami potensi ekonomi dari hasil budidaya maggot.

Di Sleman, permintaan maggot disebut telah mendekati 2 ton per hari. Harga maggot BSF hidup berada di kisaran Rp15.000–Rp25.000 per kilogram, sedangkan maggot BSF kering berkisar Rp20.000–Rp50.000 per kilogram.

Sementara itu, kasgot memiliki harga sekitar Rp1.500–Rp15.000 per kilogram dan prepupa BSF berkisar Rp30.000–Rp100.000. Dengan permintaan dan variasi harga tersebut, budidaya maggot dinilai memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikelola secara berkelanjutan.

Budidaya maggot sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga tidak harus berhenti pada aktivitas membuang limbah. Sampah organik dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai jual.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kegiatan ekonomi produktif. Kebersihan lingkungan pun dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pendapatan keluarga.

Kegiatan PbM ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta.(Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |