BI DIY: Inflasi Maret Berpotensi Naik Dipicu Permintaan Jelang Lebaran

7 hours ago 2

 Inflasi Maret Berpotensi Naik Dipicu Permintaan Jelang Lebaran Pertumbuhan ekonomi ilustrasi. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi DIY Maret 2026 diprediksi meningkat seiring lonjakan permintaan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Bank Indonesia (BI) DIY menilai kondisi ini sebagai pola musiman yang kerap terjadi setiap tahun.

Peningkatan inflasi saat hari besar keagamaan dinilai sebagai fenomena yang berulang, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia bahkan negara lain. Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) KPw BI DIY, Arya Jodilistyo, menyampaikan kenaikan inflasi saat momentum hari raya keagamaan merupakan fenomena yang umum terjadi. Menurutnya kenaikan inflasi juga terjadi di momen lain seperti libur sekolah, hingga libur akhir tahun.

Ia menjelaskan pola serupa juga terjadi di berbagai negara dengan karakteristik ekonomi tertentu, termasuk negara dengan mayoritas penduduk muslim yang mengalami tekanan inflasi saat Ramadan dan Lebaran. Jodi menjelaskan kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di DIY, namun di seluruh wilayah di Indonesia. Termasuk negara lain dengan karakteristik ekonomi tertentu, seperti negara dengan mayoritas penduduk muslim umumnya mengalami tekanan inflasi saat ramadan dan lebaran.

"Bahkan di negara-negara yang tidak mengalami puasa lebaran itu pun juga memiliki pola siklusnya sesuai dengan hari raya keagamaannya masing-masing," ujarnya.

Secara khusus di DIY, tekanan inflasi pada Maret 2026 diperkirakan meningkat karena bertepatan dengan beberapa momentum sekaligus. Dia menjelaskan, khusus di DIY, secara siklus juga akan mengalami tekanan di bulan Maret. Sebab jika dilihat polanya, biasanya puncak inflasi terjadi saat momen puasa dan lebaran.

Selain Ramadan dan Lebaran, faktor lain yang turut mendorong potensi inflasi adalah libur Nyepi yang berada dalam triwulan yang sama. Ia menjelaskan pada 2026 tekanan inflasi berpotensi lebih tinggi karena bertepatan dengan beberapa momentum sekaligus, termasuk libur Nyepi yang terjadi dalam triwulan yang sama.

"Bulan Maret ini relatif berpotensi, berpotensi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya di awal tahun 2026," jelasnya.

Meski demikian, secara tahunan tekanan inflasi diperkirakan tetap terkendali karena adanya efek basis rendah (low base effect) dari tahun sebelumnya. Menurutnya, meskipun inflasi berpotensi meningkat, secara tahunan kenaikan tersebut relatif tertahan karena adanya low base effect yang dipengaruhi faktor siklus tarif listrik pada tahun lalu.

Tekanan inflasi terutama diperkirakan berasal dari kelompok pangan, sementara komponen harga yang diatur pemerintah relatif terbantu oleh kebijakan diskon tarif. Lebih lanjut dia mengatakan, yang perlu diperhatikan adalah tekanan inflasi pada pangan. Sementara dari sisi administered price, terbantu dengan adanya diskon tarif melalui beberapa kebijakan pemerintah seperti diskon tarif untuk transportasi yang membantu menahan inflasi.

"Diskon tarif pesawat, diskon tarif dari kereta dan sebagainya bisa membantu kita menahan inflasi," ucapnya.

Dari sisi permintaan, peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan turut menjadi faktor utama pendorong inflasi pada Maret 2026. Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, menyampaikan pada Maret 2026 dari sisi permintaan memang cukup tinggi. Misalnya pengusaha yang membeli bahan baku untuk pembuatan kue.

"Jadi memang cukup menantang di bulan Maret ini sehingga inflasinya memang masih cukup tinggi gitu ya, karena ada tekanan dari permintaan masyarakat yang cukup tinggi," tuturnya.

Sebagai pembanding, Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% secara bulanan (mtm), dengan inflasi tahunan mencapai 4,91% dan inflasi tahun kalender sebesar 0,52%. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik DIY mencatat inflasi pada Februari 2026 sebesar 0,68% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi mencapai 4,91%, sedangkan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 0,52%. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |